Kabar demi kabar, rumor demi rumor, hoax demi hoax kini berlalu lalang di telinga masyarakat. Berita tentang lahirnya virus Cina yang banyak mematikan rakyatnya membuat gempar dunia. Virus corona atau covid-19 dengan nama itu dunia menamainya, virus yang membuat manusia ketakutan untuk keluar rumah, membuat berhentinya hubungan manusia dengan manusia lainnya, benar-benar membuat berhentinya kehidupan manusia seperti kehidupan normal biasanya.
Hingga virus itu datang dan bersemayam dipikiran masyarakat Indonesia, satu per satu teori mulai bermunculan, bermula dari teori yang mempercayai virus tersebut tidak akan mampu bertahan di negara beriklan tropis seperti Indonesia, teori yang mempercayai bahwa imun masyarakat Indonesia kuat melawan virus corona, dan banyak lagi teori-teori yang terdengar di telinga masyarakat Indonesia.
Nyatanya, teori itu hancur dan terpatah kan akibat tertularnya warga Depok oleh virus corona. Pada akhirnya angka positif melonjak naik, masyarakat panik dan ketakutan. Dan kehidupan normal pun terhenti sejak pengumuman dari pemerintah untuk meliburkan segala kegiatan di luar rumah selama dua minggu. Masyarakat dianjurkan untuk tetap di rumah dan menjaga protokol kesehatan.
"Warga sekalian, covid itu bohongan! Itu hanya mainan pemerintah, jangan percaya! Dasar kacung pemerintah."
Itu suara Pak Jono, pria tua yang mungkin usianya sudah melewati setengah abad, satu-satunya warga yang tidak percaya akan virus corona di RT kami. Pria tua itu selalu mengajak dan menghasut masyarakat untuk tidak pernah percaya virus corona.
"Pak, tolong kalau memang tidak percaya covid jangan coba menghasut oarang lain untuk tidak percaya juga!" dengan berani aku menegurnya, cukup, aku sudah tak tahan lagi, pria tua itu terus-terusan berteriak tiap harinya.
"Hei, neng! Kalau bicara yang jelas, lepas masker mu! Kalau jelek, terima saja, tidak perlu pakai masker untuk menutupinya!" kurang ajar, pria tua itu malah mencoba untuk menghina ku, aku tak terima.
"Saya pakai masker agar terhindar dari virus corona dan juga untuk menjaga hidung saya agar terhindar dari mulut bau bapak!" ku lihat warga mulai keluar dari rumah meraka, mengintip di depan pintu.
"Anak kurang ajar kamu, ya!" kepalan tangan Pak Jono hampir melayang dan mengenai kepalaku hingga teriakan warga menghentikan kepalannya.
"Pak Jono, saya lapor ke RT, ya!" ancam Bu Nini tetangga sebelahku, aku hafal dengan suaranya yang melengking.
"Halah, warga sialan! Lapor saja, saya tidak takut! Presiden pun akan saya hadapi, dasar kacung pemerintah!" Pak Jono pergi begitu saja. Aku yakin ia malu karena diteriaki warga dan ditantang oleh anak jelek, seperti katanya. Kami warga sudah hafal dengan tabiatnya, manusia sombong dan selalu besar omong.
***
Hari ini, lingkungan rumahku lagi-lagi dikejutkan dengan warga yang positif covid, Pak Jamal. Ketua RT mengimbau para warga untuk bergantian memberi makanan untuk keluarga Pak Jamal yang sedang isolasi mandiri di rumah.
Terhitung tujuh rumah yang sedang isolasi mandiri, kami bergantian memberi makanan dan kebutuhan lainnya selama mereka melalukan isolasi. Kini giliran keluargaku yang memberi makanan ke rumah Bu Santi.
"Haduh orang miskin sok-sokan bagi-bagi makanan, makan buat diri sendiri saja belum mampu, mau sombong bagi-bagi makanan, dasar miskin-miskin!" aku yakin sebelum keluar rumah sudah baca doa, lalu kenapa masih diikuti oleh setan tua ini? Ku hentian langkah ku, memilih untuk menghadapi setan tua satu ini.
"Mending orang miskin masih mau bagi-bagi rezeki ke orang lain, dapat pahala. Lah, daripada orang kaya, bagi rezeki juga enggak kerjanya selalu menghina orang. Jadi manusia jangan serakah, pak! Cukup kaya harta saja jangan kaya dosa juga."
YOU ARE READING
Pak, tolong!
Short StorySehat lah untuk diri sendiri, maka kamu akan menyehatkan yang lainnya. Dengar itu, pria tua! BELINDA NUR (6) XII IPS 2
