PART 1

16 4 1
                                        

Dimas masih tetep terduduk dengan secangkir kopi yang mendingin. Sesekali ia menyesap kopi yang seakan masih panas. matanya menatap tajam pada benda yang kini berada dalam genggamannya, undangan bernuansa silver dengan kombinasi ungu muda, masih ia genggam. Dimas baru saja mendapatkannya beberapa menit yang lalu, saat usai membuat kopi. Dimas tidak habis pikir. Lagi dan lagi...

Drrrrtttt,,, drrrttttttt,,,,

Kini, diletakkannya undangan itu di atas meja samping tempat ia duduk. Diraihnya ponsel yang sebenarnya sudah berdering sedari tadi namun ia abaikan.

"Kau di mana?" suara perempuan dari seberang telepon. Dimas kenal betul suara perempuan itu. Siapa lagi kalau bukan wanita yang selalu menghiasi harinya dengan berbagai warna. Malah terkadang berwarna kelabu. Yap, karena Dimas tidak benar-benar mengerti dengan perasaan perempuan itu terhadap dirinya.

"Di rumah. Sedang menikmati kopiku," dustanya. Faktanya bahwa seakan indera perasanya telah mati. Kopinya sudah dingin dan dia tidak bisa merasakan kenikmatan dari kopi yang dingin itu.

Terdengar helaan nafas jengkel dari seberang sana. Dimas juga tahu bahwa dia tidak bisa membohongi perempuan yang terpaut usia setahun lebih tua darinya. "Kau pasti telah membaca undangannya bukan?"

Bagaimana dia bisa tahu kalau Dimas telah menerima undangannya? Batin Dimas, "Belum," Dimas memutuskan untuk menjawab dengan singkat dan membuat perempuan itu penasaran. "Belum... aku belum membaca isinya, aku bahkan belum membuka sampulnya,". Dimas tidak setega itu membuat perempuan yang tengah ia ajak bicara penasaran.

"Kalau begitu, apakah kau bisa membuka pintu depan rumahmu untukku?"

"Kau ada di rumahku?" tanya Dimas setengah tak percaya.

"Yup,,, tepatnya di luar rumahmu," kata perempuan itu sedikit menekan dan sambil mecoba membetulkan tali sepatunya yang tidak dia sadari sudah terlepas dari tadi. Dia berjongkok dan ponselnya kini diapit antara bahu dan telinganya.

Sementara sang empunya rumah berjalan dengan langkah malas untuk membuka pintunya, telepon yang masih tersambung pun diputuskan sepihak, dan ketika dia membuka pintu, sosok perempuan yang dia kenal baik itu langsung berdiri kembali dengan memasang senyumnya. Senyum yang pahit, itu yang dikatakan mulutnya Dimas, tidak dengan hatinya. Dimas selalu menganggap itu adalah senyum termanis yang selalu disuguhkan kepadanya.

Tanpa dipersilahkan, perempuan itu langsung masuk ke dalam rumah yang sudah dianggapnya sebagai rumah sendiri. "Aku baru tahu bahwa kau menjadi penikmat kopi dingin," kata tamu yang tak diundang tersebut. Dia tidak menunggu jawaban dari Dimas, "Kenapa belum kaubaca?" tanyanya kemudian saat melihat undangan yang masih pada sampulnya itu.

"Aku sudah membacanya," sanggah Dimas.

"Well, yang aku maksudkan, kenapa belum kaubaca isinya?"

Kini Dimas membaringkan badannya di atas kursi malas yang terletak menghadap ke kolam renang dan tak jauh dari tempat Rere duduk. "Untuk apa aku repot membuka dan membacanya, kalau bisa kutebak isinya dengan jelas." tukasnya.

Rere mendengus pelan, "Baiklah. Aku ke sini bukan untuk memabahas itu." Dimas tak acuh, dan malah memejamkan matanya, mencoba menghapus pikiran tentang undangan sialan itu, "Dim," panggil Rere kemudian.

"Hmm?"

"Are you okay?"

"Seperti yang kau lihat." yang Rere lihat, Dimas benar-benar tidak baik-baik saja. Yang dia lihat, pria bertubuh tinggi dengan postur yang tidak terlalu gemuk atau kurus yang kini tengah mengenakan kaos putih polos dengan jeans selutut kesukaannya, sedang bersender pada kursi santai dengan sekelumat pikirannya sendiri. Berperang dengan pikiran-pikiran yang entah apa itu, mencoba menyusunnya namun teracak kembali. Dimasnya sedang mencoba menutupi semuanya dari Rere. Bukannya Rere sok tahu, tapi itulah yang Rere lihat sekarang. Walaupun Dimas hanya terbaring dengan mata terpejam. Tapi Rere benar-benar tahu apa yang terjadi pada pikiran Dimas.

Rere terdiam, dia mengambil undangan silver itu, dan membukanya. Tertera dengan jelas nama-nama yang dia kenal baik, Tania dan Raditya. Tania adalah mantan pacarnya Dimas. Bukan. Bahkan mereka berdua belum sempat mengatakan kata putus. Walaupun Rere tidak begitu dekat dengan Tania, namun Rere cukup mengenalnya dengan baik. Dimas selalu menceritakan apa pun tentang Tania kepadanya. Rere paham betul apa yang kini dirasakan prianya.

"Acaranya masih dua minggu lagi. Apa mau kutemani?" Rere bersuara dengan hati-hati.

Dengan mata yang masih dipejamkan Dimas hanya bergumam, "Entahlah," Dimas membuka matanya dan beranjak dari posisinya kemudian meraih jaket kulitnya dan kunci motor yang berada disamping gelas kopi yang tidak dihabiskan. "Kau mau tetap mematung di situ?"

"Heh? Hah?" Rere kebingungan tapi dia malah mengikuti langkah Dimas.

"Lapar. Makan, yuk." ajak Dimas kemudian.

---

"Apa yang mau kaubahas hingga bertamu di rumahku pagi-pagi begini?" tanya Dimas saat hidangan yang mereka pesan tiba. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi saat Rere bertamu di rumahnya Dimas. Sebenarnya Rere bohong dengan kata-kata bahwa dia hendak membahas sesuatu, selain undangan itu.

"Ehmmm,,," Rere mencoba mencari alasan yang tepat, "Ehmmm,,, oh iya, aku sebnarnya mau pamitan. Besok aku akan ke Medan untuk beberapa hari." Rere berusaha meyakinkan Dimas dengan ekspresi yang dia pasang seserius mungkin.

Dimas malah memasang wajah mencurigai, "Aneh kau ini. Biasanya juga sudah di tempatnya baru kau memberikan kabar,"

"Yah hari ini kan berbeda," elak Rere sambil mengunyah makananya.

Tidak banyak berbincangan selama makan. Dimas memang melarang Rere berbicara saat sedang makan. Dan itu berarti Dimas sendiripun tidak boleh berbicara. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.

"Kapan balik dari Medan?" tanya Dimas lagi ketika Rere meneguk airnya yang terakhir.

"Hari sabtu sudah di sini lagi kok,"

"Baguslah," kata Dimas lega.

"Kau takut aku tidak menemanimu ke pernikahnnya Tania?" ledek Rere sambil menahan tawanya.

Dimas bergeming, "Ya tidaklah. Aku berpikir untuk tidak pergi dan mau mengajakmu ke Lombok minggu depan."

"Suatu pelarian?"

"Mungkin." Dimas mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar dan kemudian tersenyum setelah mendapatkan kembalian. Dia berjalan keluar dari warung yang terbuka 24 jam itu, "Aku tidak perlu hadir di sana. Karena kau sendiri tahu apa yang akan terjadi jika aku hadir," kata Dimas datar.

"Yah,,, memang sebaiknya aku menemanimu melarikan diri,".

---

FINIFUGALWhere stories live. Discover now