Pertemuan Pertama

9 1 0
                                        

Suatu pagi yang cerah, burung-burung meninggalkan sangkarnya. Seperti seorang gadis yang sedang mencoba menanggalkan selimut berkarakter rillakuma yang nyaman menyelimutinya. Gadis itu adalah Leina Saraswati Adiyantoro, gadis periang, humoris, dan humble layaknya gadis remaja pada umumnya.

"Leinaaaa. Bangun sudah jam 5 ini, kamu ngga sekolah? ini hari pertama sekolah kamu lo nak. Ayoo bangun, sholat, lalu mandi."

Suara teriakan tersebut adalah ibu melina, yaitu sesosok ibu penyayang dan sabar yang merawat berbagai jenis sifat ketiga anaknya.

"iyaaa buuu ini leina bangun." Leina pun dengan terpaksa menanggalkan selimut yang setia menemaninya di setiap malam hari menjelang.

Dengan perlahan ia mendekati jendela yang terletak di sudut kamarnya sambil melihat ke atas langit dan berkata "Terimakasih tuhan telah membangunkan leina dengan suara ibu. Selamat pagi mentari. Selamat datang fajar. Semoga hari pertama sekolah ini lancar, aminnnn."

Mendengar sahutan dari burung-burung yang berlarian, Leina pun menampakkan senyum indahnya serta melihat gantungan berbentuk angsa yang bergoyang dengan selaras karena terhempas oleh angin dari luar jendelanya.

"Selamat pagi kakak berkaki panjang, doain aku ya di hari pertama sekolah ini huhu... semoga aja ada hidayah dari tuhan, kakak berkaki panjang menyapaku lagi dan memberikan semangat."

"Haaahhhh... 1 2 3 Fightingggg...."

Leina pun bergegas masuk ke kamar mandi dan segera melaksanakan ibadah sholat subuhnya.


****

Sepasang kaki menuruni anak tangga dengan tergesah-gesah, tiada lain tiada bukan adalah putri semata wayang Bapak Adiyantoro dan Ibu Melina Saraswati.
Mereka duduk besama di ruang makan sambil memakan masakan ibu tercinta mereka.

"Bang Ren, Leina berangkat bareng abang ya? kalau Leina naik angkot nanti takutnya macet, kalau bareng abang kan ga macet tuh, hemat uang jajan juga, kan kita juga satu sekolah,"

"Ih males ah, nanti abang ga bisa tebar pesona lagi kalau boncengin kamu. Masa abang boncengin kebo ke sekolah," ujar sang Rendy, anak kedua dari keluarga Adiyantoro.

"Abaaang ga boleh godain adiknya gitu. Harusnya adiknya itu dijaga, kan satu sekolah. Udah kamu berangkat sama Leina mulai sekarang ya bang," Ujar sang ibu.

"Sama bang Sandy kan bisa ma, sejalur juga. Iya kan bang? Bang Sandy kan ada jadwal kuliah pagi,"

"Iya memang ada, tapi kamu kan satu sekolah. Hidup itu harus efektif, udah Leina sama kamu aja. Jagain Leina juga, tuh anak kan ceroboh banget kalau lagi ngga tidur." Ujar sang kakak pertama.

Dengan mengunyah makanan dengan perlahan, sang papa pun berucap "Ren, mulai sekarang Leina berangkat maupun pulang sama kamu aja. Kamu udah dewasa, mau lulus juga."

"Iya pa." ujar Rendy sambil menunduk dan mengunyah makanannya.

"Yaudah aku tunggu diluar ya bang rend." sahut Leina.

****

Saat Leina menunggu di depan pagar rumahnya dengan melihat-lihat daerah komplek rumahnya yang baru ia tinggali dengan keluarganya. Terlihat seorang laki-laki yang tinggal tepat di depang rumahnya dengan mengikat tali sepatunya.
"Ya allahh nikmat mana lagi yang engkau dustakan. Ganteng banget, tinggi semampai pula, eh seragamnya SMA KIRIN cuyyy! Gilak gilak gilak. siapa yaa namanya? Apa bang rendy kenal ya? Ini sih tipe ideal aku." Sambil berujar leina pun tersenyum dan menyadari bahwa hari-harinya sangatlah indah.

Namun, tiba-tiba handphone disakunya berdering. Saat melihat nama yang memanggil di layarnya, Leina pun berdecak. "ncekhhh. Ngapain dajjal nelfon segala."

Loved Or BelovedWhere stories live. Discover now