PROLOG

62 3 0
                                        

Hembusan angin malam terasa begitu menusuk ditemani gelapnya langit yang tak seperti biasanya. Tidak ada cahaya bulan yang ditemani ribuan bintang. Begitupun rintikan air hujan yang tak begitu deras membasahi seluruh daratan ibukota.

Tepat pada saat itu, seorang anak laki-laki berumur delapan tahun sedang berada di sebuah rooftop salah satu gedung terbengkalai. Dia berjalan mendekat ke bibir gedung yang tak terdapat pagar pembatas sama sekali. Anak laki-laki itu berdiri dengan perasaan yang hancur.

Terlihat buliran air mata menetes dari kedua matanya. Dia memandangi ribuan bangunan menjulang tinggi di depannya dengan tatapan kosong. Anak itu adalah Algeovan.

Algeovan menunduk, merasakan betapa sakit dan perih hatinya. Seperti terkoyak dan ditusuk jarum bertubi-tubi. Dia kehilangan harapannya untuk tetap bertahan dengan kehidupan yang membuatnya begitu muak. Beberapa luka di bagian tubuhnya seakan menjadi bukti bahwa dia benar-benar terluka, tidak hanya hati.

"Hikss.. "

"Sakit."

"Hati Geo sakit." Lirihnya sembari meremas dada dengan bahu yang bergetar.

"Geo mau mati aja!" Tangisannya semakin menjadi. Algeova menatap langit dan merentangkan tangannya, seolah sudah siap untuk mengakhiri hidupnya.
Dia tidak menolak untuk menjatuhkan dirinya dari atas sana, bahkan dia sangat ingin melakukannya. Karena dia tidak cukup kuat dengan kehidupan yang dia alami. Algeovan berkata pada tuhannya kalau dia menyerah.

Algeovan sudah bersiap dalam tiga hitungan.

"Satu."

"Dua."

"Tig--"

"Hey!!!"

Brughh!

Algeovan terjatuh ke dasar rooftop bersamaan dengan seorang gadis kecil seusianya. Entah datang dari mana, tiba-tiba saja gadis itu menarik Algeovan ketika dia hampir saja ingin menjatuhkan diri.

"Awh!" Pekik gadis itu memegangi punggungnya yang kesakitan.

"Kamu siapa?!"

"Kenapa kamu disini?!!" Hujan yang semakin deras membuat Algeovan harus berteriak dengan suaranya yang serak.

"Aku mau tolongin kamu." Jawab gadis itu dengan wajahnya yang begitu lugu.

Algeovan menggeleng, kemudian dia berdiri dan berniat kembali pada posisi sebelumnya. Tanpa memperdulikan gadis di belakangnya yang tengah berusaha mengusap air hujan yang menghalangi pandangannya.

"Aku mau nyusul mama." Ucapnya membuat gadis itu merasa iba dan sakit secara bersamaan.

Gadis kecil dengan memakai kalung di lehernya itu, berdiri dengan tegap dan meluruskan pandangannya pada bahu rapuh milik Algeovan. "Tapi kamu masih harus sekolah." Katanya dengan penuh yakin.

Algeovan menoleh ke kiri menatap gadis di belakangnya melalui sudut mata. Dia tersenyum kecut dan berkata, "Kamu gak akan paham."

"Aku paham kok. Mamaku juga di surga, dia juga ninggalin aku." Ucap Gadis itu. Algeovan yang mendengarnya hanya bisa terdiam sembari menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.

"Tapi aku punya tujuan hidup. Ayah, dan saudara kembarku." Sambungnya.

Algeovan terkekeh, "Aku udah gak punya tujuan hidup."

"Mimpimu?" Tanya Gadis itu.

"Aku gak punya mimpi."

"Kalo gitu, keluarga kamu."

"Aku gak punya keluarga!" Bantah Algeovan dengan tangan yang mengepal kuat, mengingat tentang keluarga membuatnya benci pada kehidupan.

"Pasti ada orang yang mau, jadi tujuan hidup kamu." Ujar gadis itu.

"Gak ada."

"Ada!"

"Siapa?!"

"Aku."

Algeovan tenggelam dalam pikirannya, dia tak percaya. Disaat orang-orang membuangnya bak sampah tak terpakai, dia menemukan seseorang yang bahkan belum pernah kenal satu sama lain. Yang mau menjadi tujuan hidupnya, yang meyakinkannya bahwa hidupnya masih pantas untuk dipertahankan.

Tiba-tiba saja, jantung Algeovan berdetak tak karuan. Merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan selama hidupnya. Kemudian Algeovan membalikan tubuhnya menghadap sang gadis.

Perlahan kedua sudut bibirnya menyungging, yang lama-kelamaan menjadi sebuah senyuman yang sangat manis. Yang mungkin jarang dia tunjukkan kepada siapapun. Sama halnya dengan gadis kecil di hadapannya, yang tersenyum hangat dengan tatapan yang berbinar seolah disitulah kebahagiaan Algeovan berada.

Dengan sejuta ketulusan, gadis itu memeluk tubuh Algeovan yang bergetar kedinginan. Algeovan membalas pelukan tersebut, keduanya saling menghangatkan.

"Kamu."

"Tujuan hidup aku."

________________________________________________________________________________________________________________________

Salam hangat

_We3

Sumedang, 31 Juli 2021

ALGEOVAN Stories to obsess over. Discover now