Hazel tan

27 4 1
                                    


HAZEL TAN: The Midnight School

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

HAZEL TAN: The Midnight School


"Teng..teng..teng"

Sebuah jam berdenting tiga kali, menandakan bahwa rembulan tengah penuh dalam pekatnya malam. Begitu pula dengan hari yang berada dalam fase pergantian. Tepat satu detik setelahnya.

"Krieett..drap..drap..drap.."

Sebuah pintu terbuka, menampilkan keberadaan seorang gadis muda yang sedang menyibukkan rambut dengan mata sembab karena bangun tidur. Ia melangkah menuju sebuah sofa yang terletak tepat di tengah ruangan. Ia memutuskan untuk duduk disana, mengumpulkan kesadaran dan nyawa, sesekali mengambil kudapan di depannya.

Hening, hanya ada suara kudapan yang ia kunyah pelan. Ia sendiri di ruangan, sampai akhirnya ia mengambil segelas air dari teko. Langsung saja cairan kehidupan itu mengalir menyejukkan kerongkongannya.

"Apa yang kau lakukan?"

" Uhuk! Bu?"

Spontan ia menoleh ke belakang, tepat dimana ia merasa sumber suara berasal. Nihil, ia ingat di ruangan itu hanya ada dia seorang diri.

"Kamu lalai, tidakkah kamu sadar!" suara itu tiba-tiba bersemilir di telinga gadis muda yang tengah berjaga dari ketakutannya.

Ia menoleh ke samping, tidak, itu bukan suara ibunya. Suara itu berat menusuk rungunya.

"Siapa?!!"

Sergah gadis itu keheranan, tangannya meraba-raba udara kosong. Perlahan ia memindahkan pandangannya lurus ke depan.

DENG!!

"KYAAAA!!!"

Sesosok bocah kecil berbusana putih dengan mata menghitam menatap tajam ke arahnya.

@@@@@

"Nona muda, apakah kita sudah bisa berangkat?"

Orang yang dipanggil Nona muda menyungging senyum tipis.

"Panggil Hazel saja madam."

Madam Lie, bersetelan semi resmi yang dipadukan dengan blazer coklat. Madam Lie bertugas untuk menemani perjalanan Hazel. Pembawaan Madam Lie yang tenang serta dewasa memang disiapkan untuk menemani Hazel.

"Apakah ibu memesan sesuatu pada Madam?"

"Tidak ada yang khusus Hazel, namun aku berharap kau bisa bertemu sedikit mengenai apa yang kamu rasakan sekarang."

Tutur Madam Lie sambil mengambil posisi duduk di samping Hazel, gadis berdarah biru itu langsung mengenakan safety belt karena kendaraan yang mereka tumpangi akan segera lepas landas.

"Aku merasa baik belakangan ini Madam."

"Bagaimana kalau saat ini? Apakah kau merasa aman di perjalanan udara ini?" Hazel berpikir sejenak.

"ya." Jawabnya singkat.

"Aku senang kau merasa aman, tidakkah ada rasa takut?"

"sedikit. Tapi aku percayakan ini pada pilot yang ada di depan, agar diriku merasa aman, aku mengikuti apa yang pilot itu minta kepadaku sebagai penumpangnya."

"Kau pernah melihat atau memandangnya Hazel?" Tanya Madam Lie.

"Tidak." Jawab Hazel sambil menggelengkan kepalanya.

"Madam, boleh kutanya, apakah kita akan sampai dengan selamat?"

"Hmm..aku tidak tahu pasti, namun yang bisa kita lakukan adalah memosisiskan diri agar selamat dan berdo'a, berharap semua baik-baik saja."

Hazel mengangguk.

"Aku merasa ada bagian yang hilang dari diriku madam." Ujar Hazel pelan, ia memilin kain lembut gaunnya. Matanya yang sayu melihat pantulan dirinya di kaca pesawat.

Madam Lie tersenyum, kemudian menggenggam kedua tangan Hazel kuat-kuat.

"Aku harap kau segera menemukan sophrosyne-mu. Karena yang kulihat, kau memiliki segalanya, bahkan di usiamu yang terbilang muda, kau memenangkan peluang profit tertinggi ketika dunia perekonomian mengalami inflasi."

"Sophrosyne madam?" Tanya Hazel bingung.

"pikiran yang sehat, pengendalian diri yang baik, yang membuatmu dapat mencapai kebahagiaan sejati."

"Dan kau harus menemukannya," sambung madam Lie.

@@@@@

Angin malam berhembus lebih kencang,menyerobot diantara benak gadis muda yang sedang terduduk diam, dengan peluh membanjiri pelipisnya.

"Hufft..ternyata aku bermimpi."

Mungkin, angin malam yang juga ikut menyaksikan, ingin memberikan jeda untuk gadis tersebut berpikir. Membiarkan suasana tenang untuk kesekian kalinya. Baginya, semua keberadaan memiliki alasan. Termasuk perjalanan yang ia lakukan bersama Madam Lie pekan lalu.

Ia selalu penasaran, gemas, itu yang selalu ia rasakan. Ia teringat ketika ia meminta perumpamaan kepada ibunya mengenai kepercayaan terhadap eksistensi tuhan. Ia sempat berpikir tuhan menciptakan manusia hanya sebagai pion yang bisa diatur semaunya, namun kali ini ia coba untuk berpikir bahwa tuhan memiliki alasan dibalik peraturan yang tuhan buat.

Mengakui adanya tuhan seperti mengakui adanya seorang pilot dalam sebuah perjalanan udara. Penumpang memang tidak mengetahui yang mana pilotnya, namun para penumpang diminta untuk mematuhi peraturan ketika perjalanan. Tak lain, agar para penumpang selamat sampai tujuan.

Gadis tersebut beranjak menuju kamarnya, mengambil gawai dan menekan sebuah kontak yang ditujukan untuk seseorang.

"Halo bu? Iya..besok pulang."

Dear Hazel Tan, lupakan peluang, kembalilah. Ada kehidupan lain yang harus kamu persiapkan. Percayalah, hidupmu akan tenang, dan jiwamu akan menemukan apa sebenarnya yang harus kau cari.

-finish-

HAZEL TAN: The Midnight School {SELESAI}Where stories live. Discover now