Di publikasikan pertama kali di wattpad selasa, 9 Nov 2021 sampai tamat.
·Mendung sudah ada di kbm app Aqiladyna.
·Mendung sudah bisa dibaca di Karyakarsa Aqiladyna.
·Pdf Mendung bisa hub wa +62 895‑2600‑4971.
·Mendung sudah ada ebook di playstore buku.
Happy Reading!
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Mendung menatap dirinya di pantulan cermin yang penuh dengan postur tubuhnya mengenakan baju putih abu-abu dengan rambut di kepang dua. Wajahnya tak menampakan kebahagiaan selalu muram saat pagi menyapa. Ya Mendung tidak suka saat berangkat sekolah bertemu dengan teman-teman sekolah, ah apakah ia pantas menyebut mereka para pembully itu adalah teman sekelas. Mendung pun tidak tahu, ia ingin sekali punya teman namun satupun di antara mereka tak pernah sudi berdekatan dengannya. Alasannya klise karena ia gemuk dan jelek dengan tinggi 158 dan berat badan 70 kg membuat tubuhnya sangatlah berisi.
"Mendung Aiza Azahra , mari sarapan Nak!" suara seruan seorang wanita telah memanggil Mendung, namun ia masih bertahan di kamar sempitnya tanpa berkenan keluar.
Klek! pintu terbuka Mendung menoleh mendapati ibunya yang berdiri menatapnya heran.
"Ibu pikir kamu tertidur lagi, mari sarapan nanti kamu telat berangkat sekolah." kata wanita itu bernama Rahma menatap lembut pada putrinya.
"Iya Bu." Mendung meraih tasnya di atas meja, melangkah keluar mengikuti ibunya yang berjalan menuju meja makan. Mendung menatap menu makanan yang sangat sederhana hanya ada nasi dan tempe tahu goreng sebagai lauknya.
"Duduklah makan yang banyak."
Mendung memejamkan matanya sejenak. Duduk di kursi menatap nanar makanan itu tanpa berselera.
"Ibu aku sedang diet, Ibu tidak melihat badanku sebengkak ini."
"Apa yang kamu katakan, ini hanya tempe dan tahu goreng. Jangan pikiran berat badanmu kamu masih muda Nak, masih masa pertumbuhan."
"Aku sudah 17 tahun Bu sudah remaja aku harus bisa jaga pola makanku atau aku tidak akan..."
"Tidak akan apa?" Rahma menatap heran. Mendung memilih merunduk enggan meneruskan ucapan.
"Apa kamu ingin punya kekasih? Kamu masih kecil, ingat Nak suatu saat pasti ada seseorang lelaki yang tulus mencintaimu. Kamu cantik kamu berisi tak ada seorang lelakipun berani menolakmu." kata Rahma memberikan piring berisi nasi dan lauk pada Mendung.
Mendung mengambilnya dengan malas, memilih diam, andai saja ibunya tahu bagaimana nasibnya di sekolah sangatlah menyedihkan jangankan kekasih, temanpun ia tak punya.
Mendung meringis selesai menghabiskan makanannya, ia melirik pada jam tangannya yang menunjukan pukul 7.10 menit, hampir saja ia terlambat yang segera berdiri meraih tas menghampiri ibunya yang sedang mencuci piring untuk berpamitan dengan beliau.
"Aku berangkat Bu."
"Hati hati Mendung!"
Bis yang tumpangi Mendung akhirnya sampai di pemberhentian. Mendung turun dan berlari menuju gedung sekolahnya. Nafasnya ngos-ngosan mengejar pintu gerbang sekolah yang hampir di tutup penjaga. Beruntunglah ia tidak terlambat.
Mendung berjalan tergopoh-gopoh menuju kelas yang ramai. Ia masuk merundukan kepalanya saat melewati mereka yang seakan menatapnya jijik. Duduk di barisan paling akhir tanpa berani buka suara atau menyapa yang lain.
Mendung melirik pada sosok lelaki yang baru datang menaruh tasnya dan duduk dengan santai. Senyumnya sedikit melengkung walau pagi ini begitu tidak menyenangkan baginya namun setitik kebahagiaan singgah saat ia melihat lelaki itu.
Namanya Langit Rakhan Alhanan, teman sekelasnya yang pembawaannya sangat dingin, dia siswa yang populer, selain tampan Langit juga sangat pintar memiliki daya tarik tersendiri untuk memikat siapapun.
Ya siapapun termasuk Mendung yang menyukai lelaki itu, namun perasaannya ini hanya bertepuk sebelah tangan. Ia tahu diri siapa dirinya. Bahkan ia dan Langit tidak pernah saling bicara.
"Hei gendut siapa kamu perhatikan?" Pukulan mendarat di belakang kepala Mendung, ia melirik pada tiga perempuan mengenakan seragam sekolah sama, mereka Hema, Risna dan Gebi. Cewek populer terkenal dengan kecantikan dan kekayaan orang tua mereka.
"Aku... Aku tidak memperhatikan apapun."
Tangan Hema menjambak rambut Mendung hingga kepalanya mendongak meringis kesakitan, Hema merunduk seraya berbisik di telinga Mendung.
"Aku tahu kamu memperhatikan kekasihku, matamu menuju pada Langit."
"Tidak."
"Pembual!" Hema mendorong kepala Mendung hampir membentur meja. Mendung melirik ke arah Langit yang sama sekali tak menatap ke arahnya, berbeda dengan siswa lainnya yang menatapnya sekalian mentertawakan dirinya.
Langkah sepatu mendekati ruang kelas, pelajaran sebentar lagi akan di mulai. Hema memberi kode pada kedua kawannya untuk bubar, sebelum guru masuk Hema berbisik lagi.
"Sebelum pulang temui aku di belakang sekolah." Hema menyeringai menepuk pipi Mendung.
"Kembali duduk di kursi kalian!" titah ibu guru saat memasuki ruang kelas dan mulai mengajar.
Rasanya waktu sangat lambat berputar, Mendung sendirian dalam kecemasan di tengah mereka. Mengikuti pelajaran tanpa bisa fokus hingga lonceng istirahat terdengar Mendung tak berani beranjak pergi karena ia takut di bully, memilih duduk sendirian saat para siswa lainnya ke kantin. Di dalam kelas rupanya Mendung tidak sendiri ia melirik pada Langit rupanya tak beranjak. Lelaki itu terlihat tertidur.
Dalam keadaan terlelap seperti itu sungguh lelaki itu sangatlah tampan. ya Tuhan berdosakah Mendung menganggumi lelaki ini. 'Andai saja dia menyukaiku.'
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.