Satu

24 3 6
                                        

Jika kau percaya cinta akan menyatukan apa yang harus disatukan
Maka percayalah jika cinta bisa menunjukkan jalan untukmu kembali pulang
Jika suatu saat tak sedikitpun ingatan yang mampu kau simpan tentang sosokku
Maka percayalah jika cinta akan menunjukkan sedikit kenangan akan hadirku yang pernah mengisi penuh relung jiwamu
Karena kasih, kita adalah satu
Yang tidak akan pernah terlepas

***
Luna
(The Lost Memory)
.
.
Happy Reading
.
.
DLDR
.
.

Sebuah pelukan hangat dari belakang mengalihka Luna dari seriusnya ia menyaksikan drama. Wanita itu menoleh dan tersenyum manis menyambut sosok yang kini menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahunya yang ringkih serta mencium harum aroma buah dan bayi yang melekat padanya.

"Jangan lihat drama menyedihkan itu lagi. Kamu nggak bosan?" Pria itu mengecup sayang pipi Luna sesaat setelah berhasil merebut remote tv dari tangan wanita itu dan menekan tombol off dengan cepat. Ia tidak mau wanita tercintanya itu melihat adegan tragis yang sama berulang kali, yang mana adegan terakhir dalam drama itu sungguh membuat Kai membenci jalan ceritanya.

Intinya, Aktor utama pria ditembak mati oleh saingan cintanya dan wanita yang sedang mengandung calon buah hatinya itu berhasil direbut oleh saingan cinta sang suami di masa lalu. Itu terlihat sangat bertentangan dalam hidup Kai yang mengusung motto hidup "Perfeksionis", dimana dia paling tidak menyukai setitikpun kesalahan dan kekalahan sekecil apapun. Kecuali Luna, apapun kesalahan yang dibuat Luna wanitanya, Kai dengan tangan terbuka dan hati yang lapang akan memaafkannya.

Katakanlah Kai Bucin, tapi memang itulah adanya. Bagi Kai, Luna adalah dunianya, kebahagiaannya dan sumber nafasnya. Meski Kai sadar jika ia bukanlah pria yang bersikap lembut dan hangat kepada setiap wanita. Namun terhadap Luna, dia akan mencurahkan segala perhatiannya, menunjukkan kepada dunia besar rasa cinta dan kasihnya untuk wanita itu.

"Malah melamun."

Suara lembut Luna berhasil menyadarkan Kai. Pria itu menaikkan sebelah alisya dan kemudian mengacak gemas rambut tunangannya.

Ya, Luna adalah tunangannya. Wanita yang ia ikat untuk menjadi pendamping hidupnya pada dua puluh satu April lalu.

"Sudah makan?"

Pri itu menggeleng dan tersenyum. "Masakkan sesuatu untukku, aku akan mandi dulu."

"Baik." Luna mengangguk. Wanita itu baru beranjak setelah Kai, calon suaminya itu mengecup keningnya lama.

Wanita itu mulai mengambil bahan dari dalam kulkas, Ada ; Sayuran, pasta, udang, pangsit beku, kerang, juga Telur. Dengan kening yang sedikit mengernyit akhirnya Luna memutuskan untuk mengambil pangsit beku, pasta dan udang. Namun dengan sedikit pertimbangan lagi ia akhirnya mengambil semua bahan dan meninggalkan pangsit beku. Ia akan memasak pasta dengan udang, dan juga sup kerang.

Masakan hampir jadi, namun Luna lupa jika ia kehabisan kaldu jamur. Wanita dua puluh tujuh tahun itu segera mematikan kompor. Ia melepas celemeknya dan keluar dari area dapur.

"Sayang aku ke supermarket sebentar ya."

Ketika ia mendengar suara Kai yang memberikan izinnya. Wanita itu segera bergegas. Ia mengganti sandalnya dan memakai jaket, lalu dengan terburu ia keluar dari apartemen.

Ketik ia sampai di lobi, ia menyapa petugas dengan senyum ramahnya. Lalu berjalan ke luar dan melihat pemandangan malam yang menenangkan.

Supermarket terletak seratus meter ke arah barat dari kawasan apartemen mewah tempat Luna bernaung. Wanita itu berjalan dengan gembira sembari bersenandung kecil.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 20, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Luna (The Lost Memory)Stories to obsess over. Discover now