"Aku lagi di supermarket dekat rumah, lupa beli shampo hehe," kata Jeane melalui sambungan telepon.
"Yaudah cepat pulang, disana kan sepi. Ngga kaya disini ramai terus," balas seseorang di sambungan telepon.
"Fi kamu kapan pulang sih?" Ucap Jeane sambil berjalan.
"Nantilah. Baru juga tiga hari aku disini," sahut Fifi.
"Yakan aku kangen, jangan lama-lama di Indonesianya ah," protes Jeane.
"Najis," respon Fifi.
"Eh Fi ada yang berantem di jalanan ke rumah. Aku takut mau lewatnya."
"Kamu diem du--"
"Fi ini ngga berantem, tapi ada yang dipukulin. Aku harus nolongin orang yang dipukulin Fi, udah ya nanti aku telepon lagi."
"Jangan ih bahaya, ka--" Fifi sadar kalau Jeane sudah memutus sambungan teleponnya sepihak.
Jeane gelisah memikirkan bagaimana caranya menolong orang yang sedang dipukuli. "Ah shit, kenapa sih Korea sepi banget kalau malem-malem."
Tiba-tiba sebuah ide terpikirkan di otaknya. Ia menyetel suara sirine polisi dari internet dan perlahan membesarkan volumenya seolah-olah ada polisi yang datang. Untung saja tidak ada iklan saat ia menyetel suara sirine itu.
Rencananya pun berhasil dan hanya tersisa orang yang dipukuli disana. Jeane menghampiri orang itu, "Gwaenchana?"
Orang itu malah tertawa. Dari suara tawanya dapat dipastikan kalau itu laki-laki. "Sial gue nolongin orang yang salah," umpat Jeane.
Jeane sudah ingin berlari meninggalkan laki-laki itu sendiri. Tetapi tiba-tiba lelaki itu menahan tangan Jeane, "Berikan aku makan."
Ada ya orang habis dipukulin minta makan? Aelah gue takut banget, batin Jeane.
Jeane menolehkan kepalanya, melihat lelaki yang mengenakan hoodie hitam dengan tudung. Lelaki itu menunduk, masih memegangi tangan Jeane. Tangan lelaki itu gemetaran. Tiba-tiba saja ada yang menetes di tangan Jeane. Gadis itu menoleh ke langit, "Ngga hujan?"
Jeane mengambil ponselnya dan menyalakan senter, "Kamu berdarah?"
Dengan sigap Jeane membuka tudung lelaki itu tanpa mempedulikan rasa takutnya, tidak peduli lelaki di hadapannya ini jahat atau tidak. Namun saat tudung lelaki itu berhasil terbuka sepenuhnya, "J-Jeon Jungkook?"
Jeane terpaku di tempatnya. Ia berpikir kalau ini semua adalah mimpi. Namun dengan cepat ia tersadar kembali karena mendengar gerombolan yang tadi memukuli Jungkook menuju ke arah mereka lagi.
Jeane menggenggam tangan Jungkook dan mengajak Jungkook berlari. Untung saja lelaki itu masih kuat berlari. Jika tidak, tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang.
Setelah sampai di rumah, dengan cepat Jeane menekan password rumahnya dan mengajak Jungkook masuk.
Jungkook langsung duduk di sofa dan mengoceh-ngoceh tidak jelas. Dapat dipastikan dia sedang mabuk. Jeane langsung memberikan obat untuk menghentikan mimisan Jungkook.
"Aku mau muntah," kata Jungkook setelah mengoceh-ngoceh selama 15 menit.
"Ah iya sebentar jangan muntah disiniiii."
Ya ampun kamar mandi tamu airnya mati, kamar mandi Fifi kerannya rusak. Masa ke kamar aku sih, batin Jeane.
"Huuuee--"
Sebelum Jungkook muntah, Jeane menutup mulutnya dan memapah Jungkook ke kamar mandi di kamarnya. Setelah muntah, Jungkook langsung tertidur di kasur Jeane.
"Untung gue sayang sama lo Kook," ucap Jeane sambil memperhatikan Jungkook.
Jeane melihat ponselnya dan membelalakan matanya.
30 MISSCALL FROM FII🦋
Ponselnya kembali berdering dan Jeane segera menerima panggilan tersebut, "Ape?"
"Dari mana aja sih? Lo ngga diapa-apain kan? Kalau lo kenapa-kenapa bilang gue biar gue pesan tiket pesawat sekarang. Anj*ng lo mati ya?" Oceh Fifi.
"Iya udah meninggal biarin aja ntar gue gentayangin," jawab Jeane dengan santainya.
"Serius ah kesel banget gue sama lo."
"Ya gapapalah bodoh, kalau kenapa-kenapa pasti ngga bakal angkat telepon lo, ngga bakal sesantai ini," Jeane menghela napasnya.
"Iya juga," Fifi cengengesan.
"Udah ah aku mau tidur nih, jangan lupa kerjain tugas kelompok yang bagian kamu loh Fi."
"Iya bawel. Ihh hati-hati loh nanti tidurnya ada yang nemenin, kan kamu sendirian hiiii," goda Fifi.
"Iya nih emang ada yang nemenin," ucap Jeane datar-datar saja.
"Dih bohong banget," Fifi tidak percaya.
"Lah betul."
"SIAPA?" Fifi meninggikan nada bicaranya.
"Jungkook," kata Jeane santai.
"Yeehh halu mulu lo," tawa Fifi meledek.
"TERSERAH DEH NYONYA," Jeane memutus sambungan telepon sepihak.
"Gue udah ngasih tau kebenarannya tapi dia ngga percaya. Ah gara-gara kebanyakan halu nih kita. Tapi bagus deh dia ngga percaya, gue takut cepu aje tuh cabe-cabean," Jeane berbicara sendiri kemudian pergi tidur.
YOU ARE READING
BETWEEN US
FanfictionIni kisahku bersama sahabatku. Dan aku tidak akan memberitahunya disini!! :D
