Bolehkah aku mengenalmu?

30 1 0
                                        

      "Hi" ucap pesan singkat dalam sosial media. Lalu kujawab dengan "Nggeh?" (Iya dalam bahasa indonesia). "Boleh kenal" tanyanya kemudian, setelah itu kami mulai berkenalan 4 September hingga 6 september.

     Masih jarang berkabar akupun tidak ada berharap lebih dengannya hanya sekedar berteman. Oiya Raman namanya, jauh dari perkiraanku, ternyata dia alumni ma'had (pondok pesantren) suatu sekolah menengah atas di kota. Disini aku juga sudah menjelaskan bahwa aku bukanlah anak dari kelauarga yang berada, sehingga aku harus berjuang untuk berbisnis jualan online dan percetakan rumahan.

     Udara malam itu sangat dingin setelah sholat isya' aku langsung beranjak menuju kekasurku dan meraih selimutku, lalu aku buka handponeku untuk membalas pesan pesan dari customerku.

    Cting,... Suara handpone ku berbunyi ya kali ini bukan suara WhatsApp melainkan dari messenger. Seseorang yang ingin mengenalku pada 4 September dalam ke isengannya merasa sedikit cocok denganku (mungkin).

     Berpindah ke WhatsApp disini aku semakin dekat dengannya. Bisa ku sebut Sicuek dan si sibuk, dingin nggak banyak bicara itulah yang membuatku sedikit ingin lebih mengenalnya.

      Tik... tik... tik... jam berdetik 1 jam, 5 jam, 15 jam tak kunjung ada pesan masuk dari Raman hingga pada akhirnya pada 13 September aku memutuskan untuk menghapus semua obrolanku di WhatsApps dengan Raman.

     Setelah sholat isya seperti biasa aku duduk di depan laptop untuk mendesaign dan mengedit orderan- orderanku yang harus ku cetak esok harinya. Tiba tiba ada pesan masuk, kuraih handphoneku, kaget bukan main ternyta pesan itu dari Raman 19.01. "Baru buka hp dek 🙏" tulis pesan singkat yang kubaca tersebut. Sembilan menit kemudian ku balas "Kukira tidak akan di balas". Dari sinilah dia bercerita kegiatan dia pulang kerja jam berapa.

       Ada yang kami ributkan soal terkahir dilihat Raman, hingga pada akhirnya Raman menceletuk "Ga percaya berarti sama aku" Dengan tegas ku jawab "Belum"

     Hingga pada akhirnya aku mencari tahu tentang dia latar belakang pendidikan dia, dan ya aku kaget dengan apa yang ku baca seakan - akan tidak percaya bagaimana mungkin Raman bilang padaku dia bekerja sebagai kuli bangunan, tapi yang ku baca dia masih menempuh pendidikan STAI (sekolah tinggi agama islam). Dalam hatiku bertanya - tanya mengapa dia bilang bekerja sedangkan jelas - jelas dia masih mahasiswa aktif di salah satu universitas yang saat ini akan menempuh semester 6.

       Aku semakin di buat penasaran dengan laki - laki satu ini, alasan apa yang membuat dia tidak mengakui bahwa dia adalah mahasiswa? Apa dia takut kalau aku insecure, karena memang dari awal aku sudah menjelaskan bahwa aku buakanlah anak keluarga yang berada, sehingga setelah lulus sekolah menengah atas aku tidak melanjutkan studyku.

      Sore hari kutanya kan apa yang sudah ada dalam pikiranku, menebak nebak alasan mengapa soal study nya di sembunyikan dariku. Jawaban yang simpel "Ada kendala dikeuangannya aku, soalnya gaenak mau minta ke orangtua ". Pernyataan simpel yang membuatku semakin kagum, bagaimana tidak dengan secuil pernyataannya menunjukan kemandirian, tanggungjawab, dan juga menghargai.
 
      Dan dari sinilah aku merasa insecure merasa tidak pantas untuk dia yang mahasiswa, baik agamanya, pekerja keras, mandiri, dan dewasa. Sedangkan aku perempuan berumur 18 tahun yang baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas beberapa bulan yang lalu.

    Namun disisi lain Raman selalu menguatkan aku bahwa tidak boleh insecure (Qs At tin:4) “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

My ItWhere stories live. Discover now