Sahabat,
Sang Guru Sejati bertanya kepada murid-muridnya: "Pernahkah kalian mengamati bagaimana pertumbuhan sebiji benih sampai ia berkembang dan berbuah?"
Para murid saling memandang satu sama lain, seolah mempertanyakan makna di balik pertanyaan Sang Guru Sejati. Karena tidak ada satupun yang mau menjawab, salah seorang murid memberanikan diri berkata: "Belum pernah!"
"Baiklah," kata Sang Guru Sejati. "Ada seorang petani yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan siang hari ia bangun. Tanpa sepengetahuannya, benih itu telah mengeluarkan tunas. Dan lama kelamaan tunas itu makin tinggi. Bagaimana hal itu terjadi, si petani itu tak mengetahuinya. Ia hanya menanam dan merawatnya."
Para murid semakin heran dan bertanya-tanya tentang perkataan Sang Guru.
Sang Guru menangkap kebingungan itu, lalu berkata:
"Seperti itulah halnya dengan hidupmu. Hidupmu telah ditaburi oleh benih-benih kebenaran dan kita tidak tahu bagaimana benih itu berkembang. Namun benih itu akan terus berkembang dan memberikan buah dalam hidupmu, asal engkau rajin merawatnya."
Sahabat,
Hidup kita senantiasa berkembang. Dan benih kebenaran yang ditaburkan dalam hidup kita melekat erat dengan perkembangan hidup kita. Maka bila kita mampu merawat hidup kita dengan baik, maka benih kebenaran itu pun akan turut serta berkembang dan menghasilkan buah yang berlimpah.
Kita adalah petani bagi hidup kita. Meski kita tak pernah tau persis seberapa banyak buah yang akan kita hasilkan dari hidup kita, namun bila kita setia merawat hidup, buah itu akan kita rasakan di kemudian hari.
Untuk menghasilkan buah yang baik, tak jarang kita harus berani mencabut "ilalang-ilalang" yang turut berkembang dalam hidup kita. Meski kadang terasa menyakitkan saat kita mencabutnya, namun hal itu harus kita lakukan.
Sebagai petani, kita juga harus senantiasa memperhatikan "pupuk" yang dibutuhkan untuk pertumbuhan hidup kita. Secara fisik, "pupuk" itu antara lain berupa makan-minum, olahraga, pengetahuan dan kesehatan.
Secara rohani, "pupuk" itu kita dapatkan dari relasi kita dengan Sang Pencipta, yakni melalui doa, ibadat dan aneka olah rohani lainnya.
Dengan memberi pupuk yang cukup, maka hidup kita akan bertumbuh dan berkembang. Dan pada akhirnya akan memberikan buah yang berlimpah bagi kita sendiri dan bagi orang lain.
Mari kita selalu merawat pertumbuhan hidup kita dengan baik.
++++
~mogitscj~
