Rasa

4 1 1
                                        

"Rasa yang salah adalah ketika menyukai seseorang terlalu dalam, maka akan menimbulkan kebencian dan kecemburuan, karena itu aku lebih memilih sendiri daripada harus jatuh cinta pada jalan yang salah".

Namaku Putri, seorang perempuan desa yang tinggal di daerah pesantren yang cukup terkenal. Di sini aku tinggal bersama kedua orang tuaku, Ibu Ana dan Bapak Yahya, tetapi orang-orang sering memanggil beliau dengan sebutan Buya Yahya. Lingkunganku membuatku memilih untuk tetap menyendiri, sehingga aku tidak pernah memperhatikan lelaki yang ada di sekitarku. Saat ini, umurku sudah menginjak angka 25 tahun. Menurut pendapat orang-orang di desaku, usia tersebut merupakan waktu yang sangat matang untuk memulai kehidupan baru, yaitu menikah. Selalu saja, ketika tetangga ataupun keluargaku bertamu, pertanyaan "kapan menikah" pasti terlontar dari mulut mereka. Pertanyaan yang sebenarnya sepele, tetapi bisa membuat mood buruk seketika. 

Sebenarnya bukan aku yang tidak ingin menikah, tetapi situasiku saat ini yang masih sendiri membuatku tidak bisa berkutik. Aku menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban "doain saja, jika sudah jodohnya pasti undangan sampai", sambil menyunggingkan senyum indahku. Masa-masa ini sepertinya terlalu dini untuk diriku memikirkan sebuah rasa yang bernama cinta. Menurutku, cinta itu datang ketika hati sudah siap menerima. Tetapi, sampai saat ini tidak ada lelaki yang membuatku benar-benar jatuh cinta. 

Namun, sesungguhnya sebelum ini aku pernah merasakan jatuh cinta sekali. Entah itu cinta atau hanya sebuah ambisi yang terpercik di dalam hati seorang wanita yang belum pernah mengenal cinta. Waktu itu usiaku 18 tahun. Saat aku baru lulus dari sekolah, aku benar-benar belum paham tentang dunia cinta yang katanya sangat manis. Selama ini, aku belum pernah keluar dari desa yang di sana juga terdapat sekolah tempatku menimba ilmu, yaitu Pesantren Al-Azam. Seorang wanita yang hanya bolak-balik di sekitaran desa, membuatku belum mengenal dunia luar dengan baik. Sempat terfikir olehku bagaimana rasanya hidup di luar desa. Apakah kota menjadi tempat yang luar biasa saat kukunjungi. 

Mulailah kuutarakan perasaanku pada bapak, bahwa aku ingin melanjutkan kuliahku. Tetapi, saat itu bapak menyuruhku untuk memikirkan tawaran menikah. 

"Menikah?, pak, tapi usiaku kan masih 18 tahun!?", tegasku.

"Ia ndok, kamu memang masih muda, tetapi usiamu sudah bisa menjadikan kamu seorang istri, apa kamu tidak ingin menikah? Temanmu yang sama-sama lulus itu, rata-rata sudah membangun rumah tangga.  Apa kamu tidak ingin mengikuti mereka?, tanya Bapak menawarkan hal itu kepadaku.

"Pak, Bapak itu sedang menawarkan atau sedang menguji perasaan dan keberanianku?".

(sambil tertawa) " bagaimana kamu bisa mengatakan bapak menguji keberanianmu? Bapak hanya menawarkan sesuatu yang dinilai ibadah, apakah kamu tidak ingin beribadah dengan waktu yang lama? Menikah itu adalah ibadah terlama yang pastinya kamu sudah mendapat ilmunya di pesantren dulu". Jelas bapak.

"iya pak, tapi apa bapak gak mau nanyain keinginan aku dulu, aku mau apa setelah ini, malah nanyain mau nikah. Lah aku kan udah pernah bilang ke bapak, kalau aku tu pengen kuliah dulu kalau sudah lulus sekolah, gak mau yang lain pak. Lagian untuk menikah, aku belum kepikiran tentang itu, aku masih 18 tahun pak. Rasanya aku harus banyak belajar mengenal dunia dulu, baru nanti sudah tiba waktunya aku akan menikah dengan lelaki pilihan Allah", jelasku dengan cerewet.

" Hahaha, iya, iya bapak mengerti, bapak kan cuma menawarkan, kok anak bapak malah jadi semakin cantik sih, kalau sudah berdebat begini. Ya sudah, kamu mau kuliah dimana? apa perlu bapak hubungi teman-teman bapak, supaya kamu bisa masuk ke universitas di sana?", ledek bapak kepadaku.

"enggak pak, aku ingin berusaha sendiri dulu, aku ingin nunjukin ke bapak, kalau aku tu bisa mendapatkan sesuatu dari usahaku. Ya, aku makasi si ke bapak, karena udah mau bantuin, tapi mana kerasa paak, pengorbanannya kalau gitu", jelasku yang sangat semangat saat itu.

Aku dan bapak memang sering berdebat tentang apapun, bagiku bapak itu adalah guru pribadi yang selalu menjawab segala tanyaku dan menjawab keraguanku. Apapun masalah yang aku hadapi, aku pasti berdiskusi kepada bapak. 

Sesampainya waktu kuliah, alhamdulillah aku diterima di universitas yang aku inginkan. Tentunya dengan usahaku sendiri. Aku menunjukkannya kepada bapak, sambil meledek kegirangan. Bapak dan Ibu sangat terlihat bangga, tapi juga menyiratkan kecemasan. Aku mulai kuliah di unversitas yang berada di kota. Jarak kota dengan desaku lumayan jauh, sekitar 3 jam perjalanan. Namun begitu, bapak dan ibu selalu memantauku lewat teman-teman mereka yang tersebar. Heh, layaknya mata-mata, ibu dan bapak pasti tau aku kemana saja seharian. Sedikit terlihat posesif sih, tetapi aku selalu melihatnya dari kebaikan serta rasa khawatir dari kedua orangtuaku. Ya, Aku merasa itu adalah hal yang wajar, selagi pelapor-pelapor itu tidak mengadukan fitnah dan juga tidak menganggu keyamananku. 

Setelah setahun masa kuliah, terasa sekali hadir orangtua sangat kubutuhkan. Ternyata selama ini, aku yang tidak pernah jauh dari mereka, membuat hatiku sepi, saat berada di kota. Tetapi, karena teman-teman sholehaku selalu menyemangati, aku bisa melewati kerinduan itu dengan baik. Dinda, Putri dan Tika, tiga sahabat yang sering disebut DPT* oleh orang-orang kampus. Dinda dan Tika memiliki sifat yang sama denganku, kamipun sama-sama lulusan dari pesantren Al-Azam. Kami mempunyai sifat dan cita-cita yang sama, dan tujuan kamipun mirip-mirip walaupun ada sedikit perbedaan. 

Suatu hari, kami ditugaskan mencari data ke rumah sakit untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen. Kami kebetulan berada di kelompok yang sama, ditambah Dimas dan Rasyid. Pagi itu, Rasyid yang menjadi ketua kelompok menyerahkan surat izin ke kepala Puskesmas, untuk melakukan pengambilan data. 

"Assalamualaikum bu, kami dari Kampus X tingkat II mau melakukan pengambilan data dini tentang jenis-jenis vaksin di Rumah Sakit  ini bu. Jadi kami mau lapor dulu ke ibu, ini surat dari kampusnya bu", jelasnya kepada ibu kepala Bagian Imunisasi di rumah sakit tersebut.

"Oo, baik, silahkan kalian nanti lapor ke bagian Imunisasi, nanti disana itu, ada kepala ruangnya, serahkan surat ini, dan kalian boleh melakukan pengambilan data".

Kami berlima segera meluncur ke bagian imunisasi untuk memulai tugasnya. Dimas dan Rasyid terlihat serius memilah vaksin yang terpakai maupun yang baru. Dinda, Aku dan Tika juga mulai mencatat apa-apa saja vaksin yang ada di kotak tersebut. Namun, ditengah pekerjaanku, perhatianku terpecah oleh penampakan seorang dokter gagah yang membuat konsentrasiku buyar.

Aku melihatnya seakan terpana, mataku dan matanya bertemu, tetapi ada rasa yang berbeda saat itu yang tidak pernah ku temui sebelumnya. Seperti ada getaran yang membuat mataku tak berhenti menatap. Saat tersadar, aku berpaling dan terkejut dengan diriku sendiri yang bisa begitu berani menatap mata seorang pria. 

Dia adalah dokter Aldi, seorang dokter yang masih muda, namun begitu perhatian. Beliau tampak begitu baik kepada perawat-perawat di rumah sakit itu. Sepertinya dia sangat terkenal, karena keramahan yang bisa kulihat saat padangan pertama. Hal itu membuatku kalap dan tidak mengerti apa yang kurasakan, aku begitu menyukai tingkah lakunya yang gagah, sehingga membuatku terkadang tersenyum diam-diam. Dinda dan Tika ternyata memperhatikanku sedari tadi, ia melihatku senyum-senyum melihat dokter Aldi.

"Hayolo, liatin apa?", tanya Dinda, jail.

(Terkejut) " Liat apa, ini vaksin, banyak banget, kita mesti nyatet buru-buru, sebelum dimarahin sama perawat disini, karena ganggu keyamanan mereka", jawabku menghindar.

"Heleeeh, lu kira kami geblek apa, dari tadi tu ya, gue ama Dinda liatin lu senyam-senyum sambil sesekali liatin tu dokter ganteng, lu kesemsem kaaan? iyalah, gue juga sih, hahahah", tukas Tika yang sangat senang mengejekku.

"Apa sih kalian, Tika, Dinda, ini aku tu lagi nulis ya, aku lagi serius nih, buruan, ntar waktu kita habis, lu berdua mau tinggal disini seharian?".

"Yee, temen kita udah mulai dewasa Diiin, dia mulai ngeliat cowok Diin, gue bangga, gue seseneng itu Diin, Diiin, pegangiiin gue, ntar gue bengek", goda Tika.

Hari itupun berakhir, tugas yang kami laksanakan juga berhasil, mencatatat nama-nama vaksin. Tetapi, ada hal yang membuatku masih bertanya-tanya. Apakah yang aku rasakan saat melihat dokter Aldi di dalam rumah sakit itu adalah perasaan yang nyata, atau hanya sebuah rasa mengagumi karena melihat sifat seorang lelaki. Aku sebagai perempuan yang belum pernah jatuh cinta, semakin penasaran. Hal itu membuatku berani untuk mengejar satu misi, yaitu berkenalan dengan si Dokter. 

**** 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 18, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Ketika Cinta DatangStories to obsess over. Discover now