Meresahkan

30 4 10
                                        


Pagi hari rasanya sangat berat untuk sekedar bangun dari tempat tidur. Suara handphone yang terus berdering menandakan ada panggilan, membuat seorang gadis yang sedang tertidur itu terusik.

Seorang gadis manis di atas kasur itu menarik selimut menutupi semua tubuhnya dan menarik bantal peluk menutupi wajah dan telinganya. Dia sangat leleh dengan semua ini, dengan siksaan dan juga kesialan yang selalu menimpa di hidupnya.

 Dia sangat leleh dengan semua ini, dengan siksaan dan juga kesialan yang selalu menimpa di hidupnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Hanya dua yang ingin dia cari, kebebasan dan juga kenyamanan. Tidak ada lagi siksaan dan semua orang yang sangat dia benci itu.

Tok tok tok tok......
Tok tok tok tok..... semakin kencang saja orang diluar sana mengetuk pintu rumahnya.

"Buka pintunya. Saya tahu kau ada di dalam. Jangan menghindari saya, kau akan rasakan akibatnya." Teriak lelaki itu marah-marah dari luar rumah.

Gadis itu melempar bantal peluk dan menendang selimut Dia dengan kesal, lalu bangun untuk membukakan pintu untuk orang yang berada di balik pintu itu. Dia mengambil karet rambut di samping meja dekat pintu kamarnya lalu mengikat rambut asal. Lalu pergi membukakan pintu untuk orang yang berada di luar itu.

PLAK.
Gadis itu memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan dari tangan besar dan berat orang di hadapannya itu.

"Dasar sialan, kanapa kau tidak mengangkat telepon dariku. Kau sengaja ha?. Bentak orang itu setelah menamparnya.

"Saya tertidur."
"Alasan yang tidak masuk akal. Ini sudah jam 11 dan kau masih tidur? Bukannya kamu selalu bangun subuh untuk pergi bekerja?"

"Saya di pecat."

PLAK.
"Dasar tidak becus." Lalu ia masuk kedalam rumah tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Iya, saya yang selalu salah dimata kamu bangsat. Setidaknya saya berinisiatif untuk kerja, bukan seperti kamu yang pergi keluar untuk bermain judi dengan uang penghasilan dari gaji saya bekerja, dan pulang dengan keadaan mabuk, membawah pulang banyak wanita ke rumah. Seharusnya kamu malu Dasar Tua Bangka. Sudah punya anak masih bermain dengan banyak wanita. Seharusnya kau yang bekerja bukan saya yang harus banting tulang mencari uang." Ujarnya dengan suara getir, dia berusaha untuk tidak menangis di depan ayahnya, orang yang sangat dia benci. Dia berjalan keluar dari rumah mencari udara segar, kalau di rumah bisa-bisa dia dibunuh karena selesai mengumpat ayahnya itu.

"Dasar anak sialan. Pergi kau dari rumah ini. Dn jangan kembali lagi dasar anak sialan." Umpatnya. Dia tidak lagi mempedulikan Putri.

~¤~

Aurora berjalan di pinggir trotoar melihat kendaraan beroda dua dan empat berlalu lalang.

"Aurora" Panggil seseorang dari seberang jalan dan melambaikan tangganya kepadanya.

AURORA PUTRI CALAVA. Nama yang sangat indah tapi hidupnya tak seindah namanya.

Kadang dia sering mengutuk kembali namanya. Kenapa juga namanya harus Aurora kalau tau ternyata hidupnya bukan seperti seorang putri Aurora, yang cantik, anggun dan selalu mendapatkan apa saja yang ia mau dengan mudah seperti di cerita dongeng dan film.

TENTANG MIMPIStories to obsess over. Discover now