Suatu hari, sekolah kami kedatangan murid perempuan baru. Aku tahu karena teman-temanku banyak yang membahas tentangnya. Si murid baru cantik, si murid baru manis, imut lucu dan sebagainya. Sebenarnya aku juga penasaran bagaimana rupanya, namun aku tak begitu percaya diri untuk menampakkan diri di depannya. Tidak, hanya mengintip saja aku juga tidak berani. Aku tak begitu tampan, bahkan termasuk dari golongan bawah untuk hal rupa. Banyak perempuan yang selalu menghindariku dan mengataiku di belakang.
Meski sudah diperlakukan seperti itu, aku tak kunjung untuk memperbaiki diri. Dalam pikiranku, meski aku nanti akan berubah mereka tetap mengejekku dan tak ada yang mau mendekatiku, meski menjadi teman.
Saat itu, jam pulang sekolah dipercepat. Teman-temanku yang lain segera berhamburan keluar sekolah. Aku mendengar beberapa percakapan dari mereka yang akan pergi ke karaoke, namun aku sama sekali tidak diajak.
Aku memutuskan pergi ke toserba untuk membeli beberapa camilan. Di sana aku tak sengaja bertemu dengan murid baru tersebut. Dia sepertinya sedang kesusahan untuk mengambil barang yang ada di rak paling atas. Aku ragu untuk mau menolongnya atau tidak, namun dengan sedikit keberanian aku menghampirinya.
"permisi, apa perlu bantuan?" tanyaku. Dia nampak terkejut.
"aah, iyaa.. apakah aku boleh minta tolong untuk ambilkan barang itu?" dia menunjuk sebuah pengharus ruangan di rak paling atas.
Tanpa berlama-lama aku langsung mengambilkan barang yang dia maksud dan memberikan barang tersebut kepadanya. Setelah itu aku segera pergi dari situ dan tidak jadi membeli camilan. Aku terlalu gugup dan takut akan responnya nanti kepadaku.
Keesokkannya saat di sekolah, aku benar-benar menghindarinya, jika lihat dia dari jauh maka aku akan berjalan memutar agar dia tidak melihatku. Selama menghindarinya, aku juga sering mengiriminya sebuah puisi dan meletekkannya ke dalam lokernya setiap hari. Aku membuatnya dari potongan-potongan majalah kemudian menyatukan kata demi kata agar tersusun puisi yang bagus untuknya.
Aku selalu melihatnya saat dia membuka loker, untuk memastikan bahwa dia membaca puisi yang selalu kubuat untuknya. senyumannya setelah membaca puisi dariku membuatku bahagia dan bersemangat untuk membuatnya lagi dan lagi.
Aku melakukannya selama 3 tahun lamanya. Hingga suatu hari setelah aku meletakkan puisi ke dalam lokernya dan bersembunyi di balik tembok. Dia tak pernah hadir untuk membukanya. Aku menunggu sampai jam pulang sekolah, namun, loker tersebut tetap tidak pernah dibuka olehnya. Esok haripun sama. Aku menunggunya namun, nihil. Dia tidak pernah ada, aku mencarinya ke penjuru sekolah tetapi tetap tak melihatnya. Hingga aku ke kelasnya pun dia tidak ada di sana.
Aku sungguh sedih. Ada apa sebenarnya dengan dia? Apakah dia sedang sakit, itu sebabnya dia tak kunjung masuk sekolah? Namun mau aku menunggunya sampai satu minggu atau dua minggu lamanya, dia tak pernah kelihatan di sekolah. Hingga hari kelulusan tiba, dia juga tidak pernah hadir di sekolah.
Sungguh menyesal diriku saat itu tidak pernah mengungkapkan bahwa akulah yang selama ini membuat puisi untuknya. Sekarang semuanya sudah terlambat dan aku tak pernah mengatakan semuanya secara langsung kepadanya.
