"Bagas?!"
Manik kecoklatan itu seketika terbelalak, memastikan kembali apa yang tengah dirinya lihat. Tepat di depan selang 20 langkah Adinda melihat siluet orang yang begitu ia cintai bergandengan mesra dengan seorang wanita. Perempuan itu juga bergelayut posesif ditangan kiri Bagas. Detik berikutnya si pria juga tersentak kaget, seperti seorang pencuri yang tertangkap basah saat melakukan aksi. Dengan gerakan cepat ia mendekati wanita yang statusnya — tunangan.
"A-adinda."
Gadis bersurai sebahu itu berhenti. Kemudian Mengamati keduanya lamat-lamat. Bergantian antara Bagas dan gadis yang berada di sebelah sang kekasih.
"Coba jelasin ke aku, siapa perempuan ini?!" Adinda sengaja menekan kalimat sambil terus menatap perempuan itu.
"D-din ... kita kayaknya nggak bisa lagi untuk terus bersama. Kedua orang tuaku saat ini sudah tidak lagi merestui hubungan kita. Dan kebetulan kamu juga sekarang sudah melihat kejadian ini. Jadi, nggak perlu lagi aku berbohong untuk menutup-nutupi semuanya," kata Bagas the de poin tanpa perduli dengan perasaan Adinda.
Wajah Adinda seketika pias manik kecoklatannya seketika berembun. Perkataan Bagas barusan, seperti halilintar tanpa mendung. Pasalnya tanpa sebab pria itu memutuskan hubungan secara sepihak.
"Alasan hubungan kita berakhir itu karena apa? Bukannya selama ini kita nggak ada masalah apa-apa. Mendadak kamu bersikap aneh gini kenapa sih, Gas?" tanya Adinda keheranan, benaknya dipenuhi begitu banyak tanya.
Pria berperawakan tinggi itu menghela nafas."Sekarang kita itu sungguh berbeda Din, kamu sudah jatuh kan, semua aset keluargamu disita bank. Karena ulah ayahmu yang korupsi dan ya, karena itu juga yang menyebabkan ayahmu depresi, lalu memilih bunuh diri kan? Itu alasan kedua orang tuaku menolah kamu menjadi menantunya. Udah deh, yang jelas kita udah nggak bisa lagi untuk bersatu kaya dulu."
Bagas berlalu sambil mengandeng wanita tadi, tanpa memperdulikan gimana dengan perasaan Adinda? yang sebelum kejadian itu masih berstatus tunangannya.
"Lalu gimana denganmu Gas, apa hatimu juga sudah berubah, kemana waktu 7 tahun yang kita lewati bersama kemarin. Apa Semua itu nggak ada artinya?!"
Setelah sepuluh langkah Bagas berhenti dan berbalik. "Sudahlah Din, kalau sudah berakhir kamu mestinya terima kenyataan. Mengenai hati aku sama dengan kedua orang tuaku. Karena aku nggak mungkin durhaka, menikah tanpa restu orang tua. Satu lagi mulai saat ini jangan lagi berharap tentang hubungan kita. Semuanya sudah berakhir!" Kali ini Bagas benar-benar pergi tanpa menoleh sedikit pun untuk melihat seperti apa kondisi Adinda.
Terluka. Hati Adinda seperti dihunus belati tajam menggores cukup dalam. Bedanya tidak mengeluarkan darah, hanya meninggalkan rasa yang begitu perih. Ia tidak menduga, hari ini menjadi hari bersejarah karena Bagas secara mendadak mengakhiri hubungan mereka. Niat hati ke jembatan tersebut untuk mengurangi beban hati, ternyata malah membuat luka di hatinya kian menganga. Ya jembatan yang membentang kurang lebih 1 kilometer, itu menjadi ikon dari daerah Rumbai Jaya, Juga penghubung antar wilayah. memiliki ketinggian 17 meter dari permukaan air, dan saat sore seperti ini selalu banyak pengunjung dari berbagai daerah sekitar untuk berselfi atau menikmati saat sang Surya akan terbenam. Dari atas jembatan itu ia bisa menyaksikan ratusan hektar kebun kelapa, yang menghijau terhampar luas seolah tengah menyaksikan peta hijau wilayah sekitar.
Adinda melihat sosok pria yang begitu ia kagumi selama ini, bergerak semakin jauh dengan mobilnya. Dan hilang di balik jalan yang menurun.
"Kenapa dengan hidupku Tuhan? Ini hukuman atau ujian! Rasanya aku sudah tidak sanggup, satu-satunya tumpuan hidupku sudah Kau ambil juga. Saat ini aku telah kehilangan arah!" seru Adinda tidak perduli dengan pengunjung lain, yang mungin mengiranya aneh. Saat ini ia inginkan menumpakan segala beban yang tengah ia rasa.
Sandaran terakhir menurut Adinda setelah kematian sang ayah — Bagas. Nyatanya hidup, membuat posisi gadis berwajah oval itu kian sulit. Dan sang tunangan juga memilih mengakhiri hubungan setelah Adinda terjatuh miskin dan hidup sebatang kara.
Mungkin sebaiknya aku lebih baik segera menyusul ayah, daripada menanggung beban hidup yang lebih berat lagi.
Sejurus dengan air mata yang semakin deras luruh dari wajah Adinda. Bahkan air bening itu tumpah tanpa diminta. Di saat bersamaan Adinda sudah tidak mampu lagi membedakan mana baik dan buruk. Secara bersamaan ada sebuah mobil yang melaju kencang dari bawah dan Adinda secara spontan melarikan diri ke arah mobil tersebut.
Braaak!
ESTÁS LEYENDO
The Retur of a Heart
RomancePenghianatan memang sangat menyakitkan. hingga mematahkan hati dan butuh keberanian, lebih untuk merajut kisah Asmara kembali. Adinda begitu terpuruk saat mengetahui kalau Bagas sudah menghianatinya. dan kejadian, itu seolah mengambil paksa seluru...
