Ara menempatkan 'Tony Stark' pada lego malibu mansion yang ada di hadapannya. Setelah berkutat lama, membolak-balik menelaah lembar instruksi, pegal dan kram pada kaki akhirnya malibu mansion itu berdiri dengan kokoh.
"Hei Stark, akhirnya rumah lo jadi juga" Ara tersenyum tipis. Kemudian cewek itu bangkit, berniat meletakkan rumah Stark tersebut di atas untuk bergabung bersama rekan sejawatnya. Tapi ia tersadar bahwa tak ada lagi tempat tersisa di sana. "Yah.. Masa mesti beli rak lagi?"
Sejenak ia raih ponsel yang tergeletak di atas karpet. Waktu sudah lewat dari pukul 11 malam. Saat itu ponsel Ara sepi dari notifikasi. Hari sudah hampir berganti namun tak ada kabar sama sekali dari cowok itu.
Ara tak bisa dibohongi, ia pun juga merasakannya. Ada sesuatu yang hadir di antara mereka. Membuat jeda pada tiap langkah yang mereka ambil bersama. Menyebabkan cowok itu limbung dan membuat Ara seperti sendirian berjalan.
Azkara Alhakim:
Ra, aku lagi futsal di daerah Bogor ya. Temen aku yg ngajak, bosen katanya di tempat biasa.
Empat jam berlalu sejak chat terakhir cowok itu. Biasanya satu atau dua pesan lain dari cowok itu sudah menghiasi layar ponselnya. Namun malam itu, blash! Tak ada apapun. Tak ada pesan ataupun panggilan telepon. Hal ini semakin membuat Ara berpikir lebih jauh.
Ara pun tak patah arang. Ia langsung mendial nomor Azka. Namun seperti yang ia duga, tak ada jawaban. Berusaha untuk terus positif, bisa jadi cowok itu sedang menyetir dalam perjalanan pulang sehingga tak bisa meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Ia menatap layar ponsel yang makin meredup lalu berusaha untuk tenang. Sulit rasanya untuk bertahan karena kini pikirannya sudah melanglang buana mengingat headline berita yang ia baca tadi pagi.
Mobil raib dibegal, pengemudi mengalami luka bacok.
Atau
Diduga mengantuk, pengemudi tabrak pembatas jalan.
Namun hidup selalu menawarkannya pilihan. Cewek-cewek lain pada awal umur 20 tahunan seperti dirinya mungkin akan terus membombardir pacar mereka dengan panggilan. Namun ia tidak akan melakukan itu. Kakinya yang kram pasca merakit lego dan bantal nan empuk sudah memanggil-manggil namanya sudah menjadi cukup alasan untuk segera terjun ke atas kasur.
Arunika Adistya:
Az, kamu udah pulang? Aku mau tetep telpon takut kamu lagi nyetir. Nanti kalo udah sampe rumah kabarin aku ya sayang. Miss you ❤️
Ara menatap figura yang tergantung di tembok. Fotonya bersama kedua orang tuanya sekitar lima tahun lalu. Foto itu adalah foto terakhir yang mereka ambil sebelum kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya. Dan Ara satu-satunya yang selamat pada kejadian naas itu.
Dan itulah salah satu alasan Ara bisa merasa sangat khawatir.
Cewek itu lalu melepas messy-bun yang ada di puncak kepala lalu menggerai rambut hitam sepunggungnya itu. Malas untuk menanggapi kekhawatirannya, Ara berusaha untuk tidur. Ia menatap lesu action figure hanamichi sakuragi di atas nakas.
"Azka baik-baik aja dan sekarang gue mau tidur" ucapnya untuk memompa keyakinan meski tak lama ia menghembuskan napas berat. "And you know what? Tidur adalah pilihan yang paling tepat sekarang" Ara membesarkan volume ponsel, berharap jika Azka meneleponnya ia bisa langsung terbangun. Setelah itu ia berusaha memejamkan mata. Malam ini bisa menjadi malam yang panjang untuknya.
--"--
“Iya sayang” kata Kirby dengan suara kantuknya. Ia memindahkan ponselnya ke telinga kanan lalu ia menguap panjang.
YOU ARE READING
Sebelum Terlambat
RomanceBeberapa kali Ara dan Sam didekatkan oleh jarak dan disamakan oleh detik yang berdetak. Namun itu tak cukup membuat mereka saling menatap karena takdir tak datang di saat yang tepat. Namun kecurangan yang dilakukan Kirby dan Azka -pasangan mereka ma...
