Chapter 1 - Pertemuan

51 2 25
                                        


Kkrriiiinnngggggg..

Akhirnya.. bunyi surga.., gumam ku sambil mengatur nafas yang terengah - engah. Aku selalu membenci pelajaran apa saja yang berkaitan dengan menggerakkan tubuh yang berlebihan bukan karena jelmaan kukang tapi, karena kondisi tubuh yang benar - benar dapat mati apabila didorong saja oleh manusia jangkung saja.
Ekya, salah seorang sahabat ku yang sudah ku anggap adik sendiri walaupun tinggi nya hampir 170 cm memeluk ku pelan.

"Kambuh lagi..?"

"Begitulah"

"Kau tahu, kau tidak perlu memaksakan kondisi mu"

"Aku tidak lemah, wajar saja tadi aku, kamu dan kita semua kecapean. Kita berolahraga jam 12 siang berlari sejauh 1 km bolak - balik. Kita bukanlah kijang"

"Tapi bunyi nafas mu terdengar amat parah seperti cicitan tikus"

Aku memberikan thumbs up pada nya menandakan aku baik - baik saja walau kelihatan sebalik nya. Sambil mengikat ulang rambut ku agar menahan poni menyebalkan ku lalu mulai mengotak - atik isi ransel besar ku hanya untuk mencari kunci loker demi melepaskan pakaian amis yang menyesakkan ini.

Eh..

Tidak ada didalam saku depan..

Tempat pensil juga enggak ada..

Kok enggak ada..

Belum selesai kena imbas nya, kunci loker ku hilang. Benar-benar sial, aku terpaksa di ruang bk sambil dimarahi habis-habisan karena masih bau seperti kod didalam ruang tertutup ber-AC, walau ada 6 AC disitu tidak ada yang benar-benar berfungsi selain mengeluarkan rintikkan hujan.
Setelah berlumut cukup lama, akhirnya aku dibolehkan pulang 30 menit setelah semuanya pulang. Aku berjalan ke kelas dengan wajah jengkel seperti bulldog marah dan menuliskan pesan singkat di papan tulis.

Yang menemukan kunci loker ku, nanti ku bayar 50 ribu
- Kei
Manusia malang yang kehilangan kunci nya

"Aku pikir ini sudah cukup" ucap ku sambil bangga menulis kan kalimat tersebut tanpa ada yang miring lalu meninggalkan kelas karena aura nya seperti ada yang melototi dari balik tirai.

                          ° ° °

Keesokan hari nya, aku masih stress karena kejadian kemarin. Orang - orang dikelas terus mengaku menemukan kunci ku untuk membuat ku semakin muak saja. Belum lagi pelajaran kimia di laboratorium, sudah jauh dan terpisah dari gedung utama, kita disuruh mengamati hewan - hewan yang dibelah dan dipajang dalam toples besar untuk perayaan seolah - olah seperti pameran museum kecil. Setiap detik aku menahan kantuk ku dan berdoa agar cepat kembali ke habitat ku, di kelas untuk duduk di bangku favorit ku. 3 jam berlalu, dan akhirnya waktu ishoma tiba (istirahat, shalat, makan), sambil memikirkan bahwa kita juga diberi tugas untuk membelah hewan seperti tadi...benar-benar menjijikkan. Mata ku terbelalak saat melangkah ke kelas, melihat tas ku terbuka menganga.

Ada yang membuka tas ku

Astaga dompet ku dan hp ku ada disitu !

Rasa panik membanjiri ku, aku benar - benar tidak mau dimarahi lagi hari ini.

"Loh, enggak ada yang hilang.." ucap ku sambil kaget menemukan semua barang ku ada. Dengan ekspresi mendapatkan undian 1 milliar, aku mendapatkan kunci loker ku lagi. Dengan sebuah surat yang menempel pada kunci itu.

Here's your key, i found it on the floor yesterday. Please don't lose it again - unknown

Buset dah, untung aku paham bahasa inggris.  Namun yang bikin aku berpikir seperti Sherlock ialah kemungkinan siapa yang mendapat kunci loker itu, kelas yang terlihat seperti ruang lab komputer yang benar - benar terisolir dari semua kelas karena dipojok terdalam gedung utama, pagar terkunci dua kali dan aku mulai dituduh yang menuliskan surat itu agar tidak ada yang mendapat 50 ribu karena aku sangat mahir dalam bahasa inggris tetapi, ketahuilah bahwa tulisan ku seperti cakar ayam yang menggaruk tanah.
Sementara itu, Ekya sendiri menjadi watson yang benar - benar penasaran bagaimana cara  semua ini terjadi dalam 3 jam.

CyberCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang