bulan ke dua pada warsa kabisat, tepatnya di bilangan langka yang hanya terjadi sekali dalam setiap tahun ke empat. timbul perasa tersemat dalam bilik yang sengaja disekat. bersembunyi di balik kata sahabat, pengecut hebat, penghianat.
saling menggenggam, berbagi keluhan, berdua menghabiskan akhir pekan. boleh jadi meraup semua itu cuma angan. namun kalau sekedar menyapa boleh, kan?
"namisha."
"hai, jun." dia tersenyum ceria, seperti biasa. dan saya semakin suka.
"darimana mau kemana?"
namisha mengumbar gestur berpikir, "dari minimarket situ, beli camilan. kamu darimana?"
"aku dari lapangan habis basket, sekarang mau pulang."
kemudian konversasi kami teruntai sembari tungkai terus merajut langkah, menapak satu demi satu susunan batu trotoar dibawah angkasa swastamita dihias merah.
mengikis jarak dengan rumah seperti ini bersama namisha, tak pernah terpikir sebelumnya. boleh jadi semesta sedang berbaik sangka, atau mungkin memang mengijinkan saya mendekati namisha.
"eh jun, kamu futsalnya ngga bareng beomgyu?"
klausanya itu sedikit menusuk, menyambar kardia hingga rusak sebab terberai buruk. patah, sudah remah.
"jun, kok diem? lagi kepikiran sesuatu?"
"engga kok na." bohong, saya menipu dia lagi dan terus menerus. bahkan bila sampai kardia saya hangus. biar saya saja yang pupus dalam tulus.
"namisha," panggil saya.
"iya?"
"udah ngga ada kesempatan lagi ya?"
ia mengulum labium, tersenyum. sepertinya terpaksa semata agar kami tak terlampau canggung.
"JUNNNNNN, eh- hai namisha."
gila! kenapa pemuda itu harus datang sekarang?! semesta, kau sedang mengajak saya bercanda, ya? baru saja saya merasa suka cita lantas segera kau jatuhkan pula.
kapan berakhirnya? sampai kapan saya hanya akan jadi bayang di antara mereka? kejam sekali rupanya, perjuangan yang lebur sia-sia.
"hai, beomgyu." gadis ayu itu mengulas senyum malu. di sini saya meremat relung pun berpura-pura menjadi batu.
"kok bisa tiba-tiba bareng yeonjun?"
"iya tadi ketemu di dekat minimarket."
sialan, memangnya tetangga tidak boleh barengan?! sudahlah, jagat raya yang gemar bergurau akan saya. tertawakan saja saya yang sekarang cuma bisa diam memandang tapak berbalut alas rona berma. yang puas, ya!!
"kalian duluan aja, aku mau mampir ke rumah temen sebentar." kata saya akhirnya, tak kuat berlama-lama bungkam kala mereka malah sibuk berbagi prosa.
"loh, tadi kan kita habis main basket ba-"
"temen gua bukan lu doang!" ketus saya, menebang asumsinya yang belum rampung disuara. sedikit dongkol sebenarnya tapi air muka saya malah mengukir ekspresi berbeda. saya tertawa. dasar pandai opera!!
"yaudah kalau gitu kami duluan ya, jun." kali ini namisha yang menggetar pita suara. lantas mereka berlalu, menyelaras irama telapak kaki berdua. dilingkup jingga yang membias jutaan payoda.
saya, lagi-lagi tertinggal. kesal, sial, sesal.
sudah saya bilang sejak awal. saya, beomgyu dan namisha hanya sahabat. saya ialah pengecut hebat, dan saya si penghianat. menyukai namisha saat telah jelas bahwa ia dan beomgyu saling terpikat.
saya terlambat dan kini kami bersekat.
Fin
