______________________________________
Diggity
______________________________________
Suasana pagi cerah menyelimuti kampus Universitas Negeri Jakarta. Mahasiswa baru dan lama larut dalam tawa dan obrolan ringan yang menggema di udara, menandai semester baru yang menggoda harap. Di tengah riuh itu, Jiraina melangkah pelan, menyembunyikan gelisah di balik lengkung tipis senyumnya. Tatapannya lurus, tapi sulit dibaca—seolah ada yang mengendap dalam pikirannya.
Ketika melintasi lorong-lorong kelas; rasa tak nyaman perlahan menyusup, menciptakan geletar samar dalam dadanya. Ia terus melangkah melewati ruangan-ruangan penuh suara, namun justru terasa menekan: dadanya makin tak tenang saat menangkap sosok asing berdiri diam di gedung fakultas sebelah. Beberapa langkah berikutnya, dua sahabat perempuannya melambai dari kejauhan. Ia tersenyum tipis, lalu masuk ke dalam kelas yang mulai sesak.
Langkahnya sempat terhenti saat bayangan samar muncul di benaknya—siluet seseorang yang tak ia kenal tengah larut dalam adegan remang nan erotis. Jiraina buru-buru mengusir kilasan itu, menarik napas, lalu melangkah masuk dan menyapa sahabatnya.
"Tugas aman?" tanya Bianca, menatap wajah Jiraina yang hanya mengangguk singkat.
"Aman."
Semester baru semestinya membuka ruang harapan, tapi bagi Jiraina, harapan itu terselubung kecemasan yang terus mengendap. Ia berusaha menyusun ulang langkah—di antara luka masa lalu, tuntutan kuliah, usaha online yang mulai tumbuh, dan persahabatan yang menenangkannya. Namun, di balik rutinitas yang tampak biasa, hadir Linggar, mahasiswa teknik yang keberadaannya mulai mengusik sisi terdalam dirinya.
Linggar tidak hanya muncul sebagai warna baru, tapi juga membawa serta bayang-bayang yang belum sempat dirampungkan. Semester ini tak sekadar soal kelas dan tugas, tapi pergulatan batin, tarik-ulur emosi, dan rahasia yang siap mengguncang Jiraina lebih dalam dari yang ia kira.
Jiraina mengangkat tas besar yang sudah jadi ciri khas jurusan mereka. Sepasang mata hanya menatap diam, tak berniat membantu, sementara sepasang lain mengawasi dari kejauhan. Langit yang tadi cerah mulai meredup, tepat saat pesan Brisia masuk: ia batal membantu pengemasan pesanan online.
"Yah, terus ini gue gimana? Masa gitu sih, Bri." keluh Jiraina pelan. Brisia hanya meringis di ujung telepon, terdengar canggung.
"Gue gak ngerti deh sama cara mikirnya Brisia. Padahal kemarin udah janji, gak ada kabar bakal batal." ucap Bianca, memandangi punggung Brisia yang terburu pergi tanpa menoleh. Ucapan itu menggantung, sementara pikiran Jiraina melayang jauh entah ke mana.
Ia menarik napas panjang lalu kembali mengangkat tas penuh dagangan online. Langkahnya terasa berat, tak sadar dirinya tengah diamati seorang laki-laki dari kejauhan—bersandar santai di dinding gedung teknik. Jiraina menoleh, memastikan, lalu melangkah lagi perlahan.
Laki-laki itu tetap menatap. Ketika Jiraina tak sengaja menabrak pilar hingga barangnya berantakan, ia memberi isyarat pada temannya. "Ga, ke kantin yuk. Kalau ntar elu liat cewek yang barangnya jatuh, langsung bantuin ya," ucapnya datar, tanpa mengalihkan pandang.
"Lah, Gar. Kan elu tau gue gak ngantin hari ini!" sahut temannya, mencibir. Si laki-laki hanya mengacungkan dua lembar uang merah. "Oke siap meluncur ke TKP," jawab Diwangga santai, tanpa tanya.
_____________________________________
Continue....
_____________________________________
_____________________________________
Click ⭐ vote
commendnya 💬
_____________________________________
ESTÁS LEYENDO
Diggity: Before Dorgante
Misterio / SuspensoJiraina Sooraya Yuanita, seorang mahasiswi yang terjebak dalam rutinitas kehidupan yang terasa hampa, tanpa teman dekat namun selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memanfaatkan kelemahannya. Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan Linggar, seoran...
