Malam ini begitu dingin, aku meringkuk di bawah selimut untuk menghangatkan diri. Mataku tertuju ke jam yang ada di dinding kamar, sudah hampir pukul sebelas malam, namun suamiku—Arhan masih belum pulang. Aku meraih ponsel di atas nakas, berniat menghubungi Mas Arhan, tidak biasanya dia pulang selarut ini. Aku mencoba mengirim pesan dari aplikasi hijau.
[Mas, kok belum pulang. Ada lemburkah?]
Hanya centang satu, hatiku makin resah, tak biasanya dia seperti ini. Ponselnya tidak pernah tidak aktif atau kehabisan data. Aku mencoba berpikir positif, bisa saja ponselnya kehabisan daya. Untuk memastikan aku coba untuk melakukan panggilan, benar saja ponselnya berada di luar jangkauan. Mencoba menepiskan prasangka buruk, aku beranjak dari tempat tidur menuju dapur, segelas air dingin mungkin akan menenangkan. Baru saja beranjak dari kamar aku mendengar suara langkah kaki di dapur. Aku menghentikan langkah, mencoba menajamkan pendengaran, bisa saja pendengaranku yang salah. Namun, aku kembali terlonjak kaget saat mendengar suara gelas jatuh.
"Mas, apa kamu sudah pulang?" Aku berpikir mungkin Mas Arhan sudah pulang, namun tidak menyadarinya.
Hening, Takada jawaban, aku melangkahkan kaki secara perlahan ke arah dapur, tak lupa meraih sapu yang ada di dekat pintu. "Mas, jangan becanda, deh. Engga lucu tau."
Tetap hening, takada jawaban apapun, namun aku masih bisa mendengar ada langkah kaki yang terseret di dapur. Dengan langkah perlahan aku kembali berjalan ke dapur. Sejenak aku mengatur napas di depan pintu. Perlahan aku meraih sakelar lampu. Kosong, tidak ada siapapun di sana. Namun, aku bisa melihat bekas pecahan gelas di atas lantai yang basah.
"Apa mungkin tikus, ya. Tapi ... langkah kaki tadi engga mungkin tikus. Sangat jelas itu langkah kaki manusia." Aku bermonolog.
Tak mau pusing, aku segera mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan sisa kekacauan ini. Serta mengelap lantai yang basah. Jangan sampai Mas Arhan melihat pecahan gelas ini, bisa sangat marah dia. Lelaki itu sangat tidak suka jika melihat rumahnya berantakan. Setelah selesai membereskan semuanya, aku menyelesaikan niat awalku tadi untuk mengambil segelas air. Sekali lagi memeriksa keadaan dapur untuk memastikan bahwa tidak ada penyusup yang masuk. Setelah yakin semuanya aman aku kembali masuk ke dalam kamar.
Saat berjalan menuju kamar aku baru ingat, kamar Yasmin--anakku. Aku harus memeriksa keadaan anakku, jangan sampai ada penyusup yang bersembunyi di kamarnya. Dengan sangat hati-hati aku membuka pintu kamar anak perempuan tunggalku itu. Perlahan melangkah ke arah tempat tidurnya. Terlihat dia masih terlelap dan terlihat tenang. Aku juga memeriksa tiap sudut kamar dengan hati-hati, memastikan tidak ada penyusup di sana. Setelah memastikan anakku aman, aku segera kembali ke kamar, tak mau menganggu tidurnya.
Aku kembali merebahkan tubuh yang lelah ini. Malam terasa begitu dingin dan sunyi, hanya ada bunyi detik jam yang menggema samar di udara. Mataku tak bisa terpejam, entah kenapa malam ini begitu gelisah. Beberapa kali menggeser tubuh mencoba mencari posisi nyaman, tetap saja aku merasa tidak nyaman.
Aku kembali mengecek ponsel, berharap ada pesan balasan dari Mas Arhan. Aku sadar pertengkaran kami kemarin pasti membuatnya sangat tidak nyaman. Tapi, apa aku salah jika marah saat melihat milikku hendak direbut oleh orang lain. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Aku telah menemaninya di masa-masa tersulit, kini saat hidup kami sudah membaik, dengan seenaknya seseorang akan merebut. Sudah pasti siapapun akan marah. Terlebih jika mengingat sudah ada Yasmin diantara kami. Takkan kubiarkan siapapun merebut kebahagiaan kami. Tidak hari ini, esok, dan selamanya.
"Mas, semarah itukah kau, hingga tak pulang malam ini. Takkah kau memikirkan anak kita. Apakah perempuan itu lebih penting dari kami." Aku terisak sambil memeluk diriku sendiri.
Lagi-lagi aku terlonjak kaget, saat mendengar suara rintihan seseorang dari arah gudang. Aku bergegas berdiri, melangkah perlahan ke arah gudang di belakang rumah. Entah kenapa malam ini rumah terasa sangat suram. Rasa dingin terasa menusuk tulang. Saat melintasi dapur, aku melihat siluet seseorang yang berlari kearah gudang. Aku segera meraih pisau yang ada di laci penyimpanan. Bergegas mengikuti bayangan tersebut. Jantungku berpacu dengan cepat, keringat dingin mulai membasahi dahiku.
YOU ARE READING
DARK SIDE
Mystery / Thrillerkumpulan cerpen thriller dan psikologi yang mengangkat sisi gelap dan mental illness seseorang. setiap manusia memiliki sisi gelap yang tak terlihat. situasi tertentu akan membangkitkan sisi gelap tersebut hingga menjadi sosok yang dingin dan kejam...
