Chapter 2

4 0 0
                                    

     Mulai hari ini, anak OSIS di sibukan dengan serangkaian acara utuk merayakan ulang tahun sekolah. Di mulai dengan acara syukuran, berbagai macam perlombaan untuk memeriahkan acara dan acara puncak yaitu live music yang mengundang band ternama Indonesia.

      “kali ini gues starnya siapa ya?” Tanya Teresa sambil memandangi ‘mading’ yang berisikan poster namun belum menunjukan siapa gues starnya.
      “mm penasaran gw juga” jawab Gyana sambil memakan macaroni dan memandangi madingnya.
      “ya Tanya aja Olive dia kan Osis” saran Maria.
      “oh ia bener”
Mereka langsung bergegas menemui Olive yang sedang berkumpul bersama teman teman osisnya.
      “liv, noh geng lo”. Olive langsung beranjak dan menemui teman temannya. Mereka sudah bersama sejak kelas 2 SMP, dan di satukan oleh extrakulikuler. Tak ada yang menyangka sampai sekarang mereka masih berteman baik-baik saja ya walaupun pernah berantem hebat karena kesalah pahaman namun mereka tetap bersama.
      “liv—” belum bertanya, omongan Laras terputus seolah olah Olive tau apa yang akan mereka tanyakan.
      “Gues Star nya siapa?:”
      “iiya.. iyaaa”
      “sini sini” Olive memberikan isyarat dan teman-temannya langsung mendekat.
Olive menarik nafas dan.. “nanti juga ada kandidat dan kalian ngevote dan tau deh siapa Gues star taun ini”  seketika wajah yang lain langsung berubah dan melemparkan tatapan sinis ke Olive.
     Olive hanya cengegesan.

     “ga asik lo liv”
     “yaaa rahasia dong”
     “yaudah deh kita balik ke kelas, lo dispen lagi?”
     “hmm gatau nih”
     “bye liv tugas numpuk loh”
     “ahahaha bodoamat!”

       Mereka langsung berjalan dan kembali ke kelas. Jam pelajaran terakhir adalah Matematika Peminatan, guru yang killer dan pelajarannya yang cukup rumit. Anak kelas di bagi menjadi 2 berdasarkan urutan absen. Bagian Gyana lebih dulu alias sesi 1. Ia tidak sendiri ia be rsama Laras dan Kina. Kertas soal dan lembaran jawaban di bagikan, jantung Gyana berdegup cukup kuat padahal ini hanya ulangan harian. Ia melirik ke arah Laras, dengan tatapannya Laras meyakinkan Gyana, begitu juga dengan Kina.

Malam hari sebelum ujian…

Gyana memutuskan untuk merebahkan dirinya di Kasur, menatap langit langit kamarnya. Tiba tiba saja ada video call dari grup.

Gurls Gang Incoming..

Dengan malas Gyana mengangkat telefonnya.

      “ada apa nih” Tanya Gyana.
      “kok ada apa? Besok kan ulhar matematika minat katanya mau belajar bareng?” Maria mengingatkan teman-temannya. Di grup ini Maria memang yang paling pintar dan juga berpotensi. Makanya ia berani mengambil studi ke German, dan selain itu dia juga anak orang berada. Walaupun begitu, Maria bukan lah tipe tipe anak ambis yang belajar gatau waktu sampe ngelupain kebahagiaan dan juga selalu tertekan. Maria cerdas, dan bisa membagi waktu antara belajar dan juga bermain. Ia juga tidak pelit ilmu dan selalu mengajarkan kepada teman temannya.

     “duhh Maria, tunggu satu jam, satu episode lagi” Kina yang bernegoisasi karena ia sedng asik asiknya menonton series Korea.
    “tapi semakin malem samakin ngantuk Kin” Teresa yang mulai khawatir.
    “hmm yaudah deh ayo mulai” dengan malas Kina beranjak ke meja belajarya.
Mereka memulai belajarnya dengan Maria yang menjadi tutornya.
   “Maria itu -1 nya dar mana sih?” Gyana tak paham kenapa itu terjadi.
   “kan itu di pindah ruasin” jawab Laras.
   “ohhhh ia yah, sorry geng gw lemot mtknya”
   “gapapa Gya nmanya juga belajar”

      Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar sampai paham, walaupun tidak semua paham.

***
      “huft, bismillah…” Gyana menarik nafasnya sambil meyakinkan dirinya bahwa ia bisa.
Selang 30 menit akhirnya ujian telah selesai. Gyana menyerahkan lembar jawaban dengan pasrah berharap ia pas kkm, minimal tidak di remedial.

Titik Paham, Untuk SembuhWhere stories live. Discover now