PROLOG

207 10 1
                                        

Bacalah prolog ini sambil mendengarkan lagu

🎵 "Instrumen sedih -Jemari ibuku" 🎵

                                       ***

11 Maret 2025

Sepuluh Tahun Setelah Ia Menghilang.

Sepuluh tahun lalu, seorang perempuan menghilang tanpa jejak. Tanpa pesan. Tanpa pamit. Hanya meninggalkan doa yang tak pernah selesai. Ia menghilang di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan harapan. Dunia mencarinya dengan suara, sementara Tuhan menyimpannya dalam diam. Tak ada yang tahu ke mana ia pergi, apakah ia hidup, atau telah menjadi kenangan yang dikubur waktu. Yang tersisa hanyalah satu keyakinan bahwa ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya disembunyikan oleh takdir.

Sepuluh tahun kemudian, waktu membawa semua luka ke satu titik yang sama. Malam itu hujan turun perlahan, seperti dzikir yang tak bersuara. Sebuah majelis kecil digelar di halaman pesantren, sederhana namun hangat. Orang-orang datang dan pergi, sebagian untuk mencari ilmu, sebagian untuk mencari ketenangan. Tak ada yang menyangka bahwa malam itu akan menjadi malam pertemuan dua takdir yang pernah dipisahkan secara kejam.

Seorang lelaki berdiri di hadapan jamaah. Wajahnya teduh, suaranya tenang, matanya menyimpan lelah yang telah lama berdamai dengan kehilangan. Sepuluh tahun lalu, ia pernah bertemu seorang perempuan di sepertiga malam. Perempuan tanpa suara yang hanya meninggalkan selembar mukena dan doa.

Malam ini, ia kembali memimpin doa. Di antara jamaah perempuan, berdiri seseorang dengan gamis gelap dan kerudung sederhana. Wajahnya tertunduk, jemarinya bergetar pelan. Ia tidak berkata apa-apa. Ia memang tak pernah pandai menjelaskan luka dengan kata. Namun dadanya bergetar hebat karena suara itu. Suara yang sepuluh tahun lalu menjadi saksi bisu hidupnya. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Dan di detik itulah, waktu seperti berhenti.

Tatapan mereka bertemu. Singkat. Namun cukup untuk mengguncang seluruh kenangan yang pernah dikubur. Tak ada sapaan. Tak ada nama yang terucap. Hanya hening yang terlalu penuh untuk diabaikan.Ia tersenyum kecil. Lelaki itu terdiam lebih lama dari seharusnya. Tak ada yang tahu bahwa perempuan yang berdiri di sana adalah wanita yang selama ini ia cintai 15 tahun lalu. Tak ada yang tahu bahwa sepuluh tahun lalu, ia menghilang bukan karena lemah melainkan karena harus bertahan hidup. Dan tak ada yang tahu, bahwa pertemuan malam itu bukan kebetulan. Karena beberapa pertemuan memang tidak datang untuk dimulai kembali melainkan untuk diselesaikan dengan cara Tuhan.

***

Misi Bertemu Cinta [Tahap Revisi]Stories to obsess over. Discover now