Bab 1. Bulan merah di langit Jenggala

41 2 0
                                        


Panji yang tengah tertidur nyenyak mendadak terbangun

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Panji yang tengah tertidur nyenyak mendadak terbangun. Baru saja dia bermimpi dengan impian yang membuat hatinya tidak enak. Sebersit kekuatiran muncul di hatinya karena mimpinya. Di dalam impiannya Panji merasa sedang berjalan jalan sendiri di alun alun Jenggala yang terletak di depan istana Jenggala. Saat itu purnama sedang terbit di langit timur. Pemandangan sangat menakjubkan. Panji berhenti di tengah alun alun untuk menikmati keindahan malam purnama. Bulan purnama indah itu perlahan lahan naik. Sinarnya yang lembut membuat suasana menjadi sangat mempesona. Sampai agak tinggi di atas istana mendadak warnanya berubah menjadi merah. Suasana juga agak berubah menjadi menakutkan. Tidak ada pemandangan lain di langit itu namun entah mengapa suasananya mengerikan. Panji merasa agak miris di dalam mimpinya itu. Untunglah hanya berlangsung sebentar. Pelan pelan bulan purnama berubah ke warna aslinya yang kekuningan. Sinarnya menjadi lembut kembali dan suasana pulih menjadi menentramkan. Panji berjalan kembali ke arah istana. Tapi dia belum sampai ke istana ketika tersadar dari mimpinya.

Panji sudah pernah bermimpi yang memiliki arti ketika di Liyangan. Saat itu dia melihat Candra Kirana yang bagaikan bidadari sedang duduk di bulan tapi kemudian pergi naik kuda bersayap. Belakangan terbukti artinya Candra Kirana pergi jauh. Karena itu Panji agak termenung mengingat impian yang baru saja dialaminya. Tapi dia tidak mau terlalu memusingkan artinya. Panji membangunkan Candra Kirana dengan lembut untuk mengajaknya menjalankan solat sunnah tahajjud sampai solat subuh. Mereka dengan sepenuh hati menghambakan diri kepada Allah swt sang pencipta jagad raya yang menggenggam nasib mereka. Dengan mengingat Allah swt hati mereka menjadi tenteram.

Hari itu menjadi hari yang cukup sibuk bagi Panji dan anak buahnya di istana Jenggala. Mereka sedang membenahi ibukota dan terutama istana yang baru saja porak poranda karena perang besar kemarin. Sekarang mereka sedang menyiapkan istana untuk mengadakan pesta kecil untuk merayakan pernikahan Panji dengan Candra Kirana yang belum sempat dirayakan karena masih dalam suasana darurat kemarin. Panji berencana mengadakan pesta bersama rakyat Jenggala. Dia mengundang seorang dalang terkenal dengan kelompoknya untuk memainkan sebuah cerita kesukaannya yaitu 'Gatotkaca Jumeneng Nata" (Gatotkaca naik tahta). Dia menyukai cerita ini karena dirasa sesuai dengan perjalanan hidupnya dan dengan babak kehidupan yang sedang dilaluinya. Karena itu seharian penuh Panji terlibat dalam persiapan itu. Dia terjun sendiri bersama para pekerja dan prajurit menata alun alun untuk menjadi ajang pagelaran wayang besok malam.

Karena kesibukan itu tidak terasa waktu lewat dengan cepat. Malam harinya Panji seusai solat Isya duduk di pendopo sambil menatap ke halaman luas. Anak buahnya yang selesai solat dari masjid lalu berkumpul lagi di pendopo. Panji dan Candra Kirana lantas ikut berkumpul bersama mereka dengan pakaian sederhana. Panji hanya memakai kain sarung dan baju pendek sedangkan Candra Kirana memakai baju panjang dan jilbab serba hitam sederhana.

Di alun alun ada sekelompok kecil orang yang berkumpul melihat lihat suasana. Ada orang orang yang masih membenahi panggung untuk pagelaran wayang esok malamnya. Di pendopo Panji dan Candra Kirana mendekati orang orang yang sedang membersihkan gamelan. Mereka lalu ikut membersihkan gamelan yang akan dipakai malam berikutnya untuk pagelaran wayang di alun alun di depan istana.

Panji Jayeng Sabrang, Melawan Kezaliman Negeri SeberangStories to obsess over. Discover now