1

7 1 0
                                        

Menyandang status pengangguran yang tidak pernah mendapatkan penghasilan sepeserpun dari pekerjaannya sekalu tukang rebahan, Luna akhirnya memutuskan untuk mencari hobi baru yang bisa menghasilkan cuan.

Cuan saat ini telah menjadi patokan setinggi dan sesukses apa kehidupan seseorang, apalagi jika pekerjaan yang dimilikinya menjanjikan. Seperti Luna, setiap kali ada acara keluarga pasti dirinyalah yang selalu terpojokkan. Di bandingkan dengan saudara sepupunya yang lain, hanya Luna yang masih menjadi pengangguran, padahal umurnya sudah tidak lagi muda.

Sebenarnya Luna bukan tidak ingin bekerja, hanya saja ia belum  menemukan passion yang cocok untuk dirinya. Luna tidak mau jika harus kerja banting tulang berangkat pagi pulang pagi. Walapun gajinya gede tapi kerjanya tidak bisa di nikmati yaa capek sendiri nantinya. Udahmah capek lahir, di tambah capek batin. Haduhhh... ngga bisa ngebayangin bakal seruwet apa hidupnya.

Maka dari itu, selagi otaknya masih sehat dan tubuhnya masih kuat, Luna mulai membiasakan diri dengan hobi barunya ini. Tidak bisa di sebut baru juga sih, soalnya kegiatan ini sudah mendarah daging sedari Luna basih bayi.

"Maaa... liat Stylus pen punya Luna ngga?"

Luna masih memutar dan menggeledah seisi rumah demi mencari pen tab kesayangannya.

Yap!... Bener banget. Hobi Luna saat ini adalah menggambar.

Luna emang ajaib banget anaknya. Seluruh keluarganya mulai dari Mama, Papa dan adiknya sama sekali tidak ada yang bisa menggambar. Tapi Luna bisa bahkan jago sekali loh. Apalagi sekarang sudah banyak banget yang memakai jasa Art-nya Luna.

Meskipun tidak banyak, tapi setidaknya ada lah dua sampai tiga orang yang memakai jasa Luna dalam satu bulannya. Dan itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan Scincare, kuota dan jajan bulanan Luna. Kalo makan? Ya minta lah dari orang tua :D

"Dek, hape mu bunyi terus tuh."

Mama menghampiri Luna yang masih berkutat menyibakkan bantal, guling dan semua printilan yang ada di atas kasur untuk mencari keberadaan pulpen tabletnya.

"Bentar Ma, pen aku belum ketemu."

Tanpa persetujuan sang anak, Mama memutuskan untuk menjawab panggilan dari hape Luna. Bukan apa-apa,  soalnya nada dering yang Mama yakini adalah lagu Opa-opa itu sangat berisik dan mengganggu kenyamanan seisi rumah.

"Oohh Sandi... Iya ada kok, bentar ya Mama panggilin dulu Luna nya."

Deg!

Luna yang mendengar mamanya bicara langsung memberhentikan kegiatannya. Apa tadi? Sandi?

"Nih temen mu," kata mama sembari menyerahkan hape tidak canggih milik Luna.

"Makasih, Ma." Jawab Luna, lalu setelah itu mama pergi meninggalkan Luna dengan sejuta kecanggungan.

"H-halo..."

"..."

"Ah... Iya bisa kok, dimana?"

"..."

"Banyakan, nggak? Ntar gue nyusul deh. Ini mau siap-siap dulu."

"..."

"Oke!"

Setelah itu panggilan selesai, dan Luna langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur.

"Anjir!"










Setelah mendapat panggilan tak terduga, Luna langsung mempersiapkan diri untuk pergi bersama temannya tadi udalam rangka Reuni tak terduga. Sebel sih, tapi mengingat jarang sekali ia berkumpul dengan teman masa Smp-nya, apalagi sekarang sudah sama-sama sibuk, jadi mau tidak mau Luna harus ikut bersama mereka.

Walaupun sudah tau akhirnya bakal seperti apa, Luna tetap ingin pergi, terlebih jika ada ekhemmmm yang hadir di sana.

Sandi... Atau Sandika, pria yang sudah lima tahun tidak ia temui itu akhirnya sekarang bertatap jua.

Tidak ada satu orangpun yang tau jika Luna sangat merindukan pria itu, bahkan teman dekatnya sekalipun. Luna juga tidak pernah menunjukkan ketertarikannya kepada pria itu. jadi, yang mengetahui isi hatinya saat ini hanya Luna dan tuhan yang tahu.

Sebenarnya, Luna adalah tipe orang yang blak-blakkan. Kalo suka, dia bilang suka. Tapi kalo pada Dika (panggilan Luna padanya) sepertinya tidak harus. Luna takut, takut jika salah satu dari mereka akan merasa canggung, dan akhirnya pergi.

"Sekarang lo ngaku deh, dulu kalian pernah pacaran, kan?"

'Uhuk!'

Pertanyaan teman-temannya seketika membuat Luna tersedak kuah Soto.

"Siapa? Gue sama Raya?" Tanya Luna memastikan.

"Iya... Waktu itu lo yang bilang." Jawab temannya lagi, sebut saja Mila.

"Gue nggak pernah bilang gitu deh. Lagian kita juga sepupuan, masa iya pacaran. Bener nggak, Ray?" Tanya Luna pada Raya yang berada di debelah Dika. Sesekali ia melirik kearah pria mancung itu lalu kembali kepada kuah Soto yang sempat ia anggurkan.

"Terus waktu itu kalian foto bareng apaan dong? Mana nempel banget."

Bener kan! Gini nih kalo Luna ikut Reuni. Pasti ia yang paling di pojokan. Mereka nggak pernah lelah untuk berbicara sampai Luna berkata...

"Terserah deh...." Gumamnya, kemudian Luna kembali menyantap makanannya dengan sedikit kesal.

"Udah pada selesai kan? Ayo kita foto!" Mila bergegas mengeluarkan ponsel miliknya kemudian memotret kami dengan Luna yang masih sibuk menyantap makanan miliknya.

"Luna udahan dulu kek, kita foto dulu" ajaknya. Jujur Luna agak sedikit males, apalagi sekarang mereka malah pergi ke bagian atas Cafe yang memang menyediakan tempat khusus berfoto. Tapi ya gimana... Makanan Luna masih banyak banget.

Dengan terpaksa ia pergi meninggalkan mejanya dan menyusul teman-temannya.

"Ayok!" Seru Dika ketika dirinya hendak menaiki tangga pertama. Sedangkan Dika sudah berada di tangga paling atas. Dan entah ada sihir dari mana, seketika Luna menjadi lebih semangat. Bahkan ia sempat tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Dika sebelum akhirnya lari untuk menaiki tangga.

Sebesar itukah pengaruh seorang Sandika Wijaya bagi Alfyansha Lunawa

Sebesar itukah pengaruh seorang Sandika Wijaya bagi Alfyansha Lunawa ♡

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Visualisasi Cast :

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Sandika Wijaya as Leeknow Skz

Alfyansha Lunawa as You






Nb : Cast bisa kalian Visualisasikan sesuai dengan keinginan kalian.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 30, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

LUNAWA Where stories live. Discover now