Bongkahan cermin di titik senja, di antara pesisir pantai masih terhela. Membawa rindu yang bermetamorfosa sepi. Dinding tabir terkias jelas, bahwa manusia hidup hanya untuk mengikuti kusutnya benang takdir. Hikayat hanya akan menajadi kenangan, yang jelas tergambar dalam benak. Siapa sangka sifat asli manusia adalah keserakahan, yang fana tetaplah emosi, yang menyakitkan perpisahan, yang baku adalah waktu. Jika titik balik manusia penyesalan, lalu jawab apa? Menurutku mengabaikannya mungkin. Siapa sangaka burung yang mencintai langit akan jatuh, bertahun-tahun ia bertahan diantara gelap dan badai. Bukan berarti burung itu tidak bisa melanjutkan terbangnya, namun keinginan dan lingkungannya serta pandangan-pandangan terkait dengan keinginan yang berbeda. Sehingga meluluhakan tekadnya, ia memutuskan untuk tidak terbang,melipat sayapnya dan jatuh tanpa menyimpan luka. Mungkin tidak terlihat dia terluka, terbang bertahun-tahun tak mingkin tidak meninggalkan apapun. Sulit sekali untuk burung itu mencari seorang sosok yang tidak menyaksikan pertumbuhannya, mencari-cari pada bumi, langit, rumput, pasir, laut dan kutub. Dia tidak akan pernah menemukannnya karena terus mencari-cari. Mau dia menggantinya dengan bumi, langit, pasir, laut dan kutub. Semua tempat yang dia cari takan bisa memenuhi kebutuhannya, karena tempat tersebut hanyalah tempat, ia bebas menumbuhkan apapun, ia berhak menginginkan apapun. Jangan salahkan tempat itu, jika yang di minta buah jeruk lalu tempat itu menumbuhkan pohon apel. Tidak ada yang dapat melepas keinginan dan harapan. Manuasia hanya mencari itu, baik burung maupun berbagai tempat tadi.
Tanah tandus yang sama sekali tidak memiliki apapun kering kerontang,
kemarau berkepanjangan tak ada hujan setetespun, tidak menerima rumput satupun , tidak pernah mempercayai akan ada kehidupan di sini; Awalnya tanah ini subur pernah ada mawar tumbuh di sana. Bahkan menghilangkan, berbagai macam kehidupan. Karena tanah tak ingin ada kehidupan apapun selain mawar. Tak lama mawar berguguran, lambat laun sedikit demi sedikit menghilang terhapus angin. Dari situ, hujan terus merintih, berdoa untuk tidak mempercayai apapun yang akan hidup di sana. Menutup segala apapun yang akan menyentuhnya. Melindungi apapun yang akan datang terhadapnya, menjalani hidup dengan ketandusan tanpa mempercayai apapun, karena percaya adalah luka. Tanpa di sengaja burung itu jatuh diantaranya, hubungan mereka tak lebih hanyalah sahabat. Ntah mengapa, tanah enggan membiarakanya pergi. Padahal ia tidak akan menerima apapun. Meski harus terus membual. Tandus tetaplah tandus berpura-pura subur dengan fatmorganapun takan bertahan lama. Sudah tandus, banyak berfikir tentang kebohongan agar terlihat subur dan hebat. Burung mempercayainya, tinggal di sana tanpa lagi harus terbang. mendirikan istana dengan megahnya. Mengubah tanah secara perlahan, namun tetap dengan kebohongannnya melindungi diri, agar burung enggan pergi. Disisi lain ia bergelut dengan diri sendiri bahwa halanya semua akan meninggalkannya, takan pernah ada satupun kehidupan yang nyata. Burung tanpa sadar telah terlalu jauh masuk ke bagian terdalam cintanya. Menjadi raja di Istana megah lupa bahwa tandus adalah identitas sejatinya. Menutupi segala kesalahan dengan melemparnya pada si burung, dengan berfikir burung takan kemana-mana, takan ada tempat yang menerima selain dia. Padahal sejatinya seekor burung akan selalu terbang kemanapun ia ingin. Aku adalah seorang yang percaya pada hasil pemikiran, mengabaikan hati nurani, lalu menjadi penjilat, melempar kesalahan pada orang lain cara bertahan hidup, seorang tokoh antagonis dalam ceritanya sendiri.
Nayanika: " aku ingin melepaskan sesuatu yang takan mungkin ku lepas ?"
Zuntara: "bagaiamana, kamu tidak dapat melepas sesuatu?" ( Sementara plasenta harus melepaskan dan membekas diantara hubungan ibu dengan talipusar milik anaknya) pemikiranku tidak goyah manusia dapat melepas sesuatu jiak dipakasa harus melepas.
Nayanika: " aku telah bertahun-tahun hidup bersamanya ia melengapi sosok yang terpenting. Yang juga bertahun-tahun, telah hilang dalam hidupku"
Zuntara: " lalu apa yang membuat kamu ingin melepasnya?"
Nayanika: " seperti seekor burung yang terjebak diantara badai, padahal langit itu awalnya cerah, fajar berwarna kuning keemasan berada telak di dapan mataku.hangat rasanya berada di dalam. Lalu ku putuskan untuk terbang. Dan berfikir takan pernah ada badai dan hujan lebat, aku selalu befikir akan timbiulnya pelangi. Namun jauh diatas sini tak pernah ku kunjungi. Saat ini akupun masih sulit mencari jalan keluar di tengah badai "
Zuntara: " tak pernah kamu lihat betapa indahnya hidup di bawah sini?"
Nayanika: "sesekali aku melihat ke bawah namun tak pernah lama, gumpalan awan selalu menutupi mataku, lalu hujan yang tidak dapatku belah menggerayangi bulu-bulu halusku, menembus ke dalam kulitku, Sampai-sampai badanku basah dan aku harus di paksa terbang kembali karena takut jatuh "
Zuntara: "Aku tak berharap kamu jatuh juga, aku menyayangkan terbangmu yang bertahun-tahun, kamu mungkin sudah tahu iklim untuk hidup di sana. Berpisah dengan langit bukan satu-satunya jalan keluar yang aman kok."
Aku tidak berfikir apakah, yang aku ucapkan baik-baik saja? Sembari melihat wajahku ia menawarkan wajah minta tolong. Seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu. Tak lama, air mata mengalir dipipinya. Aku menunduk dan memegang tangannya, lorong kampus menjadi peristiwa ntah bagaimana kami berada dalam percakapan itu. Sementara aku bercerita masalah yang tertarik pada temannya. Sesekali aku juga menceritakan tentang kehidupan, tentang aku yang tidak tandus sebelumnya. Tentang harum bunga mawar yang selalu ku ingat. Lagu payung teduh "berdua saja" menjadi jembatan perasaan aneh yang aku miliki. Aku segera meninggalkannya karena takut merusak persahabatan kita, aku memutuskan lari dari situasi itu, dan mengabaikan perasaan yang barusaja tercipta. Sebagai sahabat aku tak ingin lagi melihatnya menangis. Dan ternyata benar aku tak pernah melihat dia menangis selama bertahun-tahun karena gumpalan awan dan hujan yang memisahkan kita. Sesekali di setiap malam dengan pemikiran kacau, dia selalu nampak dan aku selalu mengabaikannya. Waktu memberi hadiah di malam sebuah ruangan pelatihan. Bagaimana aku tidak melihat sesuatu yang indah, kami terlibat lagi dalam suatu percakapan di tengah-tengah kawan, namun yang tersisa hanyalah kami berdua, kembali aku tidak ingat bagaimana percakapan itu terlahir, di antara hening. Aku melihat seseorang yang indah dengan kaos hitam polos dan seluruh rambut terikat. Wajahnya fokus menulis sebuah laporan, aku terus memperhatikannya di meja makan dan kami duduk sejajar. Tulisannya rapih, wajahnya indah, matanya tajam, sayu dan polos "kamu seperti seorang penulis". Aku tak sadar bagiaman aku membahasakannya. Dia berhenti menulis dan melihatku, senyum dan kedua matanya tertutup, waktu berhenti, aku berdebar. Ia kembali menulis lalu aku berpura-pura mengambil air minum. serta pergi ke kampar tanpa melihantnya lagi. Melewati lorong-lorong sambil menolak perasaan yang terlahir, aku mengabaikannya lagi. Dari sana kami tak pernah Berbicara lagi, seperti layaknya seorang teman yang berada pada lingkaran yang sama berkumpul dan bercanda, namun ada peristiwa dimana ia terlihat marah. Kala aku mendapat hadiah jam tangan di sana tersimpan kebodohanku mungkin. Selepas itu, kami jarang bertemu karena terlalu fokus dengan tugas akhir. Aku sih tidak fokus malah mengabaikan. Lalu persitiwa besarpun tercipta
*****************
Sekian chapter 1nya makasih sudah membacaaa
YOU ARE READING
Tamisra
RomanceSebuah cerita, Suatu penolakan rasa dan transisi yang buruk seorang pecinta yang menjadi pendusta. zuntara yang sibuk mencari arti kesetiaan, tulus, dan ihklas di paksa menarik komitmennya. untuk mencintai sorang sahabatnya nayanika.
