1 - Awal

133 65 17
                                        

Don't copy my story, okay?!!♡

Suasana tamaram pagi itu berhasil menyeret langkah seorang gadis ke ruang tengah. Terlihat sangat mengantuk.

"Tadaaaa, nasi goreng datang" ucap wanita paruh baya dari arah dapur.

"Abang mana mah?" tanyaku tanpa menghiraukan ucapannya.

"Di depan. Lagi manasin si jago" ucap mamah seadanya. Selebihnya hanya ada dentingan sendok dan piring.

Aku segera menghabiskan makananku lalu menghampiri abang.

"Gak sarapan?" tanyaku seraya duduk di samping kursi pengemudi.

"Udah selesai? Tunggu, abang pamit dulu" ucapnya tanpa menghiraukan pertanyaanku. Aku hanya bisa menghela nafas pasrah.

Abangku itu emang begitu, jika mau ujian, mendadak jutek, judes dan menyebalkan. Eh, mau ada ujian atau enggak, abang pasti menyebalkan.
Tak lama abang masuk ke mobil dan melajukan mobil menuju sekolahku.

**

Pukul 06.00, aku sudah sampai di gerbang sekolah, padahal kelas baru akan dimulai pukul 07.00 pagi. Mengetahui fakta tersebut aku hanya menghela nafas kasar. Aku selalu membujuk abang, agar aku diizinkan berangkat sendiri di hari senin tapi abang selalu menolak, katanya kita harus belajar hemat.

Athaya Syah Gunawan, atau kerap dipanggil abang olehku, merupakan kategori manusia disiplin dimuka bumi yang pernah aku temui. Katanya "lebih baik datang kecepetan daripada terlambat", nah kalau sudah begitu, aku memilih untuk diam karena mendebat pun percuma. Terlihatkan, betapa luar biasa menyebalkannya abangku itu.

Hari senin emang sudah dinobatkan hari paling menyebalkan bagiku.
Seperti saat ini, aku sedang duduk di bangku depan kelasku. Bukan tanpa alasan aku duduk disini, ya karena aku terlalu takut untuk masuk kelas sepi seorang diri. Hehe.

"Ya ampun, neng Ara memang pantas dinobatkan siswi teladan." celetuk pak satpam yang ku lihat habis membuka semua ruangan di sekolah ini. Aku pun hanya tersenyum.

"Ke kantin aja neng, disini sepi soalnya" lanjutnya.

"Ah gak perlu deh pak, Ara mau disini aja, anginnya menenangkan" ucapku sekenanya.

"Bapak gak tanggung jawab loh ya kalau neng Ara tidur disini. Yaudah bapak ke pos dulu" ucapnya yang dijawaban anggukan olehku.

Entah berapa lama aku menutupkan mata, hal itu terbukti ketika ada seseorang yang menepuk pipiku. Ah kayanya emang benar deh, angin di pagi hari itu menangkan dan bikin ngantuk.

"Gak punya rumah? Sampe tidur disini?" ucap Dewi yang sudah ada di sampingku. Ku lirik jam tanganku, ternyata hampir 15 menit aku menutup mata di bangku ini.

Tak lama kita berdua memutuskan untuk masuk kelas. Dan alangkah kagetnya ketika kita menemukan Hana sedang membaca novel seorang diri.

"Astagfirullah" ucapku pelan menghalau kekagetanku.

Tak larut dalam kekagetan, "Kapan datang?" tanya Dewi pada orang yang sedang membaca novel. Ku lihat Dewi berdecak lalu menghampiri Hana dan melepaskan headset Hana.

"Hana?!!" ucap Dewi sedikit menaikkan suaranya.

Hana pun menoleh ke arah Dewi lalu ke arahku. Bukannya menjawab, Hana langsung mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Dan meletakkannya di meja. Aku selalu dibuat bingung dengan tingkah teman sebangkuku itu.

"Kerjain. Aku tau kalian pasti lupa hari ini ada PR akutansi." Ucapnya santai seraya melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tanpa menghiraukan aku dan Dewi yang melotot sempurna.

"Aaaaaa sayang banget sama Hanaku yang satu ini" ucap Raya memeluk Hana yang tiba tiba masuk ke kelas dan mengambil buku seenak jidatnya.

Kalau bukan karena teman udah dicubit pake tang. Aku dan Dewi memutuskan untuk mengikuti Raya yang membawa buku tersebut.
Ketika sedang asyik menyalin, Nia masuk ke kelas dan meletakkan surat di meja guru.

"Apaan tuh?" ucapku yang menyadari kehadiran Nia. Ku lihat Nia menyenyir sambil mengangkat huruf V pada tangan kanannya.

"Ck. Dispen lagi?' celetuk Alya dari arah pintu kelas. Terlihat sekali betapa kesalnya manusia itu.

"Aku duduk sendiri mulu tau 3 hari ini, apaan sih osis, nyebelin banget" gerutunya sambil meletakkan tasnya di bangku.

"Ya gimana dong? Kalau sekolah yang mau ya harus ngikutkan?" ucap Nia mendadak lesu.

Hana yang sedang asyik membaca novel kemudian menatap Nia jengah.

"Sekolah buat belajar bukan organisasi. Keluar aja kan gampang" Celetuk Hana yang semakin menyudutkan Nia.

Aku bangkit dari bangku dan melihat ada dua surat di meja guru.

"Ceileh, yang mau dispen bareng doi." hiburku.

"Yuhuuu, pasti entar ada adegan mengantar ke rumah nich, secara kan pasti pulang malem" tambah Raya yang seolah paham maksudku. Aku pun mengangguk antusias.

"Ntar pap ya ke grup" ucap Dewi yang berhasil membuat Nia salah tingkah. Ku lihat Alya menghampiri aku dan Nia.

"Yaudah sana, tuh si Faris udah nunggu di depan pintu" ucapnya.

"Maaf ya, Al" lirih Nia sambil menunduk. Alya menggandeng tangan Nia lalu mengantarkannya ke depan kelas. Orang yang berada di depan kelas menoleh ke arah Nia dan Alya.

"Cowok kan?" tanya Alya yang dibalas dengan kerutan oleh Faris.

"Titip Nia. Kalau pulang lebih dari maghrib anterin sampe rumahnya." Ucap Alya yang berhasil membuatku bergidik ngeri.

"Yaudah keluar aja" ucapnya enteng yang berhasil membuat aku, Raya, Hana dan Dewi menghadap kearahnya.

"Kalau sekiranya bakal nyusahin. Mending keluar dari sekarang"

BATASStories to obsess over. Discover now