1

22 2 2
                                        

"Sarawaaaaaaaaaattt... kenapa nggak peka banget sih sama orang?" Teriak Mas Tama dari ruang tengah kosan, sembari menonton serial Thailand dari smart TV yang terpasang sebagai fasilitas yang diberikan Mas Tama untuk seluruh penghuni kosan itu. Walau sebenarnya masing-masing dari mereka memiliki TV pribadi dikamarnya.

Kosan bercat kuning gading yang bisa terbilang mewah dikawasan Jalan Ijen yang asri dengan banyak pohon rindang berjajar di sepanjang jalan. Sebenarnya ini juga tidak bisa dibilang kos-kosan, tapi rumah pribadi Mas Tama, namun karena terlalu besar sedangkan Mas Tama juga belum berkeluarga, tiga kamar di lantai 2 disewakan untuk mahasiswa laki-laki perantauan yang belajar di kota yang terkenal sejuk ini.

"Mulai deh sarapnya keluar" Bima nyeletuk dari kamarnya dilantai dua

Malam minggu biasanya Mas Tama dan Juna menghabiskan waktunya dengan menonton serial TV yang tayang seminggu sekali di youtube, kemudian adegan berikutnya dapat ditebak, mereka akan teriak-teriak histeris menanggapi cerita dan acting para actor tampan dari Thailand itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, kosan eksklusif itu hanya dihiasi teriakan, tawa dan tangisan Mas Tama dan Juna dari ruang tengah yang posisinya tepat disamping taman belakang dan dapur. Cuaca malam itu memang sedikit dingin sampai akhirnya tercium bau gosong

"Mas Tama nyium bau gosong nggak sih?" Juna membuyarkan perhatian Mas Tama dari TV

"Iya Jun, bau gosong darimana ini? Ada yang konslet atau apa ya?"

Juna pun bangkit dari sofa nyaman yang dia duduki bersama Mas Tama menuju arah dapur yang sudah dipenuhi asap mengepul yang tersedot ke Modena, namun baunya sudah menyebar keseluruh isi kosan.

"Astaga, ini siapa masak kok ditinggal?" Juna teriak dari arah dapur

Sudah pasti tersangkanya adalah Bima yang sejak tadi asyik rebahan di kamar sambil main hp dengan membiarkan pintu kamar sedikit terbuka. Karena Andre sedang tidak di kosan, malam minggu seperti ini biasa dia habiskan manggung dari satu café ke café lainnya, bersama band tercintanya.

"Bimaaa... Bim... Bimaaa...." Teriak Mas Tama dari bawah

"Mati Aku!" Sontak Bima terbangun kaget, teringat hendak membuat mie instant yang ternyata terlanjur gosong menyisakan kepulan asap memenuhi seisi rumah.

Deru tapak kaki berderap menuruni tangga tergesa-gesa menuju dapur, sementara di dapur sudah menunggu Mas Tama dan Juna yang kesal karena acara nonton serial mereka harus terganggu akibat ulah Bima ini.

"Duh Mas, maaf Mas, Aku lupa tadi nyalain kompor" Bima terdiam di muka pintu dapur sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu.

"Habis lu Bim" Sontak Juna keluar dari dapur menuju ruang tengah hendak melanjutkan nonton serial yang diikuti Mas Tama dibelakangnya

Mas Tama duduk tenang di sofa bersama Juna yang asyik menikmati keripik kentang asin yang baru selesai dimakan setengahnya itu, sementara Bima berdiri tidak jauh dari mereka, raut menyesal jelas terlihat dari wajahnya

"Kamu udah ngekos disini berapa lama Bim?" Mas Tama membuka obrolan memecah keheningan

"Sudah setahun lebih Mas" tangan Bima mengatup, dia gugup

"Tau kan peraturan dirumah ini?"

"Aku paham mas" Bima menaruh hormat terhadap Mas Tama.

Bima, pemuda dari Surabaya yang harus merantau ke kota ini untuk kuliah, sangat menaruh hormat terhadap Mas Tama, karena dia yang dengan rela memberikan kamar-kamar dirumah mewahnya ini, dengan segala fasilitasnya untuk disewakan kepada mahasiswa-mahasiswa dengan harga super murah. Mereka sudah dianggap sebagai keluarga, dianggap adik-adiknya sendiri oleh Mas Tama. Hitung-hitung sebagai teman mengisi rumah sebesar itu yang dulunya hanya ditinggali oleh Mas Tama dan Mbok Yem, asisten rumah tangga yang membantu Mas Tama selama ini.

Terjebak CintaStories to obsess over. Discover now