11.00 PM

92 13 19
                                        

DISCLAIMER

Cerita ini sepenuhnya hanya sebatas fiksi belaka.
Nama, tempat, karakter, kejadian dan lainnya
hanya sebagai imajinasi penulis. Tidak ada
hubungannya dengan tokoh asli di dunia nyata.


# 𝙜𝙤𝙤𝙙𝙣𝙞𝙜𝙝𝙩 ; bleunara.

───────────────

       PADA suatu malam yang gulita, tidak kalah gulita juga dengan isi kepala Naren yang sudah melebur entah ke arah mana. Bayangan di dalam kepala semuanya menjadi satu; antara kenangan baik, buruk, atau pun sebuah kenangan yang tidak berarti, bersatu bersama menyerbu isi kepalanya. Bercampur menjadi satu, menciptakan banyak suara yang tercampur tidak jelas kehadirannya. Mereka seperti berebut tempat untuk dijelajahi lagi, sementara si pemilik badan yang membiarkan dirinya tenggelam di dalam pikiran—ia sedang memilih memori mana yang ingin ia peluk untuk malam kali ini.

Tidak ada lagi. Tidak ada lagi kenangan lain di dalam kepalanya, kecuali bersama Jimin, si kasih. Kenangan baik, buruk atau pun tidak arti, semua kenangan itu tercipta bersama Jimin adanya. Yang paling Naren suka adalah saat dimana si kasih menenggelamkan raganya penuh padanya, saat dimana kehangatan menyerap satu sampai ke tulang. Pelukan Jimin memang yang terbaik, bahkan jika ia datang menginginkan pelukan dengan air mata yang membasahi baju disertai dnegan campuran lendir hidung juga tidak apa katanya.

Naren mengingat jelas, dirinya yang selalu mengeluh pada sang kasih, biasanya yang selalu ia lakukan pertama adalah menggenggam tangan hangat, lalu berkata lirih, "Ji, aku lelah."

Tidak ada yang terjadi setelah itu. Tidak ada sebuah sapaan kata hangat, yang bersifat menenangkan. Hanya sebuah pelukan menenangkan yang di eratkan sampai mimpi manis menjemput, meskipun sesekali Naren bisa mendengar Jimin bergumam kecil sembari menepuk pundaknya, "Aku menyayangimu."

Selalu seperti itu, Jimin selalu mengatakan hal itu seperti tidak akan ada detik selanjutnya lagi yang dijalani, tetapi tidak pernah ada rasa bosan dari Naren yang tiap harinya selalu memakan kalimat tersebut. Apa pun yang dilakukan si pemuda tidak pernah ada yang membuatnya luka, Naren sendiri sering berpikir dan bertanya, apa mungkin Jimin adalah malaikat utusan Tuhan yang diutus menjaganya? Tentu saja, disana Jimin selalu menyahut, "Iya, benar. Aku malaikatmu, dan kamu bidadarinya."

Terlepas dari Jimin malaikat atau bukan, Naren yakin sepenuhnya bahwa memang pemuda ini keturunan setengah malaikat—ah, tidak, konyol.

Naren sendiri sering berpikir, apakah segila ini dampak mencintai seseorang? Tetapi, Naren tidak merasa kata cinta cukup untuk perasaannya. Rasanya hubungan antara keduanya ini sudah sangat gila, hari-hari yang dijalani hanya saling menguatkan diri dalam menjalani takdir, melakukan canda tawa bersama, lalu pada malamnya si gadis menangis. Rasa cinta tertumpuk, rasa sayang tertumpuk, rasa nyaman tertumpuk, lalu gila jadinya.

"Song Naren, bagaimana jika menjadi kekasihku saja?"

Ah, seketika isi kepalanya berputar lama ke masa lampau. Kali pertama memulai hubungan, ya? Naren mengingat dengan jelas juga apa yang ada di isi hati saat itu, yaitu sebuah rasa ingin meledak karena terlalu senang. Seperti rasanya mendapat sebuah kehidupan baru, yang sedang ditata lebih baik lagi, awal hubungannya dengan Jimin membuat banyak pengaruh bagus untuk hidupnya. Seperti—lebih memiliki semangat hidup, mungkin? Tentu saja. Selama ini yang Naren rasakan sebelum menjalin hubungan hanya menjalani hari seperti orang gila, ingin mati saja rasanya.

Jimin itu lelaki yang hangat dan juga baik, tidak ada hal yang membuat Naren membencinya kecuali untuk yang satu; menyembunyikan lukanya sendiri.

Seketika semua pandangan memori hancur melebur, ia menarik napas, mencoba mengerjapkan mata beberapa kali untuk menjelaskan pandangannya. Ternyata ia masih di sini, di dalam kamar sendiri. Tidak ada siapa pun yang mengganggu, tidak ada siapa pun yang memanggil, mengetuk pintu atau yang lainnya—namun, mengapa ingatannya mendadak hancur melebur?

Naren menghela napas, menarik selimut menutupi badannya sampai atas dada. Lalu seketika pandangannya tidak sengaja bertemu pada jarum jam dinding yang menunjukan pukul sebelas malam—seketika, satu kalimat terputar di dalam kepalanya, itu Jimin, ia berkata, "Batas waktu tidurmu jam sebelas, ya. Jika melebihi batas, kamu nanti berubah menjadi jelek karena mata pandamu, lho."

Si gadis tertawa kecil sendiri, padahal ia tidak takut, padahal semua kalimat Jimin hanya sebatas candaan, tetapi anehnya ia selalu menurutinya. Satu lagi. "Eits, jangan menghela napas lega dulu, jika aku tidak bersamamu di malam hari dan kamu belum tertidur, aku akan berusaha masuk ke dalam mimpimu untuk—untuk, untuk apa, ya? Tentu saja untuk mengucapkan selamat malam."

Sudah, selesai. Jimin memang benar-benar memperingatinya untuk tertidur di jam sebelas. Tirta bening seketika mengalir perlahan, ia berusaha meraih udara. Dadanya sesak luar biasa, ia hanya ingin sekali mengucapkan selamat malam tanpa air mata, tetapi mengapa tetap tidak bisa. Dalam hati ia melontarkan katanya, "Jimin, aku akan tidur, ya. Aku masih tertidur disini, sementara kau sudah tidur disana. Tidak apa, tidak ada yang berbeda, aku masih bisa mengatakan selamat malam untukmu. Kamu juga begitu. Tolong datang ke mimpiku lagi dan ucapkan selamat malam, ya? Kita akan bertemu, kita pasti akan bertemu, tolong tunggu aku, aku tidak akan memaksa untuk segera bertemu denganmu disana, aku hanya berharap dirimu selalu disana menunggu. Selamat malam, Ji. Aku tahu kamu pasti terlelap nyaman disana."

Nyatanya benar, ia memang sosok malaikat yang hanya menjaganya. Naren tersadar, meskipun dirinya jauh lebih banyak berkata bahwa dirinya lelah, nyatanya Jimin jauh lebih lelah dan bahkan sudah meninggalkannya istirahat untuk selamanya. []

— FIN —

GoodnightStories to obsess over. Discover now