Prologue.

179 22 46
                                        

"Secepat apapun masa mengejar mencoba melenyapkan kenangan indah itu, aku memilih bertahan atas nama kenangan, meski terasa menyakitkan untuk diterima." - Hendry Erick Anggara.

Chapter Prologue: starlight in the sky.

Song Recommended : Gone - by Roseanne Park (Rose Blackpink)

***

"War, lo bisa engga jemputin gue?" Seorang lelaki tampak berceloteh dengan seseorang disebrang sana melalui ponsel pintar mahalnya. Tangan lelaki itu sedikit menarik ujung black mask- nya hingga turun ke-dagu, karna menghalangi suaranya untuk keluar. Dirinya berdiri tepat didekat lokasi parkir kendaraan di- bandara. Manik kecoklatannya menangkap satu persatu pergerakan manusia-manusia yang berlalu-lalang tanpa memperdulikannya.

Dirinya merasa lega. Setidaknya, tidak ada yang mengenalinya berjalan dibawah terik matahari.

Lelaki dengan bucket hat, black mask, kaos oblong hitam polos bersablonkan inisialnya dan celana ripped jeans hitam itu bernama Hendry Erick Anggara. Seorang model papan atas dengan segala popularitas yang meroket dan semakin mendongkrak. Belum lagi status keluarganya yang merupakan orang yang paling terpandang di Indonesia.

Hendry termasuk salah satu anak lelaki kesayangan tuan agung kepala keluarga Anggara turunan ketiga. Dirinya terlahir dengan suapan sendok emas yang menyertainya bahkan sebelum kaki mungilnya menapak tanah. Sejak kecil, Hendry sudah sering wara-wiri masuk ke- dalam Disneyland California bersama orang tuanya dan tentu juga bersama kelima saudara kandungnya. Mungkin bagi beberapa masyarakat dimasa itu tentu saja itu bukanlah yang sering terjadi pada anak-anak lainnya. Namun, sudah tidak menjadi suatu keheranan bagi teman-teman Hendry lainnya tentang bocah lelaki itu sering menghabiskan masa liburan sekolahnya dengan bertandang ke-negri orang.

Walau terlahir dari keluarga terpandang serta kaya raya, bukan berarti Hendry akan selamanya bergantung hidup atas nama orang tuanya. Merintis karir menjadi seorang model dari nol merupakan passion- nya. Menurut Hendry, hidup memang di- mulai dari bawah, dari nol, dan akan meroket ke- angkasa raya diimingi dengan prestasi atas kerja keras.

Kenapa harus takut mencoba? Tidak ada salahnya jika mencoba menjadi apa yang kita impikan. Selagi itu hal yang baik dan tidak mengundang dosa.

Hendry dengan sebuah koper dan ranselnya baru saja keluar dari jalur pintu arrival, kini memutuskan untuk menunggu didepan lokasi parkir bandara Soekarno-hatta untuk menunggu mobil sohib pekok-nya menjemput. Namun bukannya datang untuk menjemput Hendry yang selesai mengurus beberapa hal dibandara, sang teman laknat malah asik duduk manja di- apartemennya sembari menonton drakor on-going, dan itu tidak bisa di-ganggu gugat!

"Sorry. Gue lagi nonton drakor ini. Sayang kalo di- pause. Lo pesen taksi aja, gimana?" Seorang wanita yang merupakan lawan bicara Hendry malah tampak antusias dengan drama yang dirinya tonton. Tidak perduli dengan Hendry yang mulai berceloteh sinis tentangnya.

"Woi anjeng! Biaya taksi mahal goblok! Dompet gue bisa langsung kering! Buruan, jemput gue," Tekan Hendry berdecak sebal. Hendry me- rolling- kan matanya jengah kala seseorang yang sudah ber-sahabat dengannya puluhan tahun silam berteriak membentak melalui ponsel begitu memekakkan.

"Heh denger ya Supri. Sekalipun lo beli 10 Lamborghini, keluarga lo gak akan ada kere- nya. Cuma bayar taksi 100.000 doang, udah kayak beliin titan seribu box Oreo Supreme!"

ZamenaStories to obsess over. Discover now