Prolog

28 4 0
                                        

           Trypophobia- ketakutan terhadap sekumpulan lubang kecil. Phobia yang hampir semua orang pernah rasakan termasuk Puspa.

           Dia merasakan implus bergerak cepat di saraf-saraf tubuhnya, saat menemukan apapun yang berbentuk lubang kecil dan banyak disekitarnya. Untuk mengalahkan Puspa, tentu Sari sengaja menayangkan gambar mirip sarang lebah memiliki lubang kecil dan banyak. Ketika Puspa melihatnya dia mencoba menahan diri untuk tidak goyah diatas panggung. "Bertahanlah." Puspa mencoba menguatkan dirinya saat Sari menyerang kelemahanya. Sari tersenyum manis kearah Puspa, dia lalu melanjutkan bagian dramanya. Puspa, mulai merasakan kedua lututnya lemah. Tiba-tiba tubuhnya terasa ringan dan dia mendengar suara gedebuk keras. "Sial, aku jatuh."Lirih Puspa menyadari bahwa dia terjatuh. "Berpeganglah padaku. Agar kau bisa bangkit lagi!"Sebuah suara mencoba membantu dia menangani kelemahannya. Seorang pria tengah mengulurkan tangannya pada Puspa.

          Sementara itu, seseorang hanya memperhatikan dari kursi penonton, dia meremas kertas digenggaman tangannya. "Puspa, permainan baru saja dimulai, kau harus menikmatinya." lirihnya, dengan seringai dibibirnya.

         "Hei, Puspa cepat berdiri!. Hentikan lamunanmu." Yuki berbisik kepada Puspa mencoba menyadarkan temannya yang jatuh diatas panggung acara mereka. Sari benar-benar keterlaluan kali ini, dia curang, Yuki melirik latarbelakang panggung mereka di sisi kiri. Dia tau semua ini ulah si kecebong.

          "Bagaimana bisa pelayan di istana ini membiarkan lantai licin dan menyebabkan seorang putri terjatuh ?" Puspa berdiri menggunakan kemampuan aktingnya untuk mengalihkan situasi. Yuki bernafas lega, akhirnya dia sadar dan menyelamatkan acara ini.

           Penonton yang tadi berbisik-bisik tentang adegan jatuh Puspa, teralihkan dan menganggap kejadian tadi bagian dari dialog dalam drama. Situasi kembali, kelompok theater dari sekolah SAKURA mementaskan drama hingga selesai.

           "Hari ini, permainan selesai." Lirihnya, dia berdiri meninggalkan kursi penonton. Dia melirik sekali lagi panggung, tirai diturunkan menyatakan acara ini telah berakhir. Dia berbalik menuju pintu keluar meninggalkan kebisingan penonton yang menikmati acara ini.

           Setelah tirai diturunkan, Yuki menarik Puspa keluar dari panggung dengan terburu-buru. Mereka menambrak beberapa staff dan pemain lain. "Ya! Yuki bisakah kau pelan-pelan! Aku akan mencium lantai sebentar lagi!" Puspa mencoba bersuara dengan nada yang lebih tinggi saat Yuki masih menariknya dan tidak melepaskannya.


Brukk


       "Aduh, Yuki kau ini kenapa ?"Puspa mengelus jidatnya karena Yuki tiba-tiba berhenti, sehingga dia menabrak punggungnya. "Huh! YA, TADI SEHARUSNYA KAU JANGAN MELAMUN DAN CEPAT BERDIRI! KAU HAMPIR MEMBUAT KEKACAUAN PUSPA!" Teriak Yuki, dia menatap tajam Puspa.

       "Tadi it-" Yuki menjambak rambutnya frustasi, "Puspa tau tidak, kau tadi melamun selama lebih dari 10 menit. Kau hampir membuat kakak kelas kita naik keatas panggung untuk menyeretmu bangun. Jika aku tidak menyadarkan dirimu." Suara Yuki menaham kemarahan pada temannya."Tadi itu aku hany-"

"Ya! Aku belum selesai bicara. Dengar-"

"Yuki, jangan memarahi Puspa. Tadi itu hanya sebuah kecelakaan, kau harus mengerti." Luna menghentikan ceramah Yuki pada Puspa. Dia tidak tahan melihat kedua sahabatnya bertengkar akibat kejadian tadi.

"Luna, kau selalu memanjakannya dan lihat apa hasilnya sekarang ? Bisakah kita selalu memanjakannya ?"Tanya Yuki, dia menunjuk Puspa. Tanpa berfikir panjang, Luna berlari kearah Puspa, memberikannya pelukan hangat.

Pretty SavageDonde viven las historias. Descúbrelo ahora