Pagi yang indah di Spinner's end, dua bola mata kecil masih tertutup rapat. Gadis kecil itu rupanya masih betah di dalam dunia mimpinya. Hari menujukan pukul 7 pagi lewat sedikit namun, langit sekarang lebih cerah dari biasanya, cahaya matahari seolah dengan ramah menembus ke dalam kamar yang memiliki dinding interior gelap itu, sehingga beberapa sudut yang berdebu akibat polusi dari luar menjadi semakin jelas terlihat.
Terdengar suara bising yang berasal dari lantai bawah. Mulai dari suara gucuran air hingga dentingan alat masak. Nampak seorang lelaki tegap yang sedang memainkan alat dapur untuk menyiapkan sarapan, ada cangkang telur yang sudah mendarat di tempat sampah tepat di bawah kompor dan piring yang berisi roti panggang kecoklatan— sepertinya lupa untuk diangkat sehingga agak sedikit gosong.
Beberapa saat kemudian, suara itu berhenti yang artinya sarapan sudah berhasil dihidangkan. Lelaki itu menggunakan pakaian serba hitam dengan kerah tinggi, menaiki tangga menuju ke lantai 2, dan berhenti untuk mengetuk pintu salah satu kamar yang di penuhi oleh stiker tempel, sambil Ia memanggil nama anak nya.
"Hedlyn! Wake up, breakfast is ready!" Ucap sang ayah tentunya dengan raut wajah datar dan suara rendah seperti biasa.
Dia menunggu selama beberapa detik, masih di depan pintu tapi, tetap tidak ada jawaban. Kesabaran seorang Severus Snape pun sudah berada di ujung tanduk. Dia dengan kasar membuka pintu dan melihat anaknya yang masih tertidur pulas. Hatinya mulai melunak dan dengan langkah yang agak di lembut- lembutkan, duduk di ujung tempat tidur kayu dengan empat kaki— persis di samping kaki anaknya.
Dia menatap dalam ke wajah kecil yang memiliki bentuk mata persis seperti miliknya. Muncul garis tipis di bibirnya— orang lain tidak bisa melihatnya tapi senyuman tipis itu benar-benar ada. Dia kemudian berdiri dan dengan satu gerakan cepat, tangan besar pucat nya menarik kerah piyama tidur berwarna pink milik anaknya, Hedlyn Dwyne Snape.
Hedlyn menggantung di udara seperti kucing yang di angkat oleh induknya dan tertawa cekikikan, meraung minta diturunkan oleh ayahnya yang kembali memasang ekspresi wajah yang datar.
"Daddy stop! Hahahaha, geli sekali! Aku mau turun saja, lepaskan!" Pinta Hedlyn yang masih tertawa tanpa henti.
"How dare you manipulate your own Daddy, pura-pura tidur, huh? Kalau kau ingin melakukan itu pastikan untuk tidak ketahuan, paham?" Severus perlahan menaruh Hedlyn ke lantai yang terbuat dari kayu dan sudah cukup berumur.
Hedlyn menunjuk ayahnya dengan telunjuk kecilnya yang bisa di bilang berisi untuk anak umur 5 tahun. Tentu saja hanya bisa menunjuk ke arah pinggang Severus karena perbedaan tinggi mereka yang kontras. "Kenapa kamu pintar sekali? Apa karena kamu orang tua, Daddy?" Hedlyn menatap Severus dengan mata yang polos.
Severus menghela nafasnya, dia sudah terlalu sering mendengar pernyataan ataupun pertanyaan random dari Hedlyn— termasuk yang memiliki unsur penghinaan, kalau ini adalah salah satu muridnya di Hogwarts pasti Ia sudah melemparkan buku tebal ke kepala anak itu, tidak peduli dengan rasa sakit yang harus di tanggung selama seminggu penuh.
"Tentu saja Daddy pintar, karena Daddy tidak suka makan cokelat berbentuk katak konyol yang bisanya hanya melompat hingga mengotori baju. Bukan kah Daddy sudah berulang kali mengajarimu tentang sopan santun saat bicara ke orang yang lebih tua? Ya, Daddy memang sudah tidak muda dan justru itu yang menjadi kelebihan Daddy karena bisa menyeretmu kapan pun Daddy mau." Jawab Severus dingin.
"Kelebihan apa? Kelebihan umur? Tapi Hedlyn suka! Kamu galak dan pemberani, aku mau di seret menggunakan sihir! Aku mau terbang, Daddy." Hedlyn berlari memutari badan Severus dan bergelantungan di kakinya. Jujur, Severus tidak suka dengan mode Hedlyn yang seperti ini karena menurutnya seperti anjing Golden Retriever—penuh energik dan menyebalkan di tambah tatanan bahasanya yang campur aduk kalau sedang bersemangat, walau sudah berulang kali di koreksi oleh Severus. Tentu menurutnya kekonyolan ini bukan turun dari dirinya.
"Kakimu tidak lumpuh, Hedlyn. Walk down by yourself or you choose to starve to death up here." Severus berbalik dengan dramatis setelah sebelumnya mendorong Heldyn menjauhi kakinya. Ia menutup pintu dengan cukup keras dan meninggalkan Hedlyn sendirian di kamar itu.
Tentu hal itu membuat Hedlyn kesal, wajah nya yang manis berubah menjadi cemberut, di tambah rambut panjang hitamnya— yang lagi-lagi serupa dengan Severus, mengembang berantakan karena baru bangun itu membuat dia seperti monster kecil yang bisa memakan apa saja di hadapannya. Kakinya sengaja dia hentakan saat menuruni setiap anak tangga.
"Jika rumah ini roboh karena hentakan kaki mu, aku benar-benar akan mengirim mu ke Hagrid untuk dijadikan umpan Aragog." Ancam Snape.
Hedlyn terkesiap, dia pernah bertemu dengan Aragog, sekali. Saat itu dia memecahkan beberapa ramuan penting milik Severus. Severus tidak marah, tapi tongkat sihirnya membawa Hedlyn melihat Aragog, laba-laba besar yang penuh air liur, seolah siap untuk menyantapnya. Kaki Aragog yang banyak merayap mendekati Hedlyn dan makhluk itu bisa berbicara "Daging segar!" setidaknya itu yang diingat, membuat Hedlyn menangis kencang karena ketakutan sampai tubuhnya bergetar hebat. Untungnya itu hanya gertakan dari Severus untuk mendidik Hedlyn. Sangat keras dan tidak manusiawi jika dilihat dari kacamata orangtua pada umumnya, masalahnya Severus Snape bukan orangtua pada umumnya. Tenang saja, itu bukan Aragog yang asli. Itu hanya rekayasa mantra, karena jika sungguhan Severus lah yang akan lebih dulu mati berdiri melihat Hedlyn menjadi makan malam Aragog.
Kembali ke masa kini, "Kenapa? Kenapa harus aku? Kenapa selalu aku?!" Hedlyn berteriak dramatis dan pura-pura terhuyung hingga mau pingsan tapi, matanya jelas mengintip reaksi Severus yang tentu saja tidak berubah.
Untuk kali kedua dalam hari ini, Severus kembali mengangkat kerah anaknya dan mendudukkan nya di kursi meja makan kayu tua yang tersedia roti panggang dan telur mata sapi. Cukup lezat, sampai akhirnya terlihat roti yang memiliki banyak bagian gosong berada di piring seberang, tepat di hadapan Severus. Hedlyn dengan cemberut mulai menyantap sarapannya, membuat suasana begitu hening. Biasanya Hedlyn punya seribu satu kata yang akan keluar entah tentang pertanyaan yang menurut Severus konyol atau tentang mantra yang tidak sengaja Ia baca di rak buku sang ayah, dan Severus hanya akan menanggapi dengan satu atau dua kata.
Setelah drama meja makan berakhir, Severus duduk di sofa dan Hedlyn ada di bawahnya sedang duduk di lantai memegang boneka kelinci berwarna putih yang kerap dia panggil Marshy karena seperti marshmallow, Severus sangat anti menyebut nama itu. Severus memegang sisir hitam terbuat dari kayu dan mulai menyisir rambut anaknya dengan lembut, sangat berbeda dengan saat dia mengajar— yang akan terus mendorong kepala murid-muridnya dengan kasar.
"Daddy, kata Marshy aku sangat cantik." Suara lembut Hedlyn memecah keheningan di antara mereka sambil juga seolah-olah menyisir Marshy.
"Kelinci itu tidak bisa bicara, Hedlyn. Dia hanya seonggok kapas, tapi kalau ada yang bilang kamu sangat cantik, it always be me." Jawab Severus, mulai mengepang rambut anaknya.
"Tapi, Mommy juga sering bilang begitu! Not only you, Daddy." Hedlyn berpaling dan menatap Severus dengan kilat mata protes.
"Tentu saja dia akan bilang begitu, wajah kalian sama persis kecuali matamu." Sahut Severus yang sudah selesai membuat kepangan yang rapi.
"Tapi, aku suka mata ini, Daddy! Because it looks very fierce."
"No, if it's you. You look like a flower." Ucap Severus sambil mengelus pelan rambut Hedlyn.
.
Bersambung...
Jangan lupa vote dan komen! Terimakasih!
KAMU SEDANG MEMBACA
Things You Will Never Know
FanfictionSetiap manusia pasti memiliki ruang untuk menyimpan rahasia dalam hidup mereka, entah dia seorang muggle atau penyihir hebat sekalipun. Tidak terkecuali, Severus Snape. Severus harus menutupi keberadaan seorang makhluk kecil yang memiliki rambut sam...
