"Mau sampai kapan kita harus bersembunyi seperti ini, Sayang? Aku benar-benar sudah muak dengan pernikahan bohongan ini."
"Kau harus bersabar, sebentar lagi. Setelah aku puas melihat air mata wanita itu maka kita bisa mengakhirinya."
"Kau benar-benar kejam, Sayang. Tapi aku menyukai hal itu."
Kedua orang tersebut melanjutkan aktivitas selayaknya suami-istri namun tidak dalam hubungan yang sah. Bahkan, waktu dan tempat seperti di sengaja. Ya, keduanya melakukan zina di rumah sang pria yang notabennya nyonya rumah bisa sewaktu-waktu dapat melihat perbuatan keduanya.
Benar saja, nyonya rumah memang sedang melihat hal memalukan dan menjijikan itu. Air katanya sudah membasahi pipinya, jika di tanya bersuara. Maka jawabannya tidak, sudah sering kali menangis dalam diam hingga ia lupa bagaimana caranya menangis bersuara.
Sungguh, hati wanita mana yang sanggup melihat perbuatan menjijikan yang dilakukan lakukan suami dan saudari tirinya. Lebih menyedihkan lagi, pernikahan yang ia anggap sebagai pelabuhan terakhir ternyata rencana jahat saudari tirinya. Entah dosa apa yang sudah ia perbuat sehingga harus mengalami hal semacam ini.
Setelah menikah, bukannya menjalani hari bahagia. Air mata pertama di malam pengantin sudah membasahi kedua pipinya, penolakan sang suami, di jauhi oleh pria yang berjanji akan menjaga dan menemaninya hingga mau memisahkan malah memberikan tatapan benci.
Tidak ada bulan madu, ia seperti wanita tanpa suami. Dan penderitaannya semakin menebal ketika saudari tirinya masuk ke rumah mereka. Tanpa meminta izin padanya, sang suami mengizinkan wanita itu tinggal di rumah dan lihatlah apa yang terjadi sekarang. Mereka melakukan perzinahan, bahkan sebelum pria itu menyentuhnya.
"Apa salah ku hingga kalian sejahat ini pada ku." Tidak tahan lagi, ia memutuskan meminta penjelasan. Bahkan tidak peduli dengan tubuh polos kedua orang tersebut.
Si pria dan wanita terkejut, namun hanya sebatas itu karena tidak ada tanda-tanda penyesalan di wajah keduanya.
"Oh, akhirnya kita ketahuan, Sayang. Tapi ini bagus, jadi aku bisa sepuasnya melihat wajah menyedihkan saudari tiri ku yang tercinta." Bukannya menggunakan pakaian. Ia malah semakin melekatkan tubuh polosnya ke tubuh pria tersebut.
"Apa salah ku? Kenapa kalian memperlakukan ku seperti ini!? Kau bahkan melakukan perzinahan dengan suami dari saudari tiri mu!!!" Karena sudah tidak bisa menahan emosinya. Ia berteriak ke arah keduanya, hal tersebut membuat sang suami merasa tidak bahagia.
"Berani-beraninya kau meneriaki wanita ku! Apa menurutmu aku bersedia hidup dengan wanita seperti mu!? Kalau saja tidak karena membantu membalaskan dendam wanita ku, mungkin sekarang aku sudah bahagia dengannya."
"Hah, dendam? Aku tidak pernah membuat mu merasa tidak senang. Bahkan aku harus di jauhi oleh keluarga ku setelah kedatangan mu. Namun, lihatlah sekarang. Kau malah menganggap ku musuh dan berniat balas dendam! Aku terlalu lembut pada mu ternyata."
Almera Shaqueena merasa tidak masuk akal atas perkataan kedua manusia menjijikan yang ada dihadapannya.
"Kau memang pantas dijauhi! Dan memang sudah seharusnya aku menjadi satu-satunya putri kesayangan ayah dan adik tercinta kakak."
"Hanya anak haram tapi bertindak seolah-olah wanita suci. Kau tidak jauh bedanya seperti ibu mu yang sama menjijikkannya." Kesabaran Almera sudah habis. Wanita yang menjadi saudari tirinya benar-benar tidak tahu malu dan menjijikan. Bukannya menjawab pertanyaanya, wanita malah semakin menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sama sekali.
"Kau!!!"
Tidak tahan dan sudah muak, sang suami segera bangun lalu menggunakan pakaiannya dan menarik paksa istri yang tidak ia inginkan pergi dari kamar. Si wanita menjadi senang, ia memutuskan mengikuti mereka setelah menggunakan pakaian.
Sesampainya di atas tangga. Tanpa perasaan pria itu mendorong sang istri, karena tidak sempat membela diri. Tubuh kurus tersebut berguling ke bawah. Darah sudah membasahi keningnya. Ia masih sadar ketika sampai di lantai paling bawah.
"Ini hukuman karena kau sudah berani menghina wanita ku! Kau pantas mati, dan mulai sekarang kau bukan lagi istri ku."
Bukannya merasa bersalah, pria itu malah mengatakan hal-hal yang lebih sakit dari luka yang Almera dapatkan dari perbuatan pria tersebut.
Semakin tragis. Ia akan mati dan dalam kondisi mengerikan serta status janda. Matanya menatap penuh benci wanita dan pria yang sedang bermesraan di atas tangga.
"Apa yang terjadi?" Tiba-tiba saja sebuah suara mengejutkan ketiganya. Si wanita langsung berhamburan ke arah sosok tamu yang ternyata kakak tirinya.
"Kak, Senio kesal jadi dia mendorong Alana dari atas tangga. Ini salah ku, dia melihat kami bersama dan menuduh ku perebut suaminya. Aku benar-benar sedih, dia bahkan mengatakan bahwa ibu ku sama menjijikkannya dengan ku karena sudah merebut ayah dari ibu pertama." Wajahnya penuh keluhan, sehingga membuat pria yang ia panggil kakak tidak tega.
"Almera!!! Kau memang sudah sangat keterlaluan. Berani-beraninya kau menghina ibu dan saudari tiri mu. Sepertinya kau memang pantas mendapatkannya." Bukannya merasa kasihan, pria yang notabennya kakak kandung Almera malah mempercayai perkataan saudara tiri mereka bahkan ikut memarahinya saat Almera tengah melawan rasa sakitnya.
Kesadarannya mulai menghilangkan, namun percayalah jika ia bisa mendengar ucapan tidak berperasaan dari kakak kandungnya. Bukannya segera membawanya ke rumah sakit, dia malah menyalahkannya. Ia akan mengingat setiap kata yang di ucapkan oleh ketiganya.
"Almera tidak salah, Kak. Ini akulah yang jatuh cinta pada saudara ipar ku sendiri, aku berjanji akan meninggalkan rumah ini. Maafkan aku, Almera." Ia sengaja mengulur waktu agar Almera tidak segera di bawa ke rumah sakit.
Ya, niatnya hanya satu. Karena sudah ketahuan dan merasa bahwa rencananya untuk menyakiti hidup Almera sudah tercapai, maka ia memutuskan membunuh Almera. Tentu saja bukan dengan tangannya tapi tangan kakak tirinya yang merupakan penyiksaan terakhir untuk Almera.
"Jangan, Sayang. Akulah yang salah menikahi wanita, seharusnya aku melamar mu bukan wanita tidak tahu malu itu."
"Senio benar, Adik. Ini bukan salah mu, lagi pula wajar kalau Senio jatuh cinta pada mu dari pada Tara. Kau gadis baik dan cantik, semua pria akan menyukai mu."
Saat ketiganya sedang sibuk berbicara untuk menenangkan si pelaku sesungguhnya. Almera akhirnya mencapai batas dan mulai pasrah pada Tuhan. Jika memang takdirnya harus mati di tangan ketiga orang yang dua di antaranya sangat ia sayangi, maka Almera berharap Tuhan berbaik hati untuk memberikannya kehidupan kedua.
Jika memang ada kesempatan kedua seperti itu. Almera berjanji tidak akan lagi mengharapkan cinta pada keluarganya dan juga pria itu. Almera akan hidup dengan caranya sendiri.
"Selamat tinggal, Kak." Itu adalah suara terakhir yang Almera ucapakan dan kakak laki-lakinya mendengarnya dengan sangat jelas.
Setelah itu. Almera tertidur untuk selamanya.
...
Di sebuah kamar yang cukup sederhana. Seorang Wanita cantik berusia dua puluh tahun, masih terdiam setelah bangun dari tidurnya. Sebenarnya bukan tidur biasa, ia baru saja bermimpi tentang hal mengerikan yang terdengar mustahil namun terasa sangat nyata. Seolah-olah mimpi itu merupakan kehidupan nyata bagi Almera.
Ya, Almera merasa itu sangat nyata. Namun, logikanya menolaknya karena terasa seperti cerita dongeng.
ESTÁS LEYENDO
Istri Kesayangan Tuan Nathan
FantasíaAlana Shaqueena, gadis cantik yang kesepian setelah kehadiran ibu dan saudari tirinya. Hidupnya berubah dan tidak ada yang mencintainya termasuk ayah dan kakak laki-lakinya. Sebelum mengalami mimpi aneh yang terasa nyata, Alana hanya anak perempuan...
