Rasanya menyenangkan sekali. Aku bahagia bisa melepas keperawanan pada pria yang kucintai. Momen ini tidak boleh terlupakan. Apalagi, setelah melihat hasil percintaan kami.
Dan darah di sprei. Kalian tahu? Aku sampai menjerit kesakitan, karena harus menahan miliknya yang besar.
Dia terus memaksa masuk dengan kasar. Aku tidak suka itu. Tetapi, tak jadi masalah. Memang seperti itu cara untuk melepas keperawanan, 'kan?
Ketika aku menatap darah yang keluar dari milikku, dia bertanya dengan heran, "Kamu tidak jijik dengan darah?"
"Untuk apa jijik? Aku tidak jijik ataupun takut," balasku dengan semangat.
Toh, sampai sekarang aku masih menatap darah. Bukan hanya darahku, tapi darahnya juga.
Dia terlihat kelelahan sekali sampai tertidur nyenyak. Tentu saja, dia pasti tidak akan terbangun. Katanya, dia akan memberi apa pun yang kusukai.
Aku suka darah. Itulah mengapa kuberi keperawanan dan kucabut kelaminnya.
YOU ARE READING
CREEPYPASTA
Short StoryCerita pendek tentang hal seram atau sadis dari AuthorAneh. Lebih menegangkan dibaca saat malam jum'at. Publish setiap MalJum.
