Prolog

36 3 0
                                        

Hujan deras menyapu daratan bumi. Gemuruhnya menggelegar. Di bawah penerangan lampu yang remang-remang, suasana mencekam tatkala seorang perempuan menatap sengit perempuan lainnya yang berdiri di hadapannya. Dari sorot mata mereka yang saling menghunjam seolah menceritakan banyak kisah permusuhan diantara keduanya. Hawa mematikan mencekik ruangan itu.

Senyum jahat muncul di bibir merah merona salah satu perempuan itu. Sementara yang lainnya, nampak mulai emosional. Dia membalikkan badan dan berjalan ke arah tempat tidur dimana seutas kain putih yang digantung di tiang horizontal bergelantungan.

Dia menoleh, menatap sosok perempuan lainnya dengan mata penuh luka, "Sebaiknya kau pegang janjimu baik-baik

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dia menoleh, menatap sosok perempuan lainnya dengan mata penuh luka, "Sebaiknya kau pegang janjimu baik-baik. Jika tidak, aku tidak akan melepaskanmu sekalipun aku menjadi hantu,"
Guruh bergluduk mengiringi ucapan itu seolah langit menunjukkan kemurkaannya.

Seorang hamba mengambil sebuah kursi dan meletakkannya persis di bawah kain itu. Dia melepaskan jubah besarnya lalu menaiki kursi dan memposisikan kepalanya di tengah simpulan. Berderai air matanya meleleh. Setiap bulirnya mewakili kepedihan yang merajam. Ini lah akhir hidupnya.

BRAKKKK

Ia menjinjitkan kedua kakinya membuat kursi terbanting. Spontan tubuhnya pun tergantung dengan leher tercekik kain. Mahkota indah yang menghiasi kepalanya jatuh mendarat di lantai. Petir menyambar-nyambar menciptakan kilatan yang menelusuk menjadi saksi bisu peristiwa silam tersebut.

Perempuan yang lain berdiri tegak menyaksikan setiap detik lawannya menjemput ajal. Dia tersenyum penuh kemenangan melihat perempuan malang itu meronta-ronta meregang nyawa.

Kejam, bukan?

Hujan mendadak berhenti menyisakan gluduk yang terus mendera kelamnya malam.

Tap... tap... tap!

Bunyi langkah kaki berderap menginterupsi. Semua orang terkejut.

"Celaka!!! Sepertinya ada orang mengintip dari luar!" Seru seorang hamba dengan paniknya berlari keluar. Perempuan itu ikut bergeming. Dia melihat sesosok punggung perempuan berlari tunggang-langgang di bawah rintikan hujan memasuki kegelapan pekat. Gawat! Ini sungguh gawat! Tidak boleh ada yang tahu apa yang terjadi barusan.

"Kejar! Jangan sampai dia lolos!!! CEPAT!!!"

"Tangkap dia!!!"
Sentaknya dengan nada berapi-api. Para hamba pun bergegas mengambil langkah seribu mengejar sosok misterius itu.

***********

Subuh pagi bulan purnama bersinar terang

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Subuh pagi bulan purnama bersinar terang. Di dalam kesenyapan tak tersentuh, sesosok pria muda berjalan setengah mengendap memasuki sebuah gedung megah yang sepi. Dengan hati-hati, dia membuka pintu ruangan. Cahaya bulan menyeruak bersamaan ketika dia melangkahkan kaki masuk dan menghamburkan pandangan, dia langsung shok hingga nyaris tumbang.

Apa yang dilihatnya mungkin tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Dua orang perempuan tergantung di tengah ruangan itu. Dia berjalan mendekat dengan langkah yang terseok-seok hingga pada akhirnya tersungkur di depan dua perempuan yang sudah kaku tak bernyawa.


"Yang Mulia

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.




"Yang Mulia....."
Tangisannya pecah saat itu juga. Sedih, kaget, shok dirasakannya di waktu yang sama melihat dengan mata kepalanya sendiri jejak kengerian di sana.

•••••••••••

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 29, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Lady of KingdomStories to obsess over. Discover now