DIA

147 18 13
                                        

Giandra Deizhar Jerkins

Seorang pemuda yang ku kagumi selama 9 tahun ini yang sekarang sedang menempuh pendidikan S1 nya di salah satu Universitas yang ada di China.

Entah apa yang membuatku bisa sedalam ini untuk menyukainya atau mungkin mencintainya? I don't know. Dan selama itu pula aku belum pernah mengungkapkan perasaanku padanya. Karena sebetulnya aku tidak terlalu percaya diri untuk itu.

Oh, ayolah. Memang siapa aku? Secantik atau semenarik apa aku sampai harus mengungkapkan perasaan gila ku ini? Meski ya .. terkadang lelah hati ini terus menunggu dia agar dia bisa memandangku barang sedetik. Dan ku akui, itu mustahil.

Selama itu pula yang kulakukan hanya menjadi pengagum rahasia nya. Mengintip aktifitas nya lewat media sosial. Itu menjadi rutinitasku selama ini.

Terkadang aku juga selalu memikirkan kejadian beberapa tahun lalu ketika kami masih di sekolah menengah pertama.

Flasback to 2011 (Junior High School)

Beberapa hari terakhir  ini sekolah sibuk dengan acara pentas seni yang selalu diadakan setiap tahun nya. Dan di acara ini juga setiap kelas wajib menampilkan baik itu Menyanyi solo/duo dan Menari.

Dan kebetulan untuk perwakilan kelas ku, salah seorang temanku akan menyanyi. Ah iya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Erlangga Davian Mahesa. Biasa dipanggi Davi.

"Davi" seseorang memanggilku.

"Iya, ada apa?"

"Bu Rere nyuruh agar kamu ke ruangannya sebentar"

Aku pun mengangguk mengiyakan. Ku langkahkan kakiku keluar kelas kemudian menuju ruangan Bu Rere.
Selama perjalanan melewati lorong-lorong kelas, tanpa sengaja aku melihat 'Dia' bersama teman-teman nya.

'Dia' yang ku maksud adalah kakak kelasku. Namanya  Giandra Deizhar Jerkins. Tubuhnya yang tinggi tegap dengan proporsi badan yang pas dan juga wajah yang tampan pasti banyak disukai oleh wanita ataupun pria submissive termasuk aku.

Entah kebetulan atau memang nasib baik sedang berpihak kepadaku, dia berjalan beriringan ke arahku. Sungguh rasanya dadaku berdegup sangat kencang dan perutku seperti banyak kupu-kupu yang beterbangan. Gugup sekaligus senang. Meski aku  yakin dia tak bakal menyapaku, setidaknya hari ini aku senang karena bisa bertemu dengan sosok tampan itu.

Seperti yang ku bilang, dia hanya melewatiku bahkan sekedar melirik pun tidak. Tapi tidak apa, yang penting hari ini aku senang.

Sesampainya diruangan Bu Rere, dia hanya memberikan tugas yang harus aku sampaikan kepada anak kelasku. Kemudian aku keluar dan kembali ke kelas.

.

.

.

.

.

.

Acara pentas seni pun diadakan selama 1 minggu. Dan sebagai penutup Acara, Kak Gian, begitu aku memanggilnya. Dia akan menampilkan beberapa lagu bersama grup band nya. Yang mana, itu mendapat antusias dari semua siswa.

Aku melihatnya. Dia berjalan dengan gitar yang disampirkan di pundaknya. Semua orang meneriakinya. Dan dia tersenyum, sangat tampan. Meski senyumnya bukan untuk ku, setidaknya aku bisa melihat dimple itu.

Acara itu pun berlangsung meriah. Bahkan ada beberapa siswa atau kakak kelas yang berkerumun di depan panggung sambil menari tatkala Kak Gian bersama teman-teman nya bernyanyi.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 26, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DIAStories to obsess over. Discover now