Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.
"kamu beneran mau sma di jogja?" tanya yaya, teman sebangku kinar yang juga menjadi sahabat kinar dari kelas 1 smp.
"aku beneran gakuat ya sama lingkungan disini, aku pengen hidup sendiri aja" kata kinar sambil mengusap air matanya kasar.
"jangan gitu dong! coba kamu pikirin lagi, pasti ada jalan keluarnya, kamu coba sabar aja pasti mereka dapet karmanya!" yaya mendengus, ia makin kesal sahabatnya dibuat sedih seperti ini.
"hush! jangan gitu, udah biarin aja... doain semoga nilai aku bagus dan aku bisa pindah dari sini" kata kinar senyum menatap sahabatnya dengan tatapan percaya.
"ah kamu mah gitu! masa kamu ninggalin aku sendiri?!?" yaya masi tak terima dengan ucapan kinar beberapa menit yang lalu, tentang ia berencana akan melanjutkan sekolah di luar kota.
"kamu itu punya temen banyak, masa kamu mau si di ejek karena main sama aku mulu?" tanya kinar, tangannya menjitak kepala yaya pelan. yaya mencibir dan mendekatkan diri ke kinar untuk memeluk gadis malang itu.
"gapapa deh kalo kamu pindah, itu keputusan kamu. asal janji ya buat tetep bahagia terus? nanti aku samperin deh kalo aku punya duit" kata yaya mengelus punggung kinar.
kinar tersenyum dan membalas pelukan sahabatnya.
yaya diam-diam menahan air matanya, jujur kasihan dengan teman sebangkunya ini. ia harus menyiapkan bahu dan harus selalu tegar di depan semua orang termasuk dirinya, di umur yang masih terlalu muda.
"oke, janji!"
—
nilai ujian sudah keluar beberapa hari yang lalu, kinar masih tidak menyangka ia mendapatkan nilai terbaik kedua di sekolahnya.
kinar menyiapkan diri sejak setengah jam yang lalu di depan ruang kerja ayahnya. tangannya enggan menyentuh gagang pintu sejak tadi. selang beberapa menit kinar memutuskan untuk mengetuk pintu ruang kerja ayahnya.
"coba dulu, kalo gabisa gapapa..." kata kinar meyakinkan dirinya sendiri.
diketuklah pintu ruang kerja ayahnya, setelah ayahnya mempersilahkan kinar untuk masuk kinar menghembuskan nafasnya dan memberanikan dirinya masuk.
terdapat ayah yang sedang duduk di depan tabletnya sambil menonton video lucu di youtube, kinar bungkam seketika. entah apa yang harus ia katakan kepada ayahnya, ia bingung.
"kenapa nduk? mau ngomong apa?" tanya ayah, tetapi matanya tidak beralih dari tabletnya.
kinar masih diam, menunduk tanpa melakukan apapun di depan meja kerja ayahnya.
tangan kinar meremat baju yang kinar pakai, kuat-kuat kinar menahan air matanya di depan ayahnya.
"kamu mau ngomong apa to nduk? kalo cuma diam gitu ayah ga ngerti, ayah bukan dukun" kata ayah, kinar makin mau nangis :(
"pindahin kinar ke jogja, tempat om cahyo" satu kalimat itu yang keluar dari mulut kinar setelah beberapa menit mulutnya terkunci.
ayah diam sebentar, pandangannya beralih ke kinar yang sedang menunduk menahan bahu yang bergetar.
"engga bisa" jawab ayah
"kamu tau kan kalo om cahyo orangnya sibuk? gabisa ngurus kamu, apalagi sekarang rumah dia jauh dari pusat kota" jelas ayah sambil menatap kinar.
kinar mendongakan kepala, menatap ayahnya dengan tatapan memohon.
"aku bisa tinggal sendiri yah, aku bisa jaga diri sendiri. aku udah besar, aku udah sma bisa jaga diri sendiri— ayah gaperlu khawatir—"
"kamu masih terlalu muda kinar!" suara ayah meninggi saat mendengar putrinya memohon untuk hidup sendiri.
kinar duduk berlutut di depan ayah, kali ini ia harus benar-benar pergi. jauh dari kota dan hidup sendiri.
"ayah, kinar janji bakal bisa rawat diri. yah, kali ini kinar mau banget sekolah di luar kota, jauh dari rumah ini. cuma ayah yang peduli sama kinar, ayah bisa kan bantu kinar?" kinar makin menunduk di depan ayah.
ayah menghela nafas, ia menatap figura foto keluarga di meja kerjanya. melihat kinar di foto itu dengan tatapan iba, ayah tau apa masalah kinar. senyuman palsu di foto itu, ayah tau sejak awal. tapi apa boleh buat? mau dibilang sampai mulut berbusa pun hanya sia-sia.
ayah juga tau, kinar mewanti-wanti untuk pindah ke kota adiknya berada. tapi di sisi lain ayah juga tidak mau anaknya jauh dari dia.
"kinar..."
"balik ke kamar kamu, ayah pikirin dulu" kata ayah dengan berat hati. kinar yang mendengar itu menatap ayah tanpa arti, buru-buru kinar menghapus air matanya dan berdiri.
"kalo ayah sayang kinar, ayah harus izinin kinar buat pergi sekolah di luar kota"
—
"kamu beneran mau sekolah di luar kota? ninggalin ayah sendiri disini?" tanya ayah saat membantu kinar membereskan barang-barangnya untuk pindahan besok.
"iya ayah, udah mantep banget ini kinar. lagian kan masih ada mama sama kakak sama adek, ayah ga kesepian lah!" jawab kinar.
"janji ya? jangan bilangin mama soal aku pindah ke jogja? ayah boleh kasih tau kalo aku udah pindah ke sana semingguan" kata kinar menatap ayahnya dengan tatapan memohon. ayah mengusap pundak kinar, lalu tersenyum bangga.
"anak ayah udah gede, jangan lupa sering kabarin ayah ya kalo disana?" kata ayah, tangannya mengelus pipi gembil putrinya sayang.
"kinar sayang banget sama ayah..." jawab kinar sambil menatap ayahnya dengan senyuman manisnya.
Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.
Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.