Prologue

41 7 0
                                        

Pagi ini matahari bersembunyi di balik awan tebal. Angin berhembus dengan kencang, membuat suasana pagi kelabu ini terasa sangat sempurna, seolah hari ini adalah hari yang sangat suram. Di tepi suatu jalanan, terlihat seorang pemuda berseragam dengan kulit putih pucat, rambut hitam keikalan, dan mata sebiru laut dalam. Ia berjalan dengan tenang menuju ke arah suatu gedung sekolah SMA.

Pada logo nama di seragamnya, tertulis 'Eros Derr Brause' yang menunjukan bahwa tulisan tersebut adalah nama lengkapnya. Begitu sampai di depan gerbang sekolah, ia segera melangkah masuk dan kali ini ia sedikit bergegas.

"Hey! Cupid!" Seru seorang pemuda dengan rambut kecokelatan dan mata hijau yang cerah. "Kau baru datang?"

"Yah.." jawab pemuda ikal bernama Eros ini.

"Kau tau? Orang-orang yang ku kenal dari sekolah lain, mengajak kita battle team game X, loh!" Seru si pemuda bermata hijau tersebut. Di logo nama seragamnya tertulis 'Axel Gruze'. "Jadi, pulang sekolah nanti, kita harus langsung ke warnet!"

"Hmm.." Eros sedikit mengernyit. "Memangnya siapa lagi yang akan kau ajak untuk bergabung di team kita?"

"Tentu saja si anak konglomerat!" Seru si mata hijau yang di ketahui bernama Axel ini. "Kita tinggal mencari satu orang lagi!"

"Dua.." hela Eros.

"Ah, iya! Maksudku dua orang lagi!" Seru Axel. "Ngomong-ngomong.. ini adalah hari pertama kita masuk di kelas dua, kan?! Tapi kita sudah membahas game saja.. haha.."

"Ck, kau yang mulai!" Eros menggerutu dengan raut wajah konyol.

Tak lama, terlihat seorang pemuda tampan sebaya mereka. Pemuda itu mengenakan jaket hitam yang melapisi seragamnya. Warna mata pemuda tersebut adalah kelabu jernih, mirip dengan bulan purnama, rambutnya pirang dan cukup tebal. Pada logo nama seragamnya, tertulis 'Neth Xanderwel'.

Di sampingnya, terdapat seorang gadis cantik yang memiliki tubuh lebih pendek darinya. Warna mata gadis itu serupa dengannya, namun gadis itu memiliki rambut berwarna cokelat gelap. Pada logo nama seragamnya tertulis 'Barbara Xanderwel'.

"Oi!" Tegur pemuda bernama Neth Xanderwel itu pada Axel dan Eros.

"Yo!" Balas Eros dengan datar.

"Hey! Gila! Siapa dia?!" Seru Axel sambil menatap ke arah gadis cantik berwajah datar tanpa ekspresi yang tengah berdiri di samping Neth.

"Adikku.." gumam Neth perlahan sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah gadis yang berdiri di sampingnya tersebut. "Barbara Xanderwel.."

"Hah?!" Eros dan Axel berseru dengan terkejut serempak.

"Wah, gila!" Seru Axel sambil bergegas mendekati Neth lalu langsung mencengkram kerah seragamnya. "Kita sudah berteman selama satu tahun, dan kau tidak pernah memberitahuku kalau ternyata kau memiliki Adik yang-"

BUAGGGH..

Tiba-tiba, seseorang langsung menghajar wajah Axel dengan sangat keras. Bahkan hidung Axel sampai mengalirkan darah segar dengan deras karena tinjuan keras dadakan tersebut.

"Eh?" Axel langsung terkejut begitu mengetahui seseorang yang telah meninjunya itu adalah Barbara dengan wajah tanpa ekspresinya.

"Astaga.. sudah ku bilang, jangan bertindak semaumu di sini.." hela Neth sambil menatap Barbara. "Dia itu temanku.."

"Tapi dia.." Barbara hanya menyahut datar. "..terlihat seperti mengancam Kakak.."

"Dasar.. dia hanya bercanda!" Jelas Neth dengan malas. "Cepat minta maaf!"

"Maaf.." Barbara segera membungkuk sesaat di hadapan Axel sebagai tanda permintaan maaf.

"Ah, tidak masalah.." Axel tersenyum dengan konyol. "Selama kau yang memukulku, tidak masalah~ aku malah ingin di pukul denganmu lagi.. haha.."

Tiba-tiba ponsel Eros berbunyi, tanda pesan masuk. Ia segera mengambil ponselnya yang ia bawa di kantung celana seragamnya. Saat ia membuka pesan tersebut, rupanya pesan itu adalah pesan dari Ibunya yang tinggal di Negeri kampung halamannya. Pesan tersebut bertuliskan "Oh, kau mendapat peringkat satu lagi, ya? Selamat! Tingkatkan terus prestasimu itu, Nak..". Begitu selesai membaca pesannya, ia hanya tersenyum singkat sambil menghela. Rupaya pesan itu adalah balasan dari pesan yang ia kirim beberapa bulan lalu dan baru saja mendapat balasan dari Ibunya hari ini.

Semenjak awal SMP hingga sekarang, Eros sudah tinggal sendirian di luar Negeri seperti ini. Ibunya membelikannya sebuah kamar di suatu apartemen untuk menjadi rumah baginya. Ibunya memutuskan untuk tetap tinggal di Negeri kampung halaman sendirian, agar bisa tetap fokus pada karirnya yang semakin meningkat itu. Sejak dulu, Eros adalah anak yang sangat pandai dan memiliki banyak penggemar di sekolahnya. Namun, saat ia menginjak kelas dua SMP, Ayahnya telah di hukum mati karena tertangkap sebagai seorang pembunuh berantai.

Berita tersebut sempat menjadi topik terpanas di Negara Arcelles tempat Ibunya dan Kota Esmaves tempat-nya tinggal ini. Karena hal tersebut, Eros jadi lebih di jauhi oleh orang-orang maupun teman-teman di sekolahnya. Hingga sekarangpun masih banyak orang yang menghindari ataupun enggan berurusan dengannya. Sejauh ini hanya Axel dan Neth yang menjadi temannya.

"Oi, Cupid!" Kali ini Axel melirik ke arah Eros. "Ke sini! Dari tadi kau sibuk sekali dengan ponselmu.. memangnya ada apa?"

"Ck, kau ini suka sekali mengubah nama orang!" Gerutu Neth sambil menyikut lengan Axel.

"Kenapa, anak konglomerat?" Axel hanya menaikan salah satu alisnya dengan raut wajah mengejek. "Mau ku carikan panggilan yang lebih pas untukmu?"

"Berisik.." hela Neth.

Tak lama kemudian, bell tanda jam pelajaran akan di mulai, berbunyi. Mereka semua segera pergi menuju kelas. Mereka bertiga berada di kelas yang sama yaitu kelas 3A. Sedangkan Barbara, pergi menuju kelasnya, yaitu kelas 1C.

"Sialan! Aku belum mengerjakan PR!" Seru Axel dengan raut wajah panik.

"Salahmu.." gumam Neth dengan datar.

"Hey! Bagaimana denganmu?" Kali ini Axel melirik ke arah Eros.

"Kau masih meragukan si juara kelas?" Hela Neth.

"Hm? PR?.." Eros tersenyum miring. "Tentu saja.. sudah!"

DrackerWhere stories live. Discover now