Seorang lelaki tengah mengayuh sepedanya dengan santai, orang - orang disekitar menyapanya dan dia balas menyapa sambil tersenyum dengan indahnya.
Namanya Lee Taeyong atau biasa di sapa Tylee, siapa yang tidak mengenalnya, orang - orang yang tinggal di lingkungan itu pasti mengenalnya. Lelaki berparas cantik itu sebutan yang tepat untuknya, siapapun pasti akan mengakui bahwa dia memang memiliki wajah yang cantik.
Perawakannya yang sedang, kulit yang putih, bibir mungil yang berwarna ke pink-pink an dan satu lagi yang menambah pesonanya adalah dia memiliki sepasang bola mata besar yang begitu indah, mata bulatnya yang begitu menggemaskan sehingga membuat semuanya nampak sempurna.
Dia tinggal bersama kedua orang tuanya, Tylee adalah seorang anak tunggal dia tidak memiliki saudara, sehingga dia begitu disayang dan dimanjakan orang tuanya. Namun hal itu tidak membuat Tylee menjadi anak manja yang selalu mengandalkan orang tuanya, dia selalu berusaha mendapatkan sesuatu yang dia mau dengan usahanya sendiri.
Dipagi yang cerah, terlihat Ibu Tylee sedang membuat sarapan sedangkan Tylee dan Ayahnya seperti biasa duduk diruang tamu sambil menonton tv.
"Lee, Papa... Ayo sarapan dulu." Ibu Tylee memanggil anak semata wayangnya.
"Ayo sarapan dulu nanti sambung nontonnya lagi."
"Iyaa Maa." Tylee dan Ayahnya menyahut secara bersamaan.
Mereka bertiga pun menikmati suasana pagi yang cerah dengan sarapan bersama, sambil bercanda ria layaknya keluarga yang harmonis.
•••
Ditempat lain disebuah kantor perusahaan, terlihat beberapa orang yang sedang berkumpul mengadakan sebuah rapat.
"Jadi, apa yang ingin CEO bilang?" Ucap lelaki berwajah tampan itu kepada bawahannya.
"Apa yang dia mau, kita harus melakukan apa?" Ujarnya lagi bertanya.
"Tolong jangan marah setelah saya bilang yang sebenarnya, ucap bawahannya yang tak lain adalah sahabatnya juga."
"Saya yang bertanya. Kenapa saya harus marah? Sahabatnya pun lalu mengatakan, kalau CEO ingin mereka meminta maaf secara pribadi kepada para klien."
Lelaki itu kelihatan berpikir sejenak, lalu kemudian mengatakan. "Oke, saya paham sekarang. Kalian semua pergi untuk menyiapkan hadiah untuk permintaan maaf besok. Lea, kamu pesan hadiahnya nanti. Yuta, kamu ikut pergi sama mereka besok."
Namun ada yang menyela perkataan pria itu, "Ta..ppii.. Paa..kk, CEO ingin anda langsung yang pergi kesana sendiri." Ucap bawahannya dengan nada sedikit takut.
"Saya..?"
"Kenapa saya harus melakukannya? Dengan wajah terlihat keheranan. Ini harusnya tanggung jawab dari Departemen Penjualan, mengapa Departemen Marketing yang harus pergi kesana? Ucap lelaki itu."
Bawahannya kemudian mengatakan, "CEO bilang.. Eksekutif dari bagian Departemen Penjualan sedang berada di luar negeri. Anda adalah ketua eksekutif dari Departemen Marketing, jadi anda yang menggantikan posisinya untuk saat ini."
Pria itu terlihat marah, dia memasang kancing jas yang dipakainya lalu berdiri kemudian melemparkan kertas yang berada diatas meja itu dengan kesal. Kertas - kertas itu berterbangan di udara kemudian jatuh kelantai. Dia pun bergegas pergi dari ruangan itu.
Jaehyun Rialka itu adalah namanya, dia memandangi wajahnya di depan cermin. Nampak terlihat jelas raut kekesalan diwajahnya. Dia menarik napas kemudian membenarkan dasi yang dipakainya.
Trrttt...trttt...trttt...
Getar bunyi telepon berdering, dia mengambil keluar handphone dari sakunya. Terlihat dilayar ponsel fotonya bersama seorang lelaki dan terpampang jelas emotikon hati, rupanya kekasihnya menelpon. Hp itu terus bergetar, Jaehyun seperti ragu untuk mengangkat panggilan itu, namun pada akhirnya diapun mengangkatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories {END}
Fiksi Penggemar"lo putus sama Jaehyun?" -Yuta "Nggak tau!" Ucap Jungwoo dengan wajah datar. "Loh kok bisa nggak tau?, dia pacarlu, berapa lama udah kalian pacaran dan lu bilang nggak tau?" parah lu. "NGGAK TAU, GUE EMANG NGGAK TAU!" Teriak Jungwoo dengan nada ting...
