"Selamat datang di Autumn Coffee!"
Rasanya, keringat dingin Jongin langsung merembes di pori-porinya. Padahal ia sudah menyiapkan diri untuk tidak bertindak bodoh-atau at least, dia tidak terlihat gugup. Namun kenyataannya, hanya dengan mendengar suara lelaki itu, kaki Jongin sudah terasa lemas.
Namanya Do Kyungsoo, kalau kalian ingin tahu.
Usianya 20 tahun, dan sedang bekerja part-time di cafe yang terletak di depan rumah kost Jongin. Kabarnya, lelaki bermarga Do itu seorang mahasiswa tingkat tiga di kampus yang sama dengan Jongin. Hanya saja, mereka ada di fakultas yang berbeda.
Jongin seorang mahasiswa Teknik Geologi, dan Kyungsoo berkuliah di fakultas Farmasi.
Gedung perkuliahan mereka yang terletak cukup jauh membuat Jongin benar-benar tidak tahu dengan eksistensi lelaki itu. Hingga sekitar dua bulan lalu, Jongin yang sedang berjuang untuk menyelesaikan skripsinya itu datang untuk pertama kalinya, ke cafe yang terletak di depan rumah kostnya tersebut. Ia melihat Kyungsoo di balik mesin pembuat kopi, dan melayani beberapa pengunjung.
Letak cafe itu sangat dekat, memang. Seringkali Chanyeol berkata bahwa Jongin hanya perlu menggeser pantatnya saja.
Hari Minggu pagi, Jongin datang ke cafe itu lagi. Esok, dia harus menghadapi Dosen Lee, yang sudah menerornya sejak tiga hari lalu untuk melakukan revisi. Untuk hari itu, sebenarnya, dia tidak berharap Kyungsoo sedang melakukan shift-nya. Karena jujur, ia tidak ingin salah fokus selama mengerjakan tugas akhirnya.
Namun, ia justru mendapati Kyungsoo dengan cerianya menyapa. Apalagi, sialnya, hari itu Kyungsoo mengenakan beret berwarna cream dan sebuah kemeja berwarna beige. Senyum juga terulas manis di bibirnya, dan juga-entah bagaimanaㅡpipi gemuknya merona.
Jongin ingin melebur.
Si Kim ingin merutuki dirinya sendiri yang hanya datang dengan celana jeans lama yang sudah robek di beberapa bagian, kaos polos berwarna biru navy, dan sepatu kanvas yang ia injak di bagian belakangㅡrambutnya pun seperti baru saja bangun dari tidur. Bahkan, komputer jinjingnya hanya ia bawa dengan tote bagㅡtanpa ransel seperti biasanya. Tote bag itu pun juga berisi dompet dengan dua lembar uang berwarna biru, ATM yang saldonya masih cukup hingga akhir bulan nanti, dan beberapa kartu identitas.
Tidak lupa sekotak rokok beserta pemantiknyaㅡdan juga vape yang mungkin akan ia gunakan jika sudah bosan merokok.
Langkah kaki Jongin yang semula terseret malas, berubah kaku ketika ia berhadapan dengan Kyungsoo. Lelaki Do itu sedang berada di belakang meja kasir dan menatap Jongin-yang dengan bodohnya membeku di tempat.
"Kak Jongin?" tanya Kyungsoo.
Jangan heran, Jongin sudah menjadi pelanggan tetap. Jadi tentu saja, Kyungsoo tahu namanya.
Tidak mendapatkan jawaban, Kyungsoo kembali memanggil si Kim-sembari memiringkan kepalanya sedikit, "Kak? Kakak kenapa diem di situ aja?" tanyanya dengan sebuah tawa kecil.
Sadar jika dia melakukan hal bodoh, Jongin tersadar dari pikirannya yang ada di mana-mana, "Oh, iyaㅡ" ia berjalan dan menghentikan langkahnya di depan Kyungsoo, "hm, gue mau pesen dong." ujarnya dengan suara yang ia buat biasa saja.
Padahal ia ingin mengubur dirinya hingga inti bumi.
"Pesen apa, Kak?" tanya Kyungsoo sembari menekan layar tablet yang ada di hadapannya; bersiap untuk mencatat pesanan Jongin.
"Hmm..." Jongin menatap papan menu yang ada di bagian atas tembok cafe tersebut.
Kyungsoo terkekeh ketika Jongin tidak benar-benar memberikan jawabannya setelah beberapa saat, "Caffe latte?" tanyanya.
