Prolog

78 11 2
                                        


"Kau tahu apa yang lebih menyakitkan, Daniel?"

Sang lawan diseberang sana diam seribu bahasa. Entah apa yang harus dikatakannya. Diam adalah jawaban terbaik dari segala ketidaktahuannya. Bingung. Gelisah. Semua bercampur menjadi kesatuan didalam dada.

Jujur saja, kedua rungu pemuda itu seperti tidak siap mendengar kalimat yang akan dilontarkan Gadis itu selanjutnya. Setidaknya itu yang hatinya katakan —sebuah pengakuan dari Sang Gadis yang sepertinya tidak mengandung makna yang manis. Suaranya gemetar. Seperti sudah tidak sanggup lagi menahan. Rasanya ingin Memeluk. Mendekap. Tetapi keadaan tak memungkinkan.

Jarak menjadi alasan pertama. Gengsi menjadi alasan kedua. Serta, Renggang menjadi alasan ketiga. Tentu saja, sebuah hubungan —hubungan apapun itu tidak selamanya berjalan mulus, Bukan?

"Aku. Disini. Dengan semua rahasia hati yang ku pendam sendiri. Perasaan ku pada lelaki sepertimu yang ku coba untuk menyimpannya dalam-dalam. Agar tidak melukai hati orang lain. Sementara hatiku sendiri seolah melakukan tindak bunuh diri. Hatiku terluka. Kau dengan duniamu yang penuh warna. Aku dengan duniaku yang dikuasai oleh Hitam —rasa sakit yang mendalam.

Aku yang mencoba meyakinkan diri, jika semua ini adalah sebuah kebenaran. Jelaskan padaku, Kebenaran macam apa namanya jika aku membiarkan semua orang bahagia, sementara diriku yang menanggung semua beban yang ada?
Kebenaran macam apa namanya jika keadaan yang memaksaku setiap harinya berpura-pura terlihat bahagia padahal hatiku enggan menyuka?

Jujur saja, mencintaimu membuatku lupa cara untuk mencintai diriku sendiri."

Gadis itu rasanya ingin bersorak keras. Lega. Namun sedikit cemas. Cemas dengan keadaan yang mungkin saja akan berubah sepenuhnya.

TACENDAWhere stories live. Discover now