English translation of this chapter is available below. Please scroll down for the English version.
Thank you! <3 from tricxo
Namaku Yuwana Felixia, 27 tahun. Barusan aku dipecat.
Saat ini, aku duduk di bangku taman umum yang tersedia, merenung tentang masa depanku yang suram.
"Hah... kenapa nasib gua begini buruk? Memangnya salah gua ini apa sih?" gumamku, menarik napas panjang. Bagaimana dengan uangku? Tanggal bayar kos sudah tiba, persediaan makanan mulai menipis, dan masih banyak lagi utang yang harus kubayar. Andaikan saja ada sedikit keajaiban, aku rela melakukan apa pun agar tidak terjerat masalah ini!
*DRRT! DRRT!* Ponselku bergetar di saku kanan rok. Semoga bukan penagih utang. Aku meraih ponsel, melirik layarnya.
"Oh, Nola? Ngapain sih??? menelepon? Tumben banget." Aku menerima panggilan itu. Cody Winola adalah salah satu sahabatku sejak SMA. Dia teman setia yang selalu membantuku selama masa sekolah.
"Ana! Bagaimana pekerjaan lo?" suara Nola ceria dari seberang.
"Jangan ditanya lagi, hasilnya nihil," jawabku lesu.
"Cepat sekali! Kali ini kenapa dengan lo?" desaknya Nola, suaranya dipenuhi rasa penasaran.
"gua enggak mau kasih tahu, nanti jadi bahan tertawa lo saja."
"Yah... padahal gua mau memberitahu sesuatu yang sangat menyenangkan, lho..." Nola berkata dengan nada mencurigakan
membuatku bertanya "Apa?"
"Yang itu... kemarin sudah gua kasih tahu ke lo, tapi yah....lo menolak gara-gara sibuk."
"Ah... reuni sekolah..." Nola memang pernah membahasnya saat aku masih bekerja. Reuni SMA. Pasti menyenangkan, hanya saja aku dengar dia ada di sana, dan aku tidak ingin bertemu dengannya.
"Ayo! Sekarang waktunya! Pasti kosong, 'kan? Apalagi buat makan gratis, hihihi..." Nola benar. Tapi dia pasti ada... uhhh... hmmm... Hah... apa boleh buat. Mungkin aku bisa bersembunyi di balik kerumunan. "Oke..."
"Yay!" Suara senang Nola terdengar keras di telingaku. "gua kirim lokasinya, kutunggu di sana!"
Panggilan berakhir. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Hah... baiklah Ana, kau pasti bisa." Nola dengan cepat mengirim lokasi lewat pesan. Aku membukanya. Tempatnya tidak jauh dari posisiku, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Padahal aku sama sekali tidak tahu tempatnya karena sebelumnya menolak ajakan Nola. "Apa ini sedikit keberuntungan?"
Aku mengambil tas hitam besar yang biasa kupakai untuk bekerja, berisi keperluan pribadi dan jas hitamku. Aku mulai berjalan, sesekali melirik peta di ponsel. Sepanjang perjalanan, aku mengetik pesan kepada Nola bahwa aku akan segera tiba.
Ana: Nola, gua bentar lagi sampai.
Nola: Cepat sekali! Apa ini kekuatan makanan gratis? Hihihihih!
Ana: ih! Bukan! memang kebetulan saja jarakku ke sana dekat.
Nola: Oh ya? Berarti memang nasibmu untuk datang ke sini! Kutunggu di luar restoran, oke?
Ana: Oke.
Aku terlalu fokus pada ponselku, hingga tanpa sengaja menabrak seorang ibu tua berusia sekitar 60 atau 70 tahun. "Aduh! Maaf! Ibu tidak apa-apa?" Aku segera mengulurkan tangan kanan untuk membantunya berdiri.
"Terima kasih, Nak," sahut ibu itu, menerima uluranku. Aku melihat barang-barang bawaannya jatuh berserakan. "Saya ambil barang yang jatuh, Ibu berdiri saja di situ." Barang-barang itu adalah tempat kacamata dengan isinya, sebuah buku kecil, dan dompet. Aku menyerahkan tasnya kembali kepada ibu tua itu. "Kalau begitu, permisi, Bu."
YOU ARE READING
My flower hemlock
RomanceHidup Ana Yuwana Felixia dipenuhi kemalangan, namun sebuah "keberuntungan" tak terduga muncul dan ia langsung meraihnya. Sayangnya, itu hanyalah jebakan. Kini, ia harus menjadi guru bagi empat murid jenius yang masing-masing menyimpan luka psikologi...
