Kedatangan siswa baru menghebohkan satu angkatan. Jhovan Aart Berend namanya. Dari namanya sudah mencerminkan bahwa ia bukanlah darah Indonesia tulen. Alias struktur wajahnya yang berbeda dari kebanyakan membuat kita tahu ia darah blasteran.
"Belanda dia" Ujar Nabiel di depan pintu di jam istirahat siang tadi.
Darnea ikut berdempetan diantara kerumunan siswa lainnya yang juga penasaran dengan Jhovan. Tampan.
Benar-benar tidak nyata dilihat. Manik mata yang berwarna amber amat mencolok jika dilihat. Darneya terpukau takjub. Diikuti Fitri yang ada di sampingnya.
"Gilaa, baru kali ini gue satu sekolah ama anak blasteran unreal kayak gitu"
"Ganteng banget heran" Tambah Darneya.
Nabiel merotasikan matanya "Namanya juga blasteran.. tapi masih gantengan gue sih"
Renjana adik Nabiel yang juga tidak tau dari mana ternyata ada disana menyentil jidat kakaknya "Istipar bang"
"Duh apa lagi siihh, emang bener juga" Nabiel mengeluh seraya mengusap-usap jidatnya yang terasa nyeri, sakit juga ternyata disentil dia. Sepertinya pakai dendam.
"Kok lo disini? Ga belajar lo?"
"Enggak beda sekolah kita"
"Punya adek kok tolol palpalel palpalee" Nabiel berjoget kecil memukul-mukul lengan Renjana dengan muka yang dibuat-buat meledek.
"Apasih ga jelas kan jam istirahat, gue juga kepo kali mau liat juga" Sinis cowok kurang setahun dari Nabiel.
"Haaa norak tau ga, kayak ga pernah liat bule aja kalian"
"Emang"
"Dih sewot"
"Iri bilang babi palpale palpalee" Balas Renjana dengan gerakan dan nada bicara yang sama.
Berdebatan kecil Nabiel dan Renjana berlanjut. Fitri menghela capek dengan kelakuan persaudaraan yang tidak baik.
"Duh berisik banget deh, tuh di lapangan sana debatnya jangan disini bikin sempit" Akhirnya Fitri menegur, Nabiel menoleh tidak terima.
"Gamau, kan kelas gue disini elo aja hust hust!" Gesture tangan Nabiel seolah mengusir mereka. Fitri mendengus kesal lalu tak lama kemudian menyeret Darneya yang masih menempel di jendela kelas.
"Ayo Neya, kita ke kantin aja ada yang ga suka ama lo"
"Hah? siapa?"
"HEE WOII KECUALI NEYAA ELONYA AJA YANG PERGI!"
"Apa sih Fit, gue masih mau di-"
"TUH KAN NEYAA AJA MASIH MAU DISI-"
"masih mau liatin Jhovan"
"HEEEE KENAPA DIA? HARUSNYA GUE AJA?!"
"Kenapa harus lo? Kan gue naksirnya Jhovan"
"SECEPAT ITU?!
"Iya, salah?"
Kedua kaki laki-laki berinisial N itu sepertinya mau menjadi agar-agar saja. Ia berdiri lunglai seusai mendengar pernyataan gadis yang disukainya, dikasihinya, dicintainya mengatakan hal yang benar-benar tidak baik untuk perasaanya.
Benar-benar tidak baik, adakah Paracetamol?
"Parah, segitu ngefeknya lo bilang gitu ke dia ye?" Sahut Fitri sembari terkekeh-kekeh.
"Lah? Berarti bohong ya?" Sepercik cahaya berseri-seri muncul sekilas di wajah Nabiel.
Darneya menggeleng cepat "Engga, ini beneran tau"
YOU ARE READING
skygge
Teen FictionCerita tentang usaha pemuda bodoh, Nabiel. Mengharapkan hal yang tidak mungkin akan hadir di realita. Walaupun mimpinya terus membuat ia dan dirinya bersama.
