Bab I. Kampus Hijau

3 2 0
                                        

Matahari baru saja terbangun dari tidur malam yang panjang. Langit menyapa dengan hangat. Angin yang berbisik seakan menyampaikan pesan "selamat pagi Zahra!". Jam menunjukkan pukul 06.30 WIB, dengan bersemangat dan tersenyum lebar ia mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkannya semalam suntuk.

Ia kemudian menyemat rapi jilbab pashmina hitam miliknya dililitkan ke lehernya sambil ia kenakan bros bentuk hati bewarna merah muda dengan jemarinya. Sipemilik jemari yang terlihat modis dengan gaya kekiniannya itu berdiri di depan cermin sambil tersenyum puas. "Ah ternyata aku bukan siswi yang harus memakai seragam sekolah lagi." Ujarnya pada pantulan diri dicermin.
Kini ia akan menjadi Mahasiswi baru jurusan Farmasi di salah satu Kampus yang tersohor di Ibukota. Orang-orang menjulukinya Kampus hijau. Ya.. artinya ia akan menjadi anak rantau mulai sekarang. Tak lama , ia menyambar tas miliknya, lalu membuka pintu kamar menuju ruang makan. "Jederrr.." suara pintu kamar tertutup.

Di meja makan, tampak wanita separuh baya dan satu adik perempuannya sedang menyantap makanan nya. "Selamat pagi bunda!" Sapa Zahra dengan girang sambil mengecup kuat pipi sang ibunda yang menjadi sedikit kemerah-merahan. Hari minggu itu menjadi hari yang sangat menggembirakan bagi Zahra.
" Kak, cepat makan!. Nanti kamu telat daftar ulang di kampus. Perjalanan ke kampus kamu jauh." Ucap sang ibunda sambil menyendokkan nasi goreng ke piring untuknya.
" seh yang mau jadi maba, lama kali dandannya" gurau sang adik yang umurnya hanya beda setahun dengannya, yang berarti saat ini menjadi siswi senior di SMA.
"Apasih." sahut Zahra dengan muka masam
"Sudah..sudah..! cepat makan nya!". Seru bunda dengan lugas.

Selesai makan, Zahra keluar dengan melangkah lebar-lebar, tampak sang ayah duduk di teras sambil meneguk teh yang sudah mau habis.
"Selamat pagi Ayah!" Sapa Zahra.
"Kak, jam berapa pendaftaran nya dimulai?". Tanya ayahnya
" jam 11 yah." Sahutnya
Tanpa kata lagi Zahra langsung buru-buru berlari menuju mobil fortuner hitam dengan mesin yang menyala dan membuka pintu mobil itu, kemudian masuk. Terdengar suara dari dalam mobil "Ayo yah, suruh bunda dan adik cepat keluar. Kita berangkat sekarang.!"
"Brak! Pintu mobil ditutup. Dan semua sudah berada di dalam mobil. Mobil berderum pergi meninggalkan rumah yang kosong dengan lampu teras yang menyala.

Empat jam berlalu begitu cepat, Zahra buru-buru turun mobil sambil mengeluarkan berkas-berkas pendaftaran di dalam tasnya. Ayah menurunkan kaca mobil, seraya berkata " Kak, kami nunggu di bawah pohon besar itu ya, nanti kalo sudah selesai langsung kesitu aja."
" oke yah," sahut Zahra sambil mencium pungggung tangan ayahnya.
Tiba-tiba tertangkap bayangan mimi sekilas. Mimi yang merupakan teman satu SMA nya juga lulus di Kampus yang sama, tetapi dengan jurusan yang berbeda.
"Mimi.. Mimi..!"
Mimi pun menoleh.
" Hai mi, sampai jam berapa tadi? Tanya Zahra sambil tersenyum.
" Barusan aja ni".
" oh sama lah, yuk kita ke depan gedung itu"
"Yukkk"

Terik matahari membiaskan sinarnya, lautan Mahasiswa/Mahasiswi baru sambil memegang berkas pendaftaran sudah mengantri panjang di depan gedung kampus menunggu giliran untuk masuk ke dalam. Semua berdesakan.
"Huhhh.. akhirnya kita duduk di dalam juga ya mi. Diluar tadi panas banget." Kata zahra sambil menyeka keringat di keningnya yang dibalas dengan senyum lebar oleh Mimi.

Dosis dalam cintaWhere stories live. Discover now