PROLOG NARUTO

164 13 1
                                        

Malam di Konohagakure tidak pernah benar-benar dingin bagi seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang berjalan menyusuri jalanan sepi. Namun, dingin yang ia rasakan malam ini tidak berasal dari angin gugur yang berembus pelan, melainkan dari tatapan mata orang-orang yang berpapasan dengannya.

Langkah kaki kecil itu berbunyi konstan di atas tapak batu. Setiap kali ia melewati kedai yang masih terbuka atau barisan rumah penduduk, tirai-tirai jendela mendadak ditarik rapat. Pasangan suami istri secara refleks menarik anak-anak mereka ke belakang punggung, seolah-olah bayangan anak laki-laki itu membawa racun yang bisa membunuh hanya dengan menyentuhnya. Gumaman bisik-bisik yang akrab terdengar lagi-seperti dengungan serangga yang tak pernah berhenti.

"Lihat... monster itu keluar lagi."

"Kenapa Sandaime-sama masih membiarkannya berkeliaran?"

"Hush! Jangan tatap matanya, nanti kau dikutuk."

Anak itu-Naruto-menundukkan kepalanya lebih dalam. Rambut pirangnya yang mencolok menutupi dahinya. Ia menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang sudah agak sempit. Di dadanya, ada rasa sesak yang terbakar, sebuah pertanyaan yang telah menghantuinya sejak ia bisa mengingat dan memahami bahasa manusia: Mengapa? Apa salahku? Mengapa mereka memandangku seolah aku adalah hal paling mengerikan yang pernah lahir di tanah ini?

Ia mempercepat langkahnya, berlari kecil menuju sebuah apartemen tua di pinggiran desa. Tangga kayu berderit keras saat ia menaikinya. Begitu sampai di depan pintu kamarnya yang catnya sudah mengelupas, ia membuka kunci, masuk, dan membanting pintu rapat-rapat.

Kamar itu sepi. Hanya ada tempat tidur kecil, meja kayu berserakan kertas, dan beberapa bungkus ramen instan kosong di sudut ruangan. Naruto menyandarkan punggungnya di pintu yang tertutup, perlahan merosot hingga duduk di lantai kayu yang dingin. Ia memeluk lututnya, membenamkan wajahnya di sana. Tidak ada air mata yang keluar. Rasa sakit itu sudah terlalu sering hadir hingga air matanya rasanya mengering.

"Kenapa..." bisiknya pada kegelapan kamar. "Kenapa semua orang membenciku?"

Ia meremas dadanya tepat di atas titik di mana sebuah segel aneh terukir di kulitnya. Setiap kali ia merasa terluka atau marah, ia bisa merasakan sesuatu yang hangat, pekat, dan liar berdesir samar di balik perutnya. Malam ini, desiran itu terasa lebih kuat dari biasanya.

Kepalanya mulai terasa berat. Pandangannya mengabur, bukan karena kantuk, melainkan karena kesadarannya seolah ditarik paksa keluar dari tubuhnya. Bunyi detak jarum jam dinding memudar, digantikan oleh suara gemericik air yang menggema di tempat yang sangat luas dan asing.

Naruto membuka matanya.

Ia tidak lagi berada di kamarnya yang sempit. Ia berdiri bertelanjang kaki di atas genangan air dangkal yang dingin. Langit-langit di atasnya tertutup kegelapan, ditopang oleh pilar-pilar batu raksasa yang tampak seperti lorong bawah tanah atau penjara purba. Udara di tempat itu terasa berat, dipenuhi oleh presensi yang sangat kuat, kuno, dan berbahaya.

"Tempat apa ini...?" gumam Naruto pelan. Suaranya menggema jauh ke dalam lorong.

Ia melangkah perlahan, menyusuri lorong berair tersebut. Semakin jauh ia berjalan, rasa hangat di dadanya semakin membakar. Hingga akhirnya, ia sampai di sebuah lorong raksasa yang berujung pada gerbang besi setinggi gunung. Di tengah gerbang itu, terdapat sebuah segel kertas tua bertuliskan kanji 'Seal' (Segel).

Di balik jeruji besi yang gelap, dua mata merah berukuran raksasa tiba-tiba terbuka. Celah pupil hitamnya menyipit tajam, menatap anak kecil di luarnya dengan aura kebencian murni yang sanggup membuat ninja terhebat sekalipun berlutut ketakutan.

ANBU NARUTO OF KITSUNEStories to obsess over. Discover now