Gue ^1

22 4 1
                                        

Beli kaca
Di suaka
Yuk baca
Siapa tau suka

Salam sejahtera untuk para warga Indonesia

-=SELAMAT MEMBACA=-

Kenalin nama gue Andri Hirata bin Hirata Wijaya. Gue seorang psikolog klinis, lahir di tempat tidur, 30 Desember, dan jangan tanya umur karena yang pasti gue udah gak muda lagi. Emak gue nyuruh gue cepat-cepat nikah karena adik gue ngebet nikah dan Bapak gue gak ngizinin dia ngelangkahin gue selaku anak sulung. Keluarga gue emang banyak masalah, sering adu argumen, perang, baku hantam sampai ayam tetangga mati karena shock setelah mendengar keributan keluarga gue. Yang ngebet nikah siapa, yang disuruh nikah siapa. Hamba pusing.

Sebenarnya keluarga gue gak ngerestuin gue ngambil ilmu kedokteran, apalagi yang berhubungan sama kejiwaan. Mereka bilang gini.

"Orang gila mau jadi psikolog, hancur dunia ini."

"Mama gak tau apa alasan kamu, tapi Mama gak setuju. Mama takut kamu makin gila."

"Bapak sih oke oke aja. Asal kau bahagia... tapi jangan harap Bapak bayarin biaya kuliah kamu."

Se-sadis itu keluarga gue. Karena tekad gue yang se-bulet cimol, gue tetap ambil kedokteran pas kuliah bermodalkan beasiswa. Untungnya gue ini sedikit pintar dalam akademis, walau gue gak pintar ambil hati doi.

Oh ya guys, gue lupa. Gue ini tinggal di Korea, tempat para oppa kalian berkumpul. Tapi jangan salah paham. Gue ini asli orang Indonesia. Mama gue orang Jakarta, Bapak gue orang Bandung. Keluarga gue merantau ke Korea karena mau ngembangin bisnis kuliner di sana. Mama gue jualan ketoprak, gado-gado, kerak telor sampai sayur asem di warungnya. Diluar dugaan, warungnya gulung tikar alias bangkrut.

Waktu itu gue masih SMA dan adik gue masih SMP. Kita berdua yang gak kuat liat Mama sama Bapak tiap hari ngelamun sambil dengerin radio, akhirnya nekad membuka warteg bermodalkan uang tabungan kita berdua. Dan ternyata laku keras meski rasa masakannya pas-pasan, soalnya kita disitu sambil jual tampang juga. Usaha yang didirikan gue sama adik gue diteruskan sama Mama dan Bapak gue. Karena hal itu juga orang tua gue gak ngizinin gue kuliah kedokteran, karena mereka maunya gue ngurusin warteg itu. Spontan gue nolak permintaan mereka.

Setelah lulus dengan nilai yang lumayan, gue pun memutuskan untuk terbang ke Indonesia dan tinggal di sana. Kalau gue terus di Korea yang ada gue dipaksa nikah kayak di drama Korea, terus berakhir ngurusin warteg yang sekarang berkembang jadi restoran bintang kecil. Nama restonya, Warung Hirata. Kalau ke Korea Selatan, jangan lupa mampir ya guys.

Kehidupan susah gue dimulai dari sini. Kayaknya sih gue kena karma karena nentang orang tua. Tapi karmanya ini agak telat kalau menurut gue. Kenapa kena karmanya gak pas gue kuliah aja? Kenapa harus sekarang? Pas gue kerja. Pengen pulang ke Korea tapi takut diledek anjing tetangga. Soalnya pas gue pergi gue bilang gini di depan rumah, disaksikan para warga, Pak erte dan Bu erte.

"Ma, Pak. Aku bakal pergi ke Indonesia meski kalian melarang, karena ini adalah jalan ninjaku. Aku pasti bakal sukses di Indonesia, aku bakal buktiin itu ke kalian semua. Aku bakal buktiin kalau cita-cita aku itu gak salah, dan pantas di dukung."

Setelah gue ngomong gitu, para rakyat Korea bersorak diikuti suara anjing, ayam dan tokek.

Adik gue yang lagi makan kripik aci, alis cipeng nyeletuk gini. "Ya udah sih, Bang. Kalau mau pergi mah pergi aja. Gak ada yang larang. Udah sana pergi," usirnya.

Mama sama Bapak gue saat itu emang lagi sibuk pesta sama para warga karena mulai lusa restonya resmi dibuka untuk umum. Mereka semua asik ngobrol sambil ketawa. Gue pun pergi tanpa bilang apa-apa lagi. Pas gue mau pergi, adik gue manggil. Gue berekspektasi indah saat itu, namun pada akhirnya gue di tampar oleh kenyataan.

"Bang."

"Apa?"

"Nih."

"Buat gu-"

"Buat Engkong Lee yang ada di pertigaan sono. Mama bilang, Engkong Lee gak bisa datang gara-gara encoknya kambuh 5 kali hari ini. Jadi tolong lu anterin ya, sekalian lewat."

"Kenapa gak lu aja?"

"Gue sibuk. Udah sana buruan, nanti ketingalan pesawat."

Gue pergi dengan perasaan dongkol luar biasa. Gue kira Mama ngasih bekal buat di makan di pesawat gitu, eh taunya ini makanan buat si Engkong reyot di pertigaan. Mama gue emang suka linglung, anak sendiri di telantarin, orang lain diperhatiin. Kadang gue berasa di anak tirikan sama beliau.

...

Sesampainya di Indonesia, gue ngelamar kerja di sekolah swasta. Gue jadi dokter yang jaga UKS sekaligus guru konseling, kalau semisal ada siswa yang punya masalah mental. Kerja di sekolah ada enak sama enggaknya. Enaknya gue bisa kerja sambil mengenang masa SMA dulu, dimana gue merasakan cinta untuk pertama kalinya lalu jatuh berkali-kali. Dan gak enaknya itu, tempat gue selalu di datangi para murid cewek dengan alasan stres karena putus sama pacarnya.

Setelah beberapa bulan gue kerja di sekolah, gue pun memutuskan untuk resign. Kalau dilanjut, gue khawatir malah gue yang kena stres. Selanjutnya gue memutuskan untuk buka praktek sendiri di rumah, dan itu hanya bertahan selama satu bulan. Karena gara-gara itu tiap pagi anak-anak sekolah tempat gue kerja dulu datang bawain sarapan, coklat, buah, camilan sampai kembang melati—enggak deng, mereka bawa bunga mawar dan berbagai bunga cantik lainnya kayak doi. Eh, lupa, gue kan gak punya doi.

Gue pun pilih klinik sebagai tempat kerja gue selanjutnya. Awalnya normal-normal aja, yang konsultasi juga emang benar-benar orang yang punya masalah sama mentalnya, bukan yang mau modus. Tapi setelah beredar kabar tentang psikolog klinis muda nan tampan—iya itu gue—para ibu-ibu mulai berondong-bondong datang buat ketemu sama gue. Sampai akhirnya gue di pecat dengan alasan terlalu tampan sampai membuat klinik penuh bukan karena pasien, tapi karena ibu-ibu hamil yang pengen ngelus muka gue. Katanya biar ketampanan gue nular ke anak mereka. Oy! Gimana kalau anak kalian cewek?! Lama-lama ini cerita ganti judul jadi Aku yang Famous di Indonesia, oke lupakan. Gak bakal gue ganti judulnya.

Pilihan terakhir gue adalah perguruan tinggi alis universitas. Kalau kalian nanya kenapa gue gak kerja di rumah sakit. Jawabannya karena gue gak suka bau obat dan gue benci kebisingan. Kalau di klinik kan, bau obatnya gak terlalu menyengat. Itu sih menurut gue pribadi.

Kabar baiknya, gue berhasil melewati masa-masa sulit selama jadi guru konseling. Kerjanya gak beda jauh lah sama waktu di SMA dulu. Gue ditempatin di klinik universitas, dan keadaannya gak beda jauh sama pas gue kerja di SMA. Banyak cewek yang datang cuma buat modusin gue, tapi masih mendinglah mereka ini udah bisa dibilang dewasa dan body nya juga beda dari anak SMA. Jadi mau gak mau gue harus bertahan disini. Karena mau dimana lagi gue kerja? Zaman sekarang cari kerja gak gampang, bro. Dan lagi, kampus itu tempatnya para ayam, alias ayam kampus. Jadi sekalian cuci mata.

Nah, di sini gue bakal berbagi kisah gue salama kerja di kampus sebagai psikolog klinis muda nan tampan. Kata-kata gue yang awal gue ralat guys, karena sebenarnya gue belum setua yang kalian pikir. Umur gue masih kisaran 20-an lah, muka gue juga masih kayak muka-muka anak SMA. Maklum, gue ini di karuniai baby face sama yang maha kuasa.

-=PSYCHOLOGIST OF LOVE=-

Tunggu Andri di chapt selanjutnya!
Bye bye baby👋

Psychologist of LoveStories to obsess over. Discover now