Ziva POV
“Memiliki impian setinggi-tingginya adalah tujuan hidup Ziva.” – Gotham Pane –
Hidup hanya sekali, begitu pun mati juga sekali. Jika bermimpi tak benar-benar tinggi, maka rugilah kau anak muda! Begitulah adanya pikiran gue, seorang Ziva dengan segala keinginan untuk menjadi lebih baik setiap detik berganti.
Gue Ziva si gadis ceria, periang, ramai, heboh begitu kata orang-orang terdekat. Mereka bilang, fisik gue sudah bagus, rambut panjang kecokelatan, mata indah dengan bulu mata yang lebat, begitu juga alis tebal gue tanpa pencil alis apalagi sulam alis, big NO!
Impian gue? Banyak!
Mau jadi orang kaya, itu pasti!
The most wanted!
Punya kekasih hati ganteng, pintar, tajir!
Keliling dunia yang sudah gue mimpikan sedari orok!
Kebanyakan gak sih gaes? Sudahlah tak apa, namanya juga ngarep bin mimpi, tak apa dong ya. Oiya ternyata semua itu tak semudah yang gue bayangkan. Bayangin aja, eh gak usah deh biar gue yang pusing sendiri.
Gue cuma mau cerita, lo bayangkan saja pengen banget dari dulu gue bisa kuliah di LN kayak orang-orang pintar itu, pengen banget punya pacar yang pengertian tanpa kepo sama kehidupan gue, pengen banget!
Tapi yang gue dapat apa?
Cowok nyebelin yang sialnya gue cinta banget sama dia, walau entah bagaimana nanti akhir dari kisah kami.
Pengen banget kuliah di LN, tapi syukur deh pilihan gue kuliah di kota pelajar gak buruk kok. Pasalnya, setelah gagal kuliah di LN gue memutuskan untuk kuliah di Yogya, hanya demi bisa sering-sering berkelana di Jawa yang keindahannya tak dapat dipungkiri.
Lo semua bayangkan, di sana juga gue ketemu cowok impian yang nyebelin tapi sayang banget sama dia. Nanti deh gue ceritakan.
***
Pagi ini gue udah segar banget, walau belum mandi. Kalian jangan tanya soal mandi, Yogya dingin cuy!
Gue sih rencananya mau jogging syantik di sekitaran indekos, sekalian juga persiapan mau mendaki Merapi sama teman-teman baru selama di Yogya ini. Semua udah kita rencanakan sebaik mungkin, bahkan hingga kemungkinan yang akan terjadi.
Amit-amit deh sampai kesasar atau sakit. Makanya gue dan teman-teman harus menyiapkan diri semaksimal mungkin.
Merapi adalah salah satu dari deretan impian indah gue. Bisa sering-sering mendaki Merapi meski dengan berbagai kendala. Gue pun dengan semangat selalu menjalani satu per satu takdir hidup ini, tak lupa tersenyum tentunya.
Jadi anak teknik memang merupakan impian gue, sedari kecil melihat kesibukan orang-orang gue yang suka berpusing-pusing ria dengan buku-buku teknik. Beruntungnya gue bisa mewujudkan impian gue menjadi bagian dari anak teknik.
Well, semua benar-benar gue nikmati beberapa bulan ini setelah resmi jadi mahasiswi di salah satu kampus keren Indonesia.
“Ziv,” panggil Neira mengintrupsi langkah kaki gue masuk kamar.
“Napa Ra?” tanya gue. “Lo kangen gue?” ngomong begitu ke Neira bikin gue ngakak mampus.
Tampak Neira hanya menggeleng-gelengkan kepala, untung dia sudah khatam dengan ke- absurd – an dikap seorang Ziva.
“Tadi ada yang nyariin kamu Ziv,” ucap Neira yang kalau ngomong selalu sopan, jauh banget sama gue.
“Siapa?” tanya gue nyaris kepo.
“Gak tahu aku namanya Ziv,” ucap Neira tampak tak enak hati. “Maaf Ziv, pas aku mau tanya orangnya keburu pergi.”
Tambah bingunglah gue, ada yang nyariin tapi malah pergi tanpa meninggalkan pesan, kan aneh!
Gue melirik Neira yang masih mematung menanti gue membuka suara lagi, “Ya sudah Ra, gak apa mungkin orangnya lagi gundah gulana,” ucap gue sembari terkekeh.
Neira pun ikut tertawa atas lelucon receh gue.
Sampai di kamar, kalau boleh jujur gue masih penasaran siapa yang nyari gue. Padahal gue ingat-ingat gak ada janji dengan siapa pun. Ketimbang mati penasaran, gue memutuskan untuk bersih-bersih dan ke kampus.
Nasib mahasiswi baru, belum banyak teman. Pas ke kantin gue ngerasa ngeblank aja gak ada yang dikenal. Beruntung gue lihat Yayan anak Industri yang kocak abis bikin ngakak terus kalau lagi sama doi.
“Yan,” gue panggil lantang banget.
Meja sebelah Yayan juga ngelirik gue saking kencangnya suara gue.
Bukannya jawab, Yayan cuma nyengir menampakkan deretan giginya, “Woy Ziv, sini lo,” panggil Yayan yang membuat gue bahagia tiada tara.
“Eh sorry to say nih, gue gak ganggukan?” tanya gue ke Yayan dan tiga temannya.
Semesta lagi baik banget sama gue, mereka hanya ngangguk dan senyum. Gue yakin itu kode banget gak keberatan gue duduk bareng mereka.
“Santai aja Ziv,” ucap temannya Yayan yang gue tahu namanya Tio.
Gue emang gak dekat sama si Tio-Tio itu, Cuma sering lihat Yayan bareng dia, jadilah gue tahu namanya yang bagus itu sesuai dengan wajah tampannya, eh. Yaelah Ziv, mata dan mulut! Batin gue berkata.
“Makasih ya, gak lihat yang gue kenal,” ucap gue, yakin banget mereka sebenarnya gak butuh ucapan itu. “Untung tadi lihat Yayan, udah deh kesini aja,” imbuh gue sembari terkekeh.
Kompak mereka ikut tertawa.
Siang begini suasana kantin memang selalu ramai. Mahasiswi yang suka mager atau betah di kampus macam gue pasti akan memilih makan siang di kantin. Selain variasinya juga banyak, harganya juga aman di kantong.
“Ya ampun Ziv, gue cariin dari tadi lo di sini,” cerocos Rara yang bikin gue sontak menoleh.
Rara salah satu sahabat perempuan gue, sosok gadis Jawa yang cerewetnya di atas rata-rata. Meski begitu sayang gue ke dia gak kaleng-kaleng.
“Lo aja tadi gue cariin udah musnah dah,” ucap gue sarkas.
“Enak aja lo ngatain gue musnah Ziv,” sembur Rara yang gue jawab dengan gelak tawa.
Sementara Yayan dan tiga temannya hanya menjadi penonton pertikaian dua sahabat yang memang sama cerewetnya.
“Ra, duduk dulu ngapa,” ucap Yayan akhirnya membuka suara.
“Ih, gue masih suasana sebel sama Ziva,” keluhan Rara membuat gue masih tertawa.
“Sama aja deh lo berdua,” ujar Yayan.
“Beda dong!”
Sontak Yayan tertawa mendengar gue dan Rara kompak mengucapkan kalimat singkat itu.
“Tuh, ngomong aja sudah barengan gitu,” ucap Yayan yang gue balas dengan delikan.
Usai pertikaian yang mengakibatkan gue jadi nambah es teh kantin, kami pun pulang ke habitat masing-masing. Gue yang harus jogging sore masih dalam persiapan mendaki Merapi, yeah sekeras itu niat dan usaha gue dengan alasan yang benar, supaya saat perjalanan gue gak gampang capek dan tetap fit.
***
Alhamdulillah, senang banget rasanya bisa berada di puncak Merapi. Ya ini adalah salah satu impian gue bisa sampai ke puncak Merapi. Dapat gue katakan, perlahan impian gue satu per satu terwujud.
“Senang lo kan?” tanya Emil teman gue yang kini juga ikut ke merapi.
Gue hanya menampakkan rona bahagia tiada tara. Bagaimana tidak, wajah gue benar-benar tak bisa menutupi kebahagiaan yang sedang gue rasakan. Sungguh senang bisa sampai ke sini, Gunung Merapi.
Setelah berhari-hari persiapan secara fisik, akhirnya gue dan lima teman berangkat melalui jalur Selo. Tepat pukul Sembilan malam kami beranjak meninggalkan basecamp menuju puncak, ya karena tujuan kami memang puncak, harus sampai ke puncak.
Hal itu yang sangat gue tekankan, bahwa harus sampai Puncak.
Semesta sedang sangat memanjakan gue yang memang berusaha untuk mewujudkan satu per satu impian.
YOU ARE READING
Semesta bersama Ziva
RomanceSemesta bersama gue dengan segala keceriaan sepanjang hari. Persahabatan yang tulus yang gue miliki sungguh membuat hati ini tak ingin meninggalkan tempat kami bertemu, bersama. Kisah cinta gue yang luar biasa menjungkir balikkan hidup, meski begitu...
