Prolog

160 8 0
                                        

Adakah tempat paling teduh untuk merapal namamu yang telah hilang? 

Tuan! Hampir 5 tahun lamanya, saat saya semakin tenggelam dalam perasaan yang tertuju padamu. Saat saya semakin hanyut memintal rindu yang tidak pernah tersampaikan. Engkau pergi meninggalkan segala kenangan hanya untuk sebuah pembuktian identitas pada orang-orang di desa

Terutama pada ayah! Dia yang telah menjadikan engkau seperti musim yang dingin. Dia yang telah menjadikan engkau bara api yang tidak dapat dipadamkan. Setelah kejadian itu dirimu selebat hujan yang menghanyutkan rindu lalu menjadikan saya sebagai orang asing di tanah pusaka

Saya akui, kalimat-kalimat itu benar-benar telah membawamu sampai ke negeri orang lain. Tuan! Atas nama keluarga, saya sungguh ingin meminta maaf 

Awal kepergianmu, tiada hari yang paling indah selain memikirkan tuan yang entah kemana arah tujuan akan berlabuh

Saya hanya mampu berdiam diri di ruang yang hening. Membalut rindu yang sesak dalam kesepian dan menata hati yang rapuh saat melewati hari-hari yang sulit. Sebab melupakan segala kenangan kita saat menyaksikan pacuan kuda di tanah Gayo atau bersajak rindu di bukit malaka adalah perkara yang muskil untuk saya lakukan  

Teringat kala itu, saat kapal SS Jan Pieterzoen Coen telah meninggalkan pelabuhan, saya berpikir :

"Barangkali Tuhan mempertemukan kita hanya untuk sekedar singgah dan merindu, bukan untuk bersatu! Lantas mengapa mendung selalu membawa gerimis disetiap jumpa yang berujung patah sebab rapuh?"

Mengapa? Mengapa seakan-akan semesta tidak merestui kita? Mengapa takdir tidak mempersatukan kita? Atau Tuhan sengaja ingin memberitahukan kepada saya bahwa cinta tidak harus selalu bersatu? Bahwa cinta tidak harus selalu memiliki

Tapi, apakah tuan tahu? Saya tidak pernah bisa menghapus nama tuan dalam lembar-lembar diary ini. Entah saya yang tidak sadar diri atau tuan yang tidak pernah menyadari bahwa ada sesuatu di antara kita yang menjadi sekat agar tuan dan saya tidak saling mengerti. Agar tuan dan saya tidak saling memahami tentang perasaan yang menumpuk di dalam dada ini

Entahlah! Hanya waktu yang akan menjawab segalanya

Tahukah engkau tuan? Semenjak hari kepergianmu, menulis adalah salah satu cara menghibur jiwa yang sepi dari hari-hari yang saya lalui. Meski tuan tidak pernah merasakan hal yang sama tentang debar yang saya rasakan, tidak mengapa, mungkin karena saya tidak pernah berkata jujur di hadapan tuan tentang perasaan ini. Sebab mata saya kaku saat menatap mata yang berbinar itu. Sebab bibir ini kelu saat mendengar sajak-sajak indah yang tuan tuliskan. Sebab itulah saya ingin katakan dalam lembaran ini dengan sesungguh-sungguhnya, saya si gadis yang ayahnya begitu tuan benci, benar-benar sangat mencintaimu

Tuan, apakabar di sana?

Negeri di bawah angin
Dalam Novel Rajawali di tulis Kenzo & Zabir

Rajawali | Sang Perindu dari Selat MalakaLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora