Kaki itu melangkah dengan percaya dirinya. Jika saja orang lain yang berada di posisinya saat ini, maka dijamin tidak akan memiliki keberanian untuk unjuk diri. Pasalnya Beomgyu, si siswa berprestasi yang terkenal kalem dan dingin ini tengah diriuhkan dengan suara-suara sumbang yang mencoba masuk pada rungunya.
"Amit-amit anjir!"
"Emang yang paling diem, yang paling serem!"
"Muka doang tampang kalem aslinya mah dih ... sakit!"
"Dasar pembunuh!"
Semua kata-kata mengambang itu tak akan pernah tenggelam ke dasar lautan pikiran Beomgyu. Sebab yang menebar benihnya adalah dia, Kai Kamal Huening, orang kepercayaannya nomor enam setelah Choi Yeonjun, Kim Taehyung, gurunya Kang Taehyun, dan tentu kedua orang tua.
Langkah kaki Beomgyu terhenti. Sesuatu mengalir lambat dari arah kepalanya yang tertutup tudung hoodie. Niat banget sih sampe bawa beginian ke sekolahan. Beomgyu tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertahan. Karena tidak memungkinkan bagi Beomgyu untuk memasuki kelas dengan keadaan luarnya yang kacau seperti ini, dia menukik tajam mengubah tujuan awal menjadi ke dalam toilet. Ada alasan kenapa siswa kelas 3 itu sekarang menjadi lebih sering memakai baju luaran yang cukup tebal. Terjadinya hal semacam tadi—telur yang mendarat pada kepalanya adalah contoh. Paling tidak itu sudah kejadian setiap paginya yang dia alami selama dua minggu terakhir.
"Laundry lagi ..." gumam Beomgyu mengemas hoodie hitamnya yang sudah berbau amis dan memuakkan.
Beomgyu menatap lurus ke arah kaca kloset tempatnya berdiri sekarang. "Jangan lemah, Gyu!" ucapnya, "Lo nggak salah."
Dia tersenyum pada dirinya di dalam cermin. Beberapa kali menghela napas untuk mengaturnya agar lebih damai dan tenang menghadapi tanggapan miring tentangnya dari warga sekolah. Merasa sudah lebih baik, Beomgyu bergegas mengeluarkan diri dari toilet, beberapa menit lagi sekolah akan dimulai.
Beomgyu sudah berada di dalam kelas. Setiap murid yang berpapasan dengannya, segera menjauhkan diri. Bahkan ada yang sampai ditarik paksa oleh teman yang lain.
Sejak dua minggu lalu, Beomgyu diasingkan dari kelas. Awalnya, dia duduk di barisan paling depan dekat dengan guru yang mengajar, tapi sekarang, dia sendirian di pojok belakang dengan meja yang penuh tulisan bermodalkan tipe-x serta spidol menyatakan dia adalah seorang pembunuh. Ada yang mengatakan bahwa 'bisa karena terbiasa'. Dan Beomgyu adalah bukti nyata dari kalimat itu. Dia sudah terbiasa dengan segala hal yang menimpanya sekarang.
Beomgyu mengeluarkan ponselnya. Menatap sendu layar itu hingga sesekali membelainya rindu. "Maafin gue, Jun," lirih dia, "harusnya gue—"
Berhamburan para murid yang berada di luar memasuki ruang kelas. Ucapan Beomgyu sampai terputus karena riuhnya tapak sepatu yang menghantam lantai secara brutal. Beomgyu bukanlah anak yang begitu teladan, tapi saat ada guru masuk mengisi jam pelajaran maka dia hanya akan berfokus padanya. Seperti sekarang ketika wali kelas memasuki ruang-seingat Beomgyu, hari ini tidak ada pelajaran dari guru wanita tersebut.
"Tolong perhatiannya," ucap Ibu guru seketika mendapati hal yang dia inginkan.
"Ayo masuk, Nak," serunya mengarah pada pintu masuk.
Beomgyu pikir akan ada murid baru di kelasnya ini. 100 untuk Beomgyu karena tebakannya benar. Orang yang dipanggil Ibu gurunya mulai melangkah masuk. Yang tidak pernah Beomgyu bayangkan adalah ketika melihat tinggi tubuh si anak baru yang menurutnya kelewat jangkung. Tinggi banget anjir! Manusia bukan?! Pupil matanya bergerak ke kiri dan kanan setelah bergumam itu di dalam hati. Pusing amat mikirin kaya gitu, Gyu! Mau bukan manusia juga bukan urusan lo kayanya!
"Annyeong." Beomgyu berjengit. Ia terkejut mendapati suara berat yang menyapa telinganya.
"Lo? Ngapain di sini?" Beomgyu bertanya pada pria yang sudah terduduk rapi di kursi sebelahnya.
"Tempat lo kosong," balas santai si pria.
"Tapi di situ juga kosong." Beomgyu menunjuk dengan semua jarinya pada meja di depan, "Kenapa pilih deket sama pembunuh?"
"Apa?" Heran si anak baru.
Napas Beomgyu sedikit tercekat kala menyadari apa yang baru saja dia katakan.
"Kenapa nggak duduk sama dia aja?" Mata Beomgyu mengarah pada meja yang sebelumnya dia tunjuk.
"Oh." Pria di sebelah Beomgyu mengangguk paham, "Itu terlalu deket sama guru."
"Tapi ini terlalu jauh, bodoh!" Yang bagian terakhir sudah masuk dalam mode senyap di bibir Beomgyu yang hanya menyisakan pergerakannya saja.
"Biasanya yang terdekat, selalu yang tak terlihat."
"Gue Choi Soobin." Pria itu tersenyum.
"Beomgyu," jawabnya meraih uluran tangan Soobin, "gue Choi Beomgyu."
Kedua pemuda itu tersenyum canggung dengan masing-masing melayangkan tatapan yang sulit diartikan. Soobin melepas jabatan tangannya, tapi tidak dengan senyumannya. Gue harap lo bisa bantu gue, Choi Beomgyu.
TBC—💙💙💙
Dan terima kasih untuk yang sudah membaca cerita ini. Jika suka, bisa kalian tekan gambar bintangnya ya, guys!
YOU ARE READING
WRONG || SooGyu
FanfictionKematian kekasihnya Choi Yeonjun, membuat Choi Beomgyu dituding sebagai pembunuh. Satu sekolah menjauhinya, bahkan kedua sahabat yaitu Kai Kamal Huening dan Kim Taehyung pun menjadi bagian dari mereka. Berbeda dengan gurunya Kang Taehyun yang justru...
