Can i call you baby?

742 29 0
                                        

Jasmine punya segudang pesona yang tidak akan pernah bisa ditolak pria mana pun. Tinggi, langsing, putih, rambut panjang yang lurus, wajah cantik dan mulus bak duplikatnya Gigi Hadid.

Akan tetapi, semua itu dipatahkan oleh penolakan managernya sendiri, yakni Gerald. Dia terkenal tegas, berkarisma, irit bicara, dan sangat tampan.

Dan, ya, Jasmine suka itu. Namun, tidak mudah baginya menaklukkan seorang Gerald. Usia mereka hanya berjarak dua tahun saja. Gerald 28 tahun, Jasmine 26 tahun.

Jasmine adalah model papan atas asal British yang sangat terkenal. Bayarannya pun sangat fantastis. Meskipun begitu, Jasmine kerap kali mendapat skandal buruk yang mencoba menjatuhkan namanya. Itu sebabnya, Gerald semakin ketat dan tegas mengurus Jasmine.

Beberapa pihak bahkan sudah menyematkan julukan untuknya scandalous model.

Satu minggu yang lalu Jasmine terlibat dalam penggrebekan polisi di bar. Wanita itu tengah pesta alkohol bersama teman-temannya untuk merayakan ultah. Akan tetapi, beberapa dari mereka menggunakan narkoba dan akhirnya nama Jasmine pun langsung ramai jadi topik perbincangan. Karena kasus itu pula beberapa pemotretan dan iklannya batal.

"Apa kau tidak bisa mendidik modelmu dengan baik? Aku rugi besar karena hal ini!" bentak CEO Starlight Entertaiment, Ten.

Gerald hanya bisa menundukkan pandangan. Menyaksikan itu lama-lama Jasmine gerah dan dia pun turut ikut campur. "Bisa santai tidak? Ini salahku, jadi marah saja padaku!"

Ten menatap Jasmine sinis. "Kau benar-benar tidak tahu malu? Kerugian perusahaan sebagian besar disebabkan olehmu!"

"Aku tahu!" Jasmine turut meninggikan suaranya. Dia sebal karena Gerald selalu menjadi sasaran amukan karena kesalahannya. "Tapi Gerald tidak bersalah sama sekali."

Ten melangkah perlahan mendekati Jasmine. Gerald pun langsung mengambil tindakan untuk menjadi perisai pelindungnya. Benar, secepat kilat Ten melayangkan tamparan tetapi mengenai pipi Gerald.

Plak!

Jasmine membelalakkan matanya. Posisinya kini berada di belakang punggung Gerald yang lebar dan tegap. Menutupi tubuh mungilnya dari Ten. Jangan lupakan kedua tangannya digenggam erat oleh manager tampannya itu.

"Aku akan bekerja lebih keras lagi. Kami undur diri dulu," ucap Gerald sambil menundukkan kepala. Setelah itu, sesegera mungkin dia menarik Jasmine agar Ten tidak semakin terpancing emosi.

Sepertinya orang-orang mendengar kegaduhan tadi. Terbukti mereka di luar memasang wajah penasaran. Ciri-ciri orang yang akan membicarakan keburukan orang dari belakang. Jasmine benci itu.

Gerald tak menghiraukan dan terus saja berjalan melewati kerumunan orang-orang itu. Sesampainya di mobil baru Gerald pun tak berbicara sama sekali. Ekspresinya malah semakin dingin.

"Hei-"

"Setelah sampai jangan ke mana-mana. Makan malam dan langsung tidur. Tidak ada izin ke party, arisan, shopping atau apa pun," potong Gerald panjang lebar.

Lama perjalanan hanya ada keheningan dan kecanggungan. Sudah terbiasa, tetapi kali ini lebih mencekam daripada biasanya. Setelah sampai di kediaman Jasmine, Gerald membuka pintu mobil tanpa melihat wajahnya.

"Kenapa tidak mau menatapku?"

Gerald hanya diam. Membuat Jasmine geram dan menarik jas Gerald agar mereka saling berhadapan. Tatapan Jasmine semakin menusuk dengan genangan air mata di pelupuknya. Sebetulnya, karir Jasmine sudah di ambang kehancuran.

"Kapan kau akan berhenti membuat masalah?" tanya Gerald dengan tatapan yang masih dingin.

"Bukan aku ... kenapa kau tidak percaya? Bahkan polisi saja mengatakan hasilku negatif. Aku tidak mengonsumsi-"

"Tapi tetap saja kau ada di sana! Kenapa kau selalu membuat dirimu dalam bahaya, hah?!"

Bentakan Gerald kali ini sukses membuat Jasmine gemetar. Wajah pria itu kian memerah dan rahang yang mengeras. "Tidak masalah kalau hanya karirku yang hancur. Tapi kau? Apa kau tidak pernah memikirkan masa depanmu?"

Air mata Jasmine sontak mengalir. Dia pun berjongkok sambil melipat tangannya di atas lutut dan membenamkan wajahnya, kemudian menangis semakin keras. "Huuu ... hiks-hiks."

Gerald tidak peduli, dia berlalu begitu saja meninggalkan Jasmine sendirian di halaman rumahnya. Setelah mobil pria itu benar-benar menghilang, Jasmine bangkit dan mengusap air mata buayanya.

Iya, Jasmine hanya pura-pura. Dia tidak benar-benar sedih ataupun terluka. "Dasar. Sulit sekali mengambil simpatinya."

Jasmine melihat telapak tangannya dan mengumpat. "Sialan! Maskara dan eyelinerku bukan waterproof."

-TO BE CONTINUED-

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

-TO BE CONTINUED-

Ini cuma short story ya. Sampai liriknya habis aja karena lagi suka lagu At My Worst hehe😘

See you next chapter!

SCANDALOUS MODEL!Where stories live. Discover now