Love In Silence (1)

30 16 17
                                        

(Ditunggu votment nya)

~Happy Reading~
.

.

.

Cinta sepihak itu menyakitkan.
Bagaimana kalau orang yang kita cintai tidak mengenal kita?
Mencintai secara diam-diam, itu yang ku rasakan.

Sebenarnya, aku tidak tahu apakah wanita pujaanku ini mengenaliku atau tidak. Satu tahun telah berlalu sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Ya... pertemuan yang kebetulan, alam pun sudah menentukannya. Dan itu pertemuan yang cukup membahayakan.

Saat itu, ketiga jemariku terlepas dari ujung tanah di tepi jurang yang sebagai peganganku. Untungnya tangan mungil itu meraihnya.

Wanita berhijab itu menggenggam tanganku seerat mungkin dan terus menariknya. Ia memohon agar aku tetap kuat dan beranjak dari posisiku yang saat itu tengah bergelantungan di tepi jurang. Begitu pula dengan matanya, tatapan mata itu juga tampak memohon dengan keinginan yang sama, bahkan terlihat jelas rasa khawatir di dalamnya.

Tatapan itu! Tatapan yang mungkin menurutnya hanya sebuah tatapan wajar ketika melihat seseorang dalam bahaya, lantas ingin menyelamatkannya. Namun, aku tidak bisa menganggapnya biasa. Sejak detik itu, aku merasakan debaran yang begitu kencang di dalam dadaku, ketika melihat atau pun memikirkannya.

Seperti saat ini, aku melihatnya di perpustakaan kampus kami. Ya, sejak kejadian hari itu aku mulai mencari tahu tentangnya. Dan ternyata kami satu kampus. Dia mahasiswi ekonomi semester empat sedangkan aku mahasiswa kedokteran yang sudah semester enam. Sepertinya dia mahasiswi yang cukup pendiam, sama halnya denganku. Sehingga sebelumnya, aku tak mengenalnya bahkan melihatnya pun tak pernah.

Aku selalu duduk di sudut ruang perpustakaan, dari arah itu aku dapat memperhatikan wanita pujaanku yang selalu duduk di sudut yang berhadapan denganku.

Sebenarnya keberadaanku di sini bukan untuk membaca, melainkan diam-diam mencuri pandang padanya. Memang, beberapa kepala mahasiswa mahasiswi lain yang berada di antara kami membuatku tidak bisa dengan mudah melihat wajahnya.

"Lo gak bosen kayak gini terus?" tanya laki-laki dengan gaya rambut curtain cut yang di cat walnut itu, kini ia duduk tepat di sebelahku.

"Kenapa harus bosen? Merhatiin Ellena udah jadi hobi gue," sahutku dengan masih memperhatikan wajah cantik Ellena yang berada sekitar lima meter dari tempat kami.

Ya! Wanita yang pernah menolongku itu bernama Sellena Pratama, yang akrab dipanggil dengan sebutan Ellena.

"Kenapa sih sampe sekarang lo masih gak mau nyoba deketin dia?" tanya sahabatku itu lagi seraya merangkulkan sebelah tangannya pada pundakku, sedangkan matanya ikut menatap wanita pujaanku itu.

Aku memilih mengabaikan pertanyaan yang sering kali terlontar dari bibir tebal Gabriel. Lantas, meraih satu coffe latte cup yang tadi kubeli sebelum ke ruangan yang penuh buku ini.

"C'mon Der, don't be a coward." Gabriel menoleh kearahku.

"Bukannya gitu, gue cuma takut kalo ternyata dia gak suka sama gue," ujarku dengan raut wajah sendu. Saat ini pun mataku tertuju pada lantai keramik di bawahku.

"Apa bedanya dengan pengecut?" ujarnya yang sengaja menekankan pada kata terakhir.

"Ya terus gue harus gimana?" kini aku beralih menatap Gabriel.

"Lo hanya perlu ngelakuin pendekatan ke dia. Lo harus berani Der! Kalau kayak gini terus gimana caranya dia ngebales perasaan lo? Kenal aja enggak, mau dia ngerasain hal yang sama kayak yang lo rasa in?!" Gabriel menghela nafas kasar, mungkin ia lelah menasihati sahabatnya yang pemalu sepertiku ini, "Please Der, gue cuma gak mau nantinya lo nyesel kayak dulu." Gabriel bangkit dari sofa dan pergi meningalkanku begitu saja.

Sebenarnya yang di katakan Gabriel ada benarnya. Aku tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku menyukai sahabat perempuanku, Lilly. Namun tak pernah ku utarakan perasaanku padanya. Hingga saatnya dia berpacaran dengan Gio kakak kelas kami, yang padahal belum lama Lilly mengenalnya. Namun Gio berani mengutarakan perasaannya, tidak sepertiku.

Setelah itu aku mulai menjauhi Lilly. Aku ingin membuang perasaanku sejauh mungkin. Awalnya Lilly bingung dengan perilakuku yang semakin lama semakin menjauh darinya. Akhirnya gadis itu bertanya padaku. Namun saat aku memberanikan diri dan jujur tentang perasaanku padanya, itu malah menjadi pertemuan terakhir kami. Selama satu minggu aku tidak mendapati dirinya di sekolah. Ternyata ia sedang mengurus perpindahannya ke London. Sampai ia pergi pun, Lilly tak kunjung memberi kabar padaku. Bahkan sampai sekarang kami sudah kehilangan kontak. Yah, mungkin dia tidak nyaman karena pengakuanku sore itu. Sedangkan nasib Gio, ku dengar dari gosib teman-temanku mereka berdua putus hubungan, dan itu terjadi setelah tiga hari pengakuanku pada Lilly. Jadi, aku tidak mau lagi kehilangan orang yang spesial dalam hidupku, yaitu Ellena.

"Permisi..." tiba-tiba suara seorang wanita membuyarkan lamunanku.


Bersambung....

.

.

.

Kalau suka jangan sungkan untuk tekan bintang⭐dan share ke Teman2 atau Keluarga juga yaa...

10032021
Salam, DesiHawa

...Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang