"Huh, apa ini? Ayam goreng... Teri sambal... S-sup kepiting?!"
Seorang gadis yang tak lagi remaja itu melompat dari tempat tidur dan menghampiri meja makan, indera penciumannya bak anjing pelacak.
Tanpa basa-basi, ia makan nasi yang dicemplungkan ke dalam semangkuk sup kepiting seraya memiringkan ponsel untuk menonton drakor dengan leluasa.
"Padahal aku pengen ikut Kak Leah wisudaan, tapi harus ke rumah nenek hari ini."
"Hah? Bukan hari ini de. Aku wisuda masih lama, tanggal tujuh belas!"
"Tanggal tujuh kak, hari ini! Kemarin di e-mail kan tanggal tujuh Juli. Mama sama papa udah di salon, aku pikir kakak memang nyusul."
Mendengar hal itu, Leah si calon sarjana yang tengah menyeruput sup kepiting sontak berlari ke kamar mandi.
"Kalau gak nempel itu kepalamu di leher, sudah hilang dari kapan tau"
Bahkan wanita yang melahirkannya sudah bosan harus mengatakan itu setiap hari.
Leah Addison, S.M. hari itu akhirnya lulus menyandang gelar kehormatan Summa Cum Laude dengan IPK 39,8. Nyaris sempurna. Hal ini yang mungkin menjadi alasan kedua orangtua mempertahankannya.
Jenius tapi bobrok, begitulah deskripsi umum tentang dirinya. Tak heran hingga kini Leah belum pernah menjalin hubungan percintaan dengan siapapun. Jatuh cinta? Tentu pernah.
Selama tujuh tahun sejak kelas enam SD, gadis itu menyukai Ethan, salah seorang kakak kelasnya. Leah tertarik padanya sejak mereka berpapasan di toko DVD milik Ayah Ethan saat hendak membeli kaset untuk nonton drakor.
Namun kini, menyebut nama lelaki itu menjadi suatu larangan. Entah mengapa, sejak saat itu Leah tak pernah menyukai siapapun. Menurutnya, cinta itu tidak ada.
YOU ARE READING
Heartquake
RomanceGetaran asing di negeri asing, memoles kisah baru yang tak dinanti.
